Krisis di FIFA: Gianni Infantino Terancam Lengser, Suporter Desak Reformasi Total
Berita Hari Ini – 21 Agustus 2026 | Dalam perkembangan yang mengguncang dunia sepak bola, Presiden FIFA Gianni Infantino menghadapi ancaman serius terhadap posisinya. Tiga konfederasi utama, yaitu UEFA, AFC, dan CONCACAF, sedang mempertimbangkan untuk mengajukan mosi tidak percaya yang dapat mengakhiri kepemimpinannya. Langkah ini mencuat setelah Infantino mengusulkan penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta, sebuah rencana yang menuai kritik tajam dari banyak pihak.
Menurut sumber terpercaya, proposal kontroversial ini telah menyebabkan ketidakpuasan mendalam di kalangan konfederasi regional, yang merasa diabaikan dalam proses pengambilan keputusan. Jika mosi tidak percaya ini benar-benar dilaksanakan, itu akan menjadi preseden baru dalam sejarah FIFA, yang belum pernah mengalami pemungutan suara semacam itu terhadap presiden yang sedang menjabat.
“Tidak ada jalan keluar,” kata salah satu sumber yang meminta namanya dirahasiakan. “Dia harus pergi secara damai dengan tidak mencalonkan diri lagi pada Maret, atau melalui jalur yang lebih keras,” tambahnya, mengacu pada potensi pemungutan suara.
Di tengah ketegangan ini, para suporter sepak bola juga mengambil inisiatif dengan meluncurkan petisi daring yang menuntut Infantino mundur. Petisi ini muncul sebagai reaksi terhadap kritik yang menyatakan bahwa rencana Infantino untuk melibatkan investor swasta dalam pengelolaan turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia pria dan wanita, adalah tindakan yang tidak dapat diterima. Dalam pernyataan resmi, aliansi kelompok suporter menegaskan, “Upaya memalukan oleh Presiden FIFA untuk menjual Piala Dunia kepada investor swasta telah mengungkap pengkhianatan yang tidak akan pernah dilupakan oleh dunia sepak bola.”
Situasi semakin rumit dengan keberatan yang diajukan oleh Asosiasi Sepak Bola Qatar (QFA) terhadap surat terbuka yang ditandatangani oleh AFC, UEFA, dan CONCACAF. QFA mengklaim bahwa mereka tidak dilibatkan dalam konsultasi sebelum surat tersebut diterbitkan, dan ini menambah ketegangan antara Qatar dan AFC.
Dalam konteks ini, UEFA juga mengisyaratkan bahwa mereka telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino dan bahkan mengancam akan memboikot ajang-ajang resmi FIFA. Meskipun Infantino masih mendapatkan dukungan dari beberapa negara, terutama di Afrika dan Amerika Selatan, gelombang kritik terus mengalir, semakin menekan posisinya.
Di tengah krisis ini, perhatian juga tertuju pada perkembangan kompetisi sepak bola Eropa, termasuk Liga Champions dan Liga Eropa yang sudah memasuki fase grup. Jadwal siaran langsung pertandingan sepak bola di Eropa selalu dinanti oleh penggemar, terutama di Indonesia, di mana liga-liga top Eropa memiliki penggemar yang sangat besar.
Dengan situasi yang terus berkembang, semua mata kini tertuju pada langkah selanjutnya yang akan diambil oleh FIFA dan Infantino. Apakah mosi tidak percaya akan terwujud? Atau akan ada reformasi yang lebih mendalam di tubuh FIFA? Hanya waktu yang akan menjawab semua pertanyaan ini.