31 Agustus 2026

Peluang Emas: 2.126 Lowongan Kerja Online dan Pendidikan Vokasi Siap Kerja di Banten!

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tren Media Sosial yang Akan Populer di Tahun 2026

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tren SEO Terbaru Tahun 2026 yang Wajib Diketahui

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Roadmap Belajar Digital Marketing dari Pemula hingga Mahir

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Hasil Muktamar NU 2026 Ketua PBNU menjadi salah satu informasi yang paling banyak dinantikan masyarakat, khususnya warga Nahdlatul Ulama (NU). Muktamar ke-35 NU yang digelar di Jombang, Jawa Timur, memasuki tahap penting ketika para peserta menentukan arah kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmat 2026–2031.

Muktamar ke-35 NU berlangsung pada 27–31 Agustus 2026. Forum ini menjadi ruang permusyawaratan tertinggi NU untuk membahas berbagai persoalan organisasi, program kerja, serta menentukan kepemimpinan baru PBNU.

Salah satu keputusan paling menarik adalah perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU. Jika sebelumnya pemilihan menggunakan sistem suara langsung, Muktamar NU 2026 menyepakati mekanisme yang melibatkan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Lantas, siapa saja kandidat Ketua Umum PBNU 2026–2031 dan siapa yang akhirnya terpilih? Berikut ulasan lengkapnya.

Daftar Kandidat Ketua Umum PBNU 2026

Dalam proses penjaringan calon Ketua Umum PBNU, sejumlah nama muncul sebagai kandidat. Setelah dilakukan tabulasi suara dan pemeriksaan persyaratan, lima nama masuk dalam tahap akhir pencalonan.

Lima kandidat tersebut adalah:

  1. KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin
  2. KH Zulfa Mustofa
  3. KH Abdussalam Shohib
  4. KH Yahya Cholil Staquf
  5. KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin

Berdasarkan hasil penjaringan yang dilaporkan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Gus Kikin memperoleh suara terbanyak dengan 472 suara. Selanjutnya KH Zulfa Mustofa mendapatkan 262 suara, KH Abdussalam Shohib 261 suara, KH Yahya Cholil Staquf 258 suara, dan KH Abdul Ghaffar Rozin memperoleh 155 suara.

Perlu dicatat, perolehan suara penjaringan tersebut tidak secara otomatis menjadikan kandidat dengan suara terbanyak sebagai Ketua Umum PBNU. Hal itu karena Muktamar NU 2026 telah mengubah mekanisme pemilihan.

Mekanisme Pemilihan Ketua PBNU Berubah

Salah satu keputusan penting Muktamar NU 2026 adalah perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU.

Dalam Sidang Pleno III Muktamar ke-35 NU, peserta melakukan voting untuk menentukan apakah mekanisme pemilihan tetap dipertahankan atau diubah.

Hasilnya, dari 552 suara, sebanyak 401 suara memilih perubahan mekanisme. Sementara itu, 150 suara memilih agar sistem tetap dipertahankan dan satu suara dinyatakan tidak sah. Dengan demikian, sekitar 73 persen suara mendukung perubahan mekanisme pemilihan.

Perubahan tersebut membuat pemilihan Ketua Umum PBNU tidak lagi menggunakan pola one man one vote secara langsung.

Dalam mekanisme baru, nama-nama calon yang diajukan oleh PWNU, PCNU, dan PCINU ditabulasi untuk mendapatkan kandidat dengan perolehan suara terbanyak. Nama-nama tersebut kemudian diproses melalui mekanisme yang melibatkan Rais Aam terpilih dan AHWA.

Apa Itu AHWA dalam Pemilihan Ketua PBNU?

AHWA merupakan singkatan dari Ahlul Halli wal Aqdi, yaitu mekanisme yang memberikan mandat kepada sejumlah ulama atau kiai untuk mengambil keputusan strategis dalam kepemimpinan NU.

Dalam Muktamar NU 2026, mekanisme AHWA menjadi bagian penting dalam menentukan Ketua Umum PBNU.

Setelah kandidat disaring, nama-nama yang memenuhi ketentuan kemudian diajukan kepada Rais Aam terpilih untuk mendapatkan pertimbangan dan persetujuan. Selanjutnya, proses penentuan Ketua Umum PBNU dilakukan bersama anggota AHWA.

Perubahan tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah Muktamar NU karena mengubah pola pemilihan pimpinan tertinggi organisasi.

Gus Kikin Terpilih sebagai Ketua Umum PBNU

Setelah seluruh proses berjalan, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031.

Gus Kikin ditetapkan melalui mekanisme musyawarah AHWA dalam Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Jombang, Jawa Timur, pada 31 Agustus 2026.

Penetapan tersebut sekaligus mengakhiri proses panjang pencarian Ketua Umum PBNU baru yang sebelumnya diwarnai berbagai nama dan dinamika organisasi.

Terpilihnya Gus Kikin juga tidak terlepas dari dukungan yang diperolehnya dalam proses penjaringan. Ia menjadi kandidat dengan perolehan suara tertinggi dari lima nama yang akhirnya ditetapkan sebagai calon Ketua Umum PBNU.

Profil Singkat Gus Kikin

KH Abdul Hakim Mahfudz lebih dikenal dengan nama Gus Kikin. Ia merupakan salah satu tokoh pesantren yang memiliki hubungan erat dengan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Sebagai tokoh yang tumbuh dalam lingkungan pesantren, Gus Kikin memiliki pengalaman dalam pendidikan keagamaan sekaligus organisasi Nahdlatul Ulama.

Terpilihnya Gus Kikin menjadi Ketua Umum PBNU menempatkan dirinya sebagai salah satu tokoh utama yang akan menentukan arah perjalanan NU selama lima tahun mendatang.

Masa khidmat 2026–2031 akan menjadi periode penting karena PBNU dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari penguatan pendidikan pesantren, pemberdayaan ekonomi umat, pengembangan sumber daya manusia hingga menjaga hubungan organisasi dengan masyarakat luas.

Rais Aam dan Ketua Umum PBNU

Selain menentukan Ketua Umum PBNU, Muktamar ke-35 NU juga menentukan posisi Rais Aam.

KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya sebagai Rais Aam PBNU untuk periode mendatang. Posisi Rais Aam mempunyai peran penting dalam struktur kepemimpinan NU, khususnya dalam aspek keulamaan dan syuriyah.

Kombinasi kepemimpinan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU menjadi salah satu hal yang akan diperhatikan dalam menjalankan hasil-hasil keputusan Muktamar NU 2026.

Keputusan Penting Muktamar NU 2026

Selain menetapkan Ketua Umum PBNU, Muktamar ke-35 NU juga menghasilkan sejumlah keputusan penting.

Salah satunya adalah perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU. Keputusan ini menunjukkan adanya perubahan dalam tata kelola organisasi dan proses regenerasi kepemimpinan NU.

Muktamar juga membahas berbagai agenda melalui sidang komisi. Forum tersebut menjadi tempat para peserta membahas persoalan organisasi, keagamaan, sosial, pendidikan, ekonomi, serta arah khidmah NU untuk lima tahun mendatang.

Keputusan lainnya berkaitan dengan larangan rangkap jabatan tertentu bagi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU sebagai mandataris Muktamar. Keduanya tidak diperbolehkan merangkap sejumlah jabatan publik dan politik tertentu, termasuk posisi presiden, wakil presiden, menteri, gubernur hingga pimpinan partai.

Tantangan Ketua PBNU 2026–2031

Setelah resmi terpilih, Gus Kikin menghadapi tantangan besar dalam memimpin PBNU. Salah satu yang paling penting adalah menjaga soliditas internal organisasi.

Dinamika selama Muktamar menunjukkan bahwa proses pemilihan kepemimpinan NU tidak selalu berjalan sederhana. Karena itu, kepemimpinan baru perlu memastikan seluruh elemen NU dapat kembali bersatu dan menjalankan hasil keputusan Muktamar.

Selain itu, PBNU harus memperkuat sektor pendidikan, pesantren, ekonomi umat, sosial, kesehatan, dakwah, serta pemberdayaan masyarakat.

Di era digital, NU juga menghadapi tantangan dalam menjaga relevansi dakwah dan komunikasi dengan generasi muda. Pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu peluang untuk memperluas manfaat organisasi.

Kesimpulan

Hasil Muktamar NU 2026 Ketua PBNU akhirnya menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031.

Sebelum ditetapkan, Gus Kikin menjadi kandidat dengan perolehan suara terbanyak dalam proses penjaringan, yakni 472 suara. Ia kemudian bersama empat kandidat lainnya masuk dalam tahap akhir pencalonan.

Proses pemilihan Ketua Umum PBNU tahun 2026 juga memiliki sejarah tersendiri karena Muktamar ke-35 NU menyetujui perubahan mekanisme pemilihan. Dari 552 suara, 401 suara atau sekitar 73 persen mendukung perubahan sistem.

Dengan terpilihnya Gus Kikin, kepemimpinan PBNU periode 2026–2031 resmi memasuki babak baru. Masyarakat kini akan menantikan susunan kepengurusan dan program kerja yang akan dijalankan untuk membawa NU semakin berkontribusi bagi umat, bangsa, dan masyarakat.

penulis :Nofa oktaviya

Peluang Emas: 2.126 Lowongan Kerja Online dan Pendidikan Vokasi Siap Kerja di Banten!

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tren Media Sosial yang Akan Populer di Tahun 2026

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tren SEO Terbaru Tahun 2026 yang Wajib Diketahui

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Roadmap Belajar Digital Marketing dari Pemula hingga Mahir

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *