**Diculik Korea Utara, Tentara AS Dipaksa Menikahi Wanita Lokal** Pada suatu malam yang hangat pada Agustus di Pulau Sado, Jepang, kehidupan Hitomi Soga yang berusia 19 tahun berubah selamanya. Dia diculik oleh tiga laki-laki yang muncul dari belakang, dan kemudian dibawa ke Korea Utara. Hitomi adalah salah satu korban penculikan rahasia yang disponsori pemerintahan negara itu selama tahun 1970-an dan 1980-an. **Momen Penentu di Menit Akhir** Hitomi diculik pada 1978, dua tahun setelahnya, dia dipaksa menikahi tentara AS yang membelot, Charles Jenkins. Charles telah melewati Zona Demiliterisasi karena percaya bahwa dia akan dikirim untuk berperang di Vietnam. Saat itu dia menyerah kepada prajurit Korut, dan yakin mereka akan membawanya kembali ke AS. Menjodohkan pasangan dari dua musuh terbesar Korea Utara, Jepang dan AS, secara publik merupakan propaganda yang efektif bagi rezim yang memimpin di Pyongyang. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** – Hitomi adalah salah satu korban penculikan rahasia yang disponsori pemerintahan Korea Utara selama tahun 1970-an dan 1980-an. – Dia dipaksa menikahi Charles Jenkins, seorang tentara Amerika Serikat yang membelot ke Korut. – Charles telah melewati Zona Demiliterisasi karena percaya bahwa dia akan dikirim untuk berperang di Vietnam. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Pemerintah Korut dituding menggunakan para korban penculikan sebagai apa yang disebut “buku teks hidup”. Melalui penculikan ini, agen intelijen Korut bisa mempelajari bahasa dan perilaku masyarakat Jepang. Tujuan akhirnya adalah memudahkan penyusupan para mata-mata tersebut ke Jepang. Pemerintah Jepang mengidentifikasi setidaknya terdapat 17 warga mereka yang diculik antara 1977 dan 1983. Namun mereka yakin jumlahnya bisa lebih tinggi dari angka itu. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Selama dua tahun pertama, Hitomi ditahan di barak militer. Dia tidak tahu di mana ibunya berada dan tidak pernah bertanya kepada para penculik mengapa dia dibawa. Hitomi saat itu yakin para penculik tidak akan memberi tahu fakta sebenarnya. “Saya pergi ke luar barak dan melihat langit, bulan, dan bintang-bintang. Saya menangis memikirkan keluarga saya di Jepang dan bertanya-tanya kapan saya akan bertemu mereka lagi,” ujar Hitomi. Meskipun diliputi rasa takut dan terisolasi, Hitomi berusaha tetap berpegang pada harapan bahwa suatu hari nanti dia akan bebas. “Saya selalu menyimpan itu di dalam hati saya. Secercah harapan bahwa semua ini akan berakhir, dan harapan itu tidak pernah hilang,” tuturnya. Akhirnya, pada 1980, para penculik mengizinkan Hitomi meninggalkan barak. Hitomi diberitahu bahwa dia harus menikahi Charles Jenkins. Mereka memiliki dua anak perempuan. Charles, kata Hitomi, membuat mainan dan perabot untuk anak-anak mereka. “Rasanya alami dan saat paling bahagia saya adalah ketika anak-anak kami lahir. Dia sangat baik kepada mereka dan benar-benar merawat mereka. Itulah yang saya sukai darinya,” kata Hitomi. Pasangan itu tidak memiliki pekerjaan tetap.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cn8n7nnj02go?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.