Upaya Pemadam dan Warga Padamkan Api yang Lahap Kawasan Adat Sade Lombok
Peristiwa memilukan melanda salah satu cagar budaya paling tersohor di Indonesia. Kawasan pemukiman tradisional Desa Adat Sade yang berada di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, diterjang musibah kebakaran hebat. Kampung adat yang menjadi benteng pertahanan tradisi Suku Sasak ini mendadak mencekam saat si jago merah berkobar dan melahap deretan bangunan rumah adat secara agresif.
Aksi cepat, keberanian, serta solidaritas tanpa batas diperlihatkan oleh warga lokal bersama aparat gabungan dan Dinas Pemadam Kebakaran saat berjibaku memadamkan api. Di tengah ancaman kehancuran total atas warisan budaya yang telah bertahan selama ratusan tahun tersebut, panggung kemanusiaan dan semangat gotong royong menjadi benteng terakhir yang menyelamatkan Desa Adat Sade dari kerusakan yang jauh lebih parah.
Awal Mula Kobaran dan Kepanikan di Kampung Adat
Awal mula bencana terjadi secara sangat mendadak saat aktivitas warga di dalam kampung adat sedang berjalan normal. Titik api pertama kali terlihat membumbung tinggi dari bagian atap salah satu bale (rumah tradisional warga). Karakteristik utama arsitektur Desa Adat Sade yang memanfaatkan bahan-bahan alami—seperti atap dari tumpukan alang-alang kering, dinding dari anyaman bambu (bedek), serta tiang-tiang kayu—menjadi pemicu utama cepatnya api membesar.
Hanya dalam hitungan detik, api kecil yang semula menyala di bagian atap langsung membesar akibat menyambar material alang-alang yang sangat kering. Kepulan asap hitam pekat mulai membumbung tinggi ke udara, memicu suara teriakan histeris dan peringatan bahaya dari warga setempat. Kepanikan tak terhindarkan saat tiupan angin kencang khas kawasan pantai selatan Lombok Tengah mulai berembus, membawa percikan api dan melemparkannya ke atap-atap rumah adat lain yang berdiri saling menempel rapat.
Para wanita, anak-anak, dan lansia langsung dievakuasi keluar dari lorong-lorong sempit desa menuju area jalan raya yang lebih aman. Sementara itu, para pemuda dan pria dewasa di Desa Sade memilih bertahan di dalam kampung untuk mengambil tindakan darurat guna melawan kobaran api yang terus menjalar.
Perjuangan Swadaya Warga dengan Peralatan Seadanya
Sebelum armada pemadam kebakaran tiba di lokasi kejadian, warga Desa Adat Sade menunjukkan ketangguhan luar biasa. Momen-momen awal sebelum bantuan profesional datang menjadi fase paling kritis dalam menentukan seberapa luas dampak kerusakan yang akan terjadi.
Membentuk Rantai Manusia dan Memanfaatkan Sumber Air Terdekat
Secara spontan tanpa ada komando formal, para pemuda desa langsung membentuk rantai manusia (human chain) dari titik sumber air terdekat—seperti sumur warga, bak penampungan, hingga kran air umum—menuju lokasi titik api utama. Menggunakan ember plastik, baskom, jeriken, hingga selang air pemukiman, air disiramkan secara terus-menerus ke arah kobaran api yang sedang mengamuk.
Langkah tak kalah berani dilakukan oleh sebagian warga yang memanjat ke atap bangunan-bangunan yang belum terbakar. Menggunakan parang dan bambu panjang, warga secara nekat membongkar serta merobohkan susunan atap alang-alang di rumah-rumah sekitar yang berada di jalur pergerakan api. Metode pemutusan jalur bakar (firebreak) secara tradisional ini terbukti sangat krusial untuk menghentikan lidah api agar tidak melompati gang dan merambat ke zona pemukiman adat yang lebih luas.
Penyelamatan Benda Pusaka dan Bantuan Antarwarga
Di tengah pekatnya asap yang membatasi pandangan dan menyiksa pernapasan, aksi heroik ditunjukkan oleh warga yang menerobos masuk ke dalam rumah-rumah yang terancam untuk menyelamatkan barang-barang berharga. Alat tenun tradisional, stok kain tenun songket, hewan ternak seperti sapi dan kambing, hingga surat-surat berharga dan benda pusaka peninggalan leluhur berhasil dievakuasi ke luar kawasan pemukiman.
Solidaritas juga ditunjukkan oleh masyarakat dari desa-desa tetangga di sekitar Kecamatan Pujut. Melihat asap tebal membumbung di atas langit Desa Sade, ratusan warga dari luar desa berbondong-bondong datang membawa bantuan tenaga, wadah air, serta ikut membantu proses evakuasi warga dan barang-barang.
Kedatangan Bantuan Profesional dan Tantangan Medan
Kepanikan warga mulai terurai saat sirine armada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kabupaten Lombok Tengah berbunyi nyaring mendekati lokasi kejadian. Tak lama berselang, personel dari Polres Lombok Tengah, Kodim, Satpol PP, hingga tim Reaksi Cepat BPBD ikut diterjunkan ke lokasi untuk memperkuat aksi pemadaman.
Akses Jalan Sempit yang Menyulitkan Taktis Pemadaman
Meskipun armada pemadam telah tiba di lokasi secara cepat, tim petugas pemadam menghadapi kendala taktis yang sangat berat di lapangan. Tata ruang Desa Adat Sade dirancang dengan mempertahankan keaslian tatanan arsitektur masa lalu, di mana akses jalan di dalam kampung hanya berupa gang-gang sempit berundak yang terbuat dari susunan batu kali dan tanah.
