Perjalanan riset Suhaimi, yang dimulai sebagai peneliti pariwisata bahari, kini menorehkan sejarah akademik di Universitas Bandar Lampung (UBL). Setelah lulus ujian terbuka promosi doktor pada Selasa, 18 Agustus 2026, ia menjadi doktor keempat yang berhasil memetik gelar di Program Doktor Manajemen kampus tersebut. Prestasi ini menegaskan komitmen UBL dalam menghasilkan tenaga akademisi yang mampu berkontribusi pada pengembangan destinasi wisata berkelanjutan, khususnya di wilayah pesisir Indonesia.
Awal Karier Peneliti Pariwisata Bahari
Suhaimi memulai kariernya dengan fokus pada pariwisata bahari, menjelajahi potensi Teluk Lampung sebagai destinasi snorkeling. Melalui studi lapangan, ia mengumpulkan data tentang perilaku wisatawan, interaksi mereka dengan lingkungan laut, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan serta loyalitas. Hasil penelitian awal ini menyoroti pentingnya pengalaman menyelam yang memuaskan bagi pengunjung, namun juga menandai adanya kebutuhan akan pemahaman yang lebih dalam mengenai nilai destinasi dan kesadaran lingkungan.
Keberhasilan studi tersebut membuka pintu bagi Suhaimi untuk melanjutkan ke jenjang PhD. Ia memilih Program Doktor Manajemen di UBL karena visi kampus yang menekankan penelitian berorientasi kebijakan dan praktik berkelanjutan. Selama masa PhD, Suhaimi mengembangkan metodologi yang lebih komprehensif, memadukan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk menggali dinamika perilaku wisatawan setelah kunjungan.
Disertasi yang Menggugah
Disertasi Suhaimi berjudul âModel Pembentukan Perilaku Pascakunjungan Wisatawan Snorkeling: Peran Willingness to Support a Destination dan Environmentally Responsible Behavior dalam Perspektif Manajemen Destinasi Berkelanjutanâ. Dalam karya ini, ia memperkenalkan Dual Pathway Model, yang menekankan dua jalur utama dalam pembentukan perilaku pasca kunjungan: jalur penguatan nilai destinasi dan jalur kesadaran lingkungan. Model ini menunjukkan bahwa loyalitas wisatawan tidak sekadar didorong oleh pengalaman menyenangkan, melainkan juga oleh nilai yang mereka asimilasikan tentang destinasi dan kesadaran mereka untuk menjaga kelestarian laut.
Metodologi yang digunakan melibatkan survei online kepada ratusan wisatawan snorkeling di Teluk Lampung, serta wawancara mendalam dengan pengelola destinasi dan pelaku industri pariwisata. Hasilnya menunjukkan bahwa wisatawan yang memiliki tingkat willingness to support a destination (kesiapan mendukung destinasi) serta perilaku bertanggung jawab terhadap lingkungan cenderung lebih setia dan lebih sering merekomendasikan destinasi kepada orang lain. Data ini memberikan landasan empiris bagi pengelola destinasi untuk merancang strategi pemasaran dan pelestarian yang lebih terintegrasi.
Pengaruh Terhadap Kebijakan Pariwisata Berkelanjutan
Temuan Suhaimi telah memicu perbincangan di kalangan pembuat kebijakan dan praktisi pariwisata. Beberapa daerah di Lampung kini mempertimbangkan penerapan prinsip Dual Pathway Model dalam perencanaan destinasi, dengan menekankan edukasi pengunjung tentang nilai destinasi serta program pelestarian lingkungan. Misalnya, program âSustainable Snorkelingâ yang menggabungkan pelatihan snorkeling ramah lingkungan dan kampanye kesadaran tentang pentingnya menjaga ekosistem terumbu karang telah diadopsi di beberapa lokasi wisata bahari.
Di tingkat nasional, hasil penelitian ini juga menjadi referensi dalam penyusunan kebijakan pariwisata berkelanjutan. Lembaga pemerintah terkait mengutip studi Suhaimi dalam rencana strategis pariwisata 2030, menekankan bahwa pengelolaan destinasi tidak hanya memerlukan infrastruktur yang memadai, tetapi juga perlu membangun hubungan emosional dan nilai antara wisatawan dan destinasi.
Inspirasi bagi Generasi Akademisi
Keberhasilan Suhaimi menegaskan bahwa penelitian berbasis data lokal dapat memengaruhi kebijakan global. Sebagai doktor keempat UBL, ia menjadi contoh bagi mahasiswa dan peneliti muda yang ingin meneliti isu-isu pariwisata berkelanjutan. Banyak mahasiswa yang kini memilih topik penelitian yang meneliti hubungan antara perilaku wisatawan dan pelestarian lingkungan, menggunakan framework yang dikembangkan oleh Suhaimi.
Selain itu, UBL menambah beasiswa untuk penelitian pariwisata berkelanjutan, menandakan komitmen kampus dalam memproduksi ilmu pengetahuan yang relevan dengan tantangan lingkungan. Program ini juga memfasilitasi kolaborasi dengan lembaga penelitian internasional, membuka peluang bagi para peneliti Indonesia untuk bersaing di panggung global.
Kesimpulan: Dampak Jangka Panjang
Perjalanan Suhaimi, dari peneliti pariwisata bahari hingga doktor keempat UBL, menunjukkan bagaimana riset akademik dapat bertransformasi menjadi kebijakan praktis yang mendukung pengembangan destinasi berkelanjutan. Model Dual Pathway yang diusulkan tidak hanya memperkaya teori manajemen destinasi, tetapi juga memberikan alat bagi pengelola destinasi untuk menciptakan pengalaman wisata yang memotivasi pengunjung untuk menjadi duta lingkungan. Dampak ini tidak hanya terbatas pada Teluk Lampung, melainkan juga memberikan contoh bagi destinasi bahari lainnya di Indonesia dan bahkan di tingkat global.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://lampung.tribunnews.com/lampung/1216242/riset-pariwisata-bahari-berkelanjutan-mengantar-suhaimi-menjadi-doktor-keempat-ubl, without altering the facts of the original article.