Tiga Aktivis Hong Kong Dipenjara: Bagaimana Peringatan Tiananmen Menjadi Titik Balik Kebebasan Berpendapat
Berita Hari Ini – 11 September 2026 | Di tengah ketegangan politik yang semakin memekar, Hong Kong menegakkan hukuman berat terhadap tiga aktivis yang selama lebih dari tiga dekade menyiapkan peringatan tahunan di Victoria Park untuk mengenang tragedi Tiananmen 1989. Keputusan pengadilan menandai perubahan signifikan dalam lanskap kebebasan sipil di kota ini.
Kasus yang Menjadi Titik Balik
Pengadilan menuduh Chow Hang‑tung (41) dan Lee Cheuk‑yan (69), pemimpin lama Hong Kong Alliance in Support of Patriotic Democratic Movements of China, serta Albert Ho (74), mantan anggota legislatif, atas tuduhan 'incitement to subversion'. Mereka dijatuhi hukuman berturut‑turut 7 tahun, 7 tahun 3 bulan, dan 5 tahun 2 bulan. Hukuman ini diambil setelah mereka menolak menandatangani dakwaan dan memanggilnya sebagai pelanggaran hak kebebasan berpendapat.
Sejarah Peringatan Tiananmen di Hong Kong
- Awal 1990-an: Hong Kong menjadi panggung pertama di luar China yang secara terbuka menyalurkan peringatan atas pembantaian mahasiswa.
- Setiap tahun, puluhan ribu warga berkumpul di Victoria Park, menyalakan lilin dan menampilkan poster yang menuntut akuntabilitas.
- 2020: Selama pandemi, pemerintah menangguhkan peringatan, menandakan