Mobil unit pemadam berukuran besar sama sekali tidak dapat masuk menembus interior desa. Truk-truk damkar terpaksa berhenti di pinggir jalan raya utama depan pintu gerbang desa adat. Situasi ini menuntut petugas untuk bekerja ekstra keras dengan menyambungkan serta memanjangkan puluhan meter selang air melewati gang-gang sempit, menanjak, dan berbelok-belok demi bisa menjangkau titik pusat kebakaran di dalam desa.
Sinergi Pemadaman Taktis di Bawah Tekanan
Di bawah koordinasi komandan lapangan Damkar bersama personel TNI dan Polri, penyemprotan air dilakukan secara terarah. Petugas mengarahkan semprotan air bertekanan tinggi langsung ke inti kobaran api untuk memadamkan sumber utama, sementara unit selang lainnya digunakan untuk membasahi atap-atap alang-alang di sekeliling area kebakaran agar tidak ikut terulur panas (radiation heat).
Personel kepolisian dan TNI membagi tugas dengan mengamankan jalur evakuasi, mensterilkan lokasi dari kerumunan warga yang tidak berkepentingan, serta memandu pergerakan selang-selang air agar tidak tersangkut pada sudut-sudut bangunan kayu. Kerja sama yang padu antara teknik pemadaman modern petugas dan kearifan medan dari warga lokal membuat pergerakan api berhasil ditahan dan diblokir secara efektif.
Fase Pendinginan dan Penanganan Pascapadam
Setelah melewati perjuangan alot dan menegangkan selama beberapa jam, kerja keras kolektif tersebut akhirnya membuahkan hasil. Api berhasil dikendalikan dan dilokalisasi sehingga tidak menyebar lebih jauh ke area kompleks cagar budaya lainnya.
Proses Pendinginan (Cooling) yang Memakan Waktu
Setelah api utama padam, tugas petugas pemadam dan warga belum sepenuhnya selesai. Karakteristik atap alang-alang dan struktur kayu memiliki bahaya terselubung berupa bara api tersembunyi (hidden embers) di bawah tumpukan abu kering. Jika dibiarkan begitu saja, tiupan angin malam dapat dengan mudah memicu kembali percikan api (re-ignition).
Tim pemadam bersama warga menghabiskan waktu berjam-jam berikutnya untuk melakukan proses pendinginan menyeluruh. Petugas membongkar puing-puing kayu yang telah hangus dan terus menyiramkan air secara intensif ke seluruh area yang terbakar hingga dipastikan tidak ada lagi asap atau titik panas (hotspot) yang tersisa.
Pendataan dan Pengamanan Area oleh Polisi
Setalah proses pendinginan dinyatakan selesai, area yang terdampak kebakaran langsung disterilkan. Anggota kepolisian memasang garis polisi (police line) di sekeliling lokasi tempat kejadian perkara (TKP) guna menjaga status quo untuk keperluan penyelidikan penyebab pasti kebakaran oleh tim Laboratorium Forensik. Tim penyelamat medis juga melakukan penyisiran akhir di sekitar lokasi untuk memastikan tidak ada warga atau petugas yang tertinggal atau pingsan akibat paparan asap pekat.
Pembelajaran Penting dan Langkah Penguatan Sistem Keselamatan
Musibah kebakaran yang melahap bagian dari kawasan Desa Adat Sade menjadi peringatan keras bagi seluruh pemangku kepentingan mengenai pentingnya proteksi kebakaran pada aset-aset cagar budaya berstruktur bahan alami di Indonesia.
- Penguatan Sarana Pemadaman Mandiri: Peristiwa ini menunjukkan perlunya penyediaan jaringan hidran air bertekanan khusus serta penempatan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dalam jumlah yang memadai di seluruh sudut gang desa adat.
- Pelatihan Kebencanaan Berbasis Masyarakat: Masyarakat adat yang bermukim di kawasan rawan api perlu dibekali pelatihan penanganan kebakaran tingkat awal secara rutin agar mampu merespons potensi bahaya secara terstruktur.
- Penataan Ulang Jalur Listrik: Mengingat sebagian besar bangunan berbahan dasar kayu dan kering, penataan serta peremajaan instalasi kabel listrik wajib dilakukan secara berkala menggunakan standar keamanan tertinggi guna mencegah risiko korsleting.
Semangat Kebangkitan dari Puing-Puing Sade
Perjuangan gigih yang diperlihatkan oleh warga lokal bersama tim pemadam kebakaran dan aparat keamanan dalam menjinakkan api di Desa Adat Sade merupakan cerminan nyata dari ketangguhan masyarakat Suku Sasak. Walaupun musibah ini menyisakan duka dan kerusakan material yang tidak sedikit, keberhasilan menyelamatkan sebagian besar kawasan adat dari kehancuran total adalah sebuah pencapaian yang sangat disyukuri.
Pemerintah Daerah bersama masyarakat adat kini bersiap untuk melangkah ke tahap rekonstruksi guna membangun kembali rumah-rumah adat yang rusak dengan mempertahankan keaslian arsitekturnya. Keberanian, kebersamaan, dan ketabahan yang ditunjukkan saat memadamkan kobaran api menjadi modal sosial yang paling berharga bagi Desa Adat Sade untuk segera bangkit dan berdiri kokoh kembali sebagai kebanggaan budaya Indonesia.
Penulis : Sahida Amalia