Jhonlin Group Memimpin Revolusi Baterai di Kalimantan: PLN Siap Listrik Terbesar 30k kVA
Berita Hari Ini – 04 September 2026 | Di tengah upaya Indonesia memperkuat rantai pasok baterai, sebuah pabrik prekursor baterai nikel baru dibuka di Kawasan Ekonomi Khusus Setangga, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Peresmian tersebut menandai kolaborasi strategis antara Jhonlin Group, PT Anugerah Barokah Energi Baru (ABEB), dan PLN Unit Induk Distribusi Kalimantan Selatan dan Tengah (UID Kalselteng).
Peresmian Pabrik Prekursor Baterai ABEB
Acara berlangsung pada 13 Januari 2026, dipimpin oleh Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Dr. Sjafrie Sjamsoeddin. Ia menekankan pentingnya hilirisasi industri baterai sebagai bagian dari kemandirian teknologi dan keamanan nasional. Bersama, hadir Sekretaris Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus Rizal Edwin Manansang, pemilik Jhonlin Group H. Andi Syamsuddin Arsyad, serta pejabat tinggi CNGR seperti Chairman Mr. Deng Wei Ming dan Vice President Mr. Liao Heng Xing.
PT ABEB, perusahaan baru yang berfokus pada produksi ternary precursor berbasis nikel, akan menyediakan bahan baku bagi industri baterai lithium, baik untuk pasar ekspor maupun untuk pengembangan kendaraan listrik di dalam negeri. Pabrik ini diharapkan menjadi batu loncatan bagi Indonesia menjadi pemain utama dalam pasar baterai global.
Peran PLN dalam Menjamin Ketersediaan Listrik
General Manager PLN UID Kalselteng, Iwan Soelistijono, mengumumkan kesiapan penyediaan daya sebesar 30.000 kVA khusus untuk ABEB. Ia menegaskan bahwa pasokan listrik akan bersifat andal, berkelanjutan, dan kompetitif, sejalan dengan visi PLN untuk mendukung industri pendukung ekosistem kendaraan listrik.
Berikut rincian kapasitas dan layanan listrik yang disediakan:
| Jenis Layanan | Spesifikasi |
|---|---|
| Daya | 30.000 kVA |
| Jaminan Keandalan | 24/7, 99,9% uptime |
| Harga | Kompetitif sesuai regulasi PLN |
| Lingkup Pemasok | Seluruh area industri di Kalimantan Selatan |
Manfaat bagi Daerah dan Ekonomi Nasional
Menurut Iwan, kehadiran pabrik ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dan membuka peluang ekosistem industri energi bersih. Di sisi lain, Jhonlin Group berkomitmen untuk mengintegrasikan teknologi produksi baterai dengan praktik berkelanjutan, mengurangi dampak lingkungan dan memperkuat citra Indonesia sebagai produsen baterai bersih.
- Pengembangan industri hilir baterai meningkatkan nilai tambah domestik.
- Penguatan sistem pertahanan melalui teknologi baterai nikel.
- Stimulasi ekonomi lokal melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan infrastruktur.
- Pengembangan ekosistem kendaraan listrik yang mendukung kebijakan energi terbarukan.
Visi Jhonlin Group dalam Industri Baterai
Owner Jhonlin Group, H. Andi Syamsuddin Arsyad, menegaskan bahwa perusahaan ini akan memanfaatkan fasilitas produksi di Kalimantan Selatan untuk memproduksi precursor nikel berkualitas tinggi. Ia menilai bahwa kolaborasi dengan PLN dan pemerintah daerah akan mempercepat proses industrialisasi serta meminimalkan biaya operasional.
Di samping itu, Jhonlin Group berencana untuk mengekspor produk ke pasar Asia Tenggara dan Eropa, menempatkan Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai pasok baterai global. Langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong investasi asing di sektor energi bersih.
Reaksi Stakeholder Lainnya
Gubernur Kalimantan Selatan, H. Muhidin, menyampaikan dukungan penuh terhadap proyek ini, menyoroti potensi peningkatan pendapatan daerah dan penciptaan lapangan kerja. Direktur Utama PT PLN (persero), Darmawan Prasodjo, menegaskan komitmen PLN dalam menyediakan infrastruktur listrik yang memadai untuk mendukung pertumbuhan industri strategis nasional.
Dengan dukungan kuat dari berbagai pihak, pabrik prekursor baterai ini diharapkan menjadi contoh nyata kolaborasi publik‑swasta dalam mengembangkan industri berteknologi tinggi. Ketersediaan listrik 30.000 kVA dari PLN menjamin proses produksi berjalan lancar, sementara Jhonlin Group dan ABEB berfokus pada inovasi dan kualitas produk.
Keseluruhan inisiatif ini menandai langkah penting Indonesia dalam memanfaatkan sumber daya alam secara hilirisasi, sekaligus memperkuat posisi negara di pasar baterai global. Pabrik ini tidak hanya akan mendukung mobilitas listrik, tetapi juga meningkatkan kemandirian teknologi pertahanan, menegaskan peran strategis industri baterai dalam agenda nasional.