Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Universitas Syiah Kuala (USK) dan Politeknik Kesehatan Karya Husada Yogyakarta (PKKHY) mengembangkan model pemulihan kesehatan mental anak pascabencana di Aceh. Riset kolaboratif ini dimulai sejak 19 â 26 Juli 2026 dengan melibatkan 1.300 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Aceh Tamiang. Melalui pendekatan mixed methods, penelitian ini dirancang untuk menghasilkan model intervensi psikososial berbasis komunitas yang sesuai dengan karakteristik sosial, budaya, serta kebutuhan masyarakat Aceh.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Ketua Tim Peneliti, Dr Sumarti Endah, PMM menyampaikan bahwa penelitian ini merupakan bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab berbagai persoalan kesehatan masyarakat melalui pendekatan ilmiah yang berbasis bukti (evidence-based). Jumlah responden yang besar diharapkan mampu memberikan gambaran yang komprehensif mengenai kondisi kesehatan mental anak pascabencana serta berbagai faktor yang mempengaruhinya. “Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dalam penguatan layanan kesehatan mental anak pascabencana, sekaligus menjadi referensi dalam pengembangan program promotif dan preventif yang berkelanjutan,” ucapnya, Selasa 4 Agustus 2026.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Kegiatan ini merupakan hibah penelitian skema Penelitian Kerjasama Perguruan Tinggi (PKPT) yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Mengusung tagline SAMUDRA (Support for Adaptive Mental Health using Disaster Recovery Approach), penelitian ini merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepahaman (MoU) antara USK dan PKKHY. Dekan Fakultas Keperawatan, Prof Dr Teuku Tahlil, S.Kp., M.S selaku Anggota Tim Riset ini mengatakan bahwa pemulihan kesehatan mental anak tidak bisa dilakukan hanya melalui layanan klinis, tetapi harus melibatkan keluarga, sekolah, dan komunitas sebagai sistem pendukung utama anak pascabencana. Sebab dirinya menilai, anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan mengalami dampak psikologis jangka panjang setelah bencana. Karena itu, pendekatan pemulihan harus hadir sedekat mungkin dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Mengapa ini Penting?
Aceh memiliki pengalaman panjang menghadapi berbagai bencana, sehingga pengembangan model pemulihan kesehatan mental berbasis komunitas menjadi sangat penting untuk memperkuat ketahanan psikososial masyarakat di masa depan. Prof. Tahlil menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal dalam meningkatkan kemampuan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana dan memulihkan kondisi mental anak setelah bencana. “Karena itu, kami berharap hasil riset ini tidak berhenti sebagai publikasi akademik semata, tetapi menjadi panduan nyata dalam penanganan kesehatan mental anak pascabencana di Aceh dan dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia,” katanya.
Penutup
Dengan demikian, USK dan PKKHY telah mengambil langkah penting dalam mengembangkan model pemulihan kesehatan mental anak pascabencana di Aceh. Riset ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan kemampuan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana dan memulihkan kondisi mental anak setelah bencana. Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa anak-anak Aceh memiliki kesempatan yang lebih baik untuk menghadapi tantangan dan mencapai kesuksesan dalam masa depan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://aceh.tribunnews.com/nanggroe/1037287/usk-dan-pkkhy-kembangkan-model-pemulihan-mental-anak-pascabencana-di-aceh, without altering the facts of the original article.