**Ibu Korban Bullying di Pemalang Sesalkan Respons Lambat Sekolah, “Mengapa Mereka Tidak Bertindak?** **Momen Penentu di Menit Akhir** Korban perundungan (bullying) yang tragis terjadi di SMPN 4 Randudongkal, Pemalang, Jawa Tengah. Salah satu penghuni rumah di Jalan Semingkir, Randudongkal, Pemalang, Ahmad Alfian (13), meninggal dunia pada beberapa hari lalu. Alfian diduga menjadi korban perundungan oleh sejumlah rekannya. **APA YANG TERJADI** Ahmad Alfian (13), siswa kelas 7 SMPN 4 Randudongkal, mengalami perundungan oleh sejumlah rekannya. Beberapa hari sebelum meninggal, Alfian menunjukkan chat Whatsapp (WA) dari teman sekolahnya yang mengancam akan mengeroyok. Epi Priyanti, ibu Alfian, menghubungi anak yang mengirim pesan ancaman tersebut. Anak tersebut merespons dan menyebut bahwa Alfian menantang berkelahi. Namun, permasalahan tidak berlanjut. Dua hari kemudian, pada 24 Juli, Alfian kembali mendapat pesan ancaman dari anak yang berbeda dari pengirim pesan pertama. Epi langsung menemui anak tersebut dan menyelesaikan permasalahan. Tapi, keesokan paginya, Sabtu (25/7/2026), Alfian kembali mendapat pesan untuk menemui di kamar mandi sekolah. Di situ, ternyata ada anak-anak yang sebelumnya mengirim pesan dan anak lainnya juga. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** 1. Alfian adalah siswa kelas 7 SMPN 4 Randudongkal yang menjadi korban perundungan. 2. Anak-anak yang melakukannya menggunakan media chat Whatsapp (WA). 3. Epi Priyanti, ibu Alfian, menghubungi anak yang mengirim pesan ancaman dan menyelesaikan permasalahan. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Korban perundungan yang tragis ini menunjukkan bahwa perundungan masih menjadi masalah serius di lingkungan pendidikan. Respons lambat dari sekolah dapat memperburuk situasi dan membuat korban merasa tidak didukung. Epi Priyanti mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui adanya keamanan di sekolah dan tidak ada yang melindungi anaknya. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Ibu Epi Priyanti sangat menyesal dengan respons lambat sekolah dalam menangani kasus perundungan anaknya. “Mengapa mereka tidak bertindak?” tanya Epi dengan nada sedih. Kasus perundungan ini menunjukkan bahwa perlu adanya kebijakan yang lebih tegas dan transparan dalam menangani kasus perundungan di sekolah. Sekolah harus memastikan bahwa anak-anak merasa aman dan didukung dalam lingkungan pendidikan. Dengan adanya kasus perundungan ini, kita dapat belajar bahwa perlu adanya kesadaran yang lebih tinggi tentang pentingnya keselamatan dan kenyamanan anak-anak di lingkungan pendidikan. Sekolah harus memastikan bahwa anak-anak merasa aman dan didukung dalam lingkungan pendidikan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jateng.tribunnews.com/ex-polwil-pekalongan/1262219/ibu-korban-dugaan-bullying-di-pemalang-sesalkan-respons-lambat-sekolah, without altering the facts of the original article.