Gempa M 3,6 Guncang Bantul dan Dampak Gempa 7,7 di NTT: Situasi Terkini
Berita Hari Ini – 22 Agustus 2026 | Gempa bumi bermagnitudo 3,6 mengguncang wilayah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Kamis sore, 20 Agustus 2026. Pusat gempa terletak sekitar 11 kilometer tenggara Bantul dan terjadi pada kedalaman 10 kilometer. Getaran gempa ini terasa hingga Kota Yogyakarta dan dilaporkan terjadi pada pukul 17:20 WIB.
Menurut informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan atau korban jiwa akibat gempa tersebut. Namun, BMKG terus memantau aktivitas seismik dan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang serta merujuk pada informasi resmi yang mereka sediakan.
Gempa Besar di NTT: Korban dan Kerusakan
Sementara itu, di Nusa Tenggara Timur (NTT), wilayah tersebut mengalami gempa yang lebih kuat, dengan magnitudo mencapai 7,7 pada 15 Agustus 2026. Menurut laporan, gempa ini menyebabkan banyak kerusakan parah dan korban jiwa. Hanya dalam beberapa hari setelah kejadian, tim Basarnas berhasil mengevakuasi tujuh korban luka berat menggunakan helikopter menuju RSUD Pratama Komodo, Labuan Bajo.
Setidaknya 914 rumah dilaporkan mengalami kerusakan berat, sementara 126 rumah rusak sedang dan 317 rumah rusak ringan. Selain itu, fasilitas publik seperti sekolah dan puskesmas juga terkena dampak, dengan 93 fasilitas pendidikan dan 36 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan. Hingga saat ini, ada 68 korban meninggal dunia yang terdata, sebagian besar berasal dari Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.
Kesaksian Warga
Warga di NTT, seperti Cypri dari Kabupaten Manggarai, menggambarkan betapa mengerikannya guncangan yang mereka alami. Menurutnya, guncangan berlangsung sekitar 8 hingga 10 detik, namun dampaknya sangat besar. “Kalau sampai 20 detik pasti Satu Flores ini rata,” ungkapnya, menunjukkan betapa seriusnya situasi saat itu.
Inovasi Konstruksi Tahan Gempa
Di tengah bencana ini, ada kabar baik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang telah mengembangkan rumah modular tahan gempa. Tiga unit purwarupa rumah tersebut tetap berdiri kokoh meskipun diguncang gempa dengan magnitudo 7,7. Teknologi yang diterapkan pada rumah ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan ketahanan bangunan di wilayah rawan bencana.
Perekayasa BRIN menjelaskan bahwa rumah-rumah ini dirancang dengan teknologi konstruksi yang mampu meredam getaran gempa, sehingga dapat melindungi struktur bangunan dan keselamatan penghuninya. Hasil pemantauan menunjukkan tidak ada kerusakan struktural yang signifikan pada bangunan ini.
Pentingnya Pemantauan dan Kesadaran Masyarakat
BMKG mencatat bahwa dalam sepekan terakhir, wilayah Indonesia mengalami aktivitas gempa yang cukup signifikan, dengan 45 kejadian tercatat. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan mengikuti perkembangan informasi resmi mengenai bencana alam.
Dengan situasi yang masih dinamis, penting bagi masyarakat untuk tetap tenang dan siap menghadapi kemungkinan gempa susulan. Selain itu, bantuan dan dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk membantu para korban dan memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat bencana ini.