Dari Sampah Jadi Bahan Bakar Pesawat: Revolusi Energi Hijau di Indonesia
Berita Hari Ini – 11 September 2026 | Indonesia kini menempatkan diri pada puncak inovasi energi hijau dengan memanfaatkan limbah sebagai bahan bakar alternatif. Dua proyek besar—pembuatan Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Kilang Cilacap dan produksi Refuse Derived Fuel (RDF) di TPS 3R Rawasari—menunjukkan potensi transformasi industri energi nasional.
SAF Berbasis Minyak Jelantah di Cilangap
Kilang Unit IV Cilacap, Jawa Tengah, memiliki kapasitas pengolahan mencapai 348 ribu barel per hari. Di sini, Pertamina Patra Niaga mengolah Used Cooking Oil (UCO) menjadi bahan bakar avtur ramah lingkungan. UCO diperoleh dari berbagai sumber, termasuk dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), hotel, restoran, dan jaringan Gapulimgi. Skema pembelian B2B dan B2C memungkinkan akumulasi UCO hingga 240‑300 ribu ton per tahun.
Proses konversi melibatkan pemurnian, pemutihan, dan penghilangan bau, sehingga kandungan SAF dapat dipertahankan hingga 3 persen. Uji coba komersial pada September 2023 menunjukkan bahwa campuran 2,4 persen minyak inti sawit yang sudah difilter dapat menghasilkan avtur bersih yang memenuhi standar penerbangan.
RDF: Sampah Jadi Bahan Bakar Industri
TPS 3R Rawasari di Jakarta Pusat mampu memproses 24 ton sampah per hari. Setelah pemilahan, residu yang memenuhi kriteria diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF), bahan bakar alternatif untuk industri semen. Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Slamet Riyadi, menegaskan bahwa penggunaan RDF mengurangi volume sampah yang harus dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan menurunkan emisi gas rumah kaca.
Emisi Metana dari TPA dan Dampak Lingkungan
Walhi mengungkapkan bahwa TPA di Indonesia menghasilkan sekitar 334 ribu ton emisi metana pada 2025, setara 9 juta ton CO₂e. Lebih dari 60 persen TPA masih menggunakan metode open dumping, yang meningkatkan risiko kebakaran dan polusi udara. Gas metana yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah organik dapat diubah menjadi energi melalui teknologi biogas, namun belum secara luas diterapkan.
| Aspek | Data |
|---|---|
| Kapasitas Kilang Cilacap | 348.000 barel/hari |
| Volume UCO tahunan | 240‑300.000 ton |
| Emisi Metana TPA 2025 | 334.000 ton CO₂e |
Konversi sampah menjadi RDF dan UCO menjadi SAF tidak hanya menurunkan limbah, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dengan mengintegrasikan ekonomi sirkular, Indonesia dapat memperkuat posisi sebagai produsen energi hijau di pasar global.
Pengembangan proyek green refinery di Cilacap dan TPS 3R Rawasari menandai langkah strategis pemerintah dalam mempercepat transisi energi. Peningkatan kapasitas produksi SAF dan RDF, sekaligus pengurangan emisi TPA, menjadi kunci dalam mencapai target ketahanan energi nasional dan mitigasi perubahan iklim.
Ke depan, kolaborasi antara sektor publik dan swasta akan menjadi kunci keberhasilan. Penambahan sumber UCO dari industri makanan, hotel, dan rumah tangga, serta pelaksanaan sistem pengelolaan sampah terkontrol, akan memperluas jaringan pasokan bahan bakar hijau. Sementara itu, inovasi teknologi biogas dapat memanfaatkan gas metana TPA menjadi energi terbarukan, menutup lingkaran sampah‑energi secara berkelanjutan.
Dengan langkah-langkah ini, Indonesia tidak hanya mengurangi jejak karbonnya, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru di industri energi bersih. Proyek-proyek ini menunjukkan bahwa bahan bakar ramah lingkungan bisa tumbuh dari limbah sehari‑hari, menegaskan bahwa masa depan energi tidak hanya terletak pada teknologi, tetapi juga pada cara kita mengelola sumber daya yang sudah ada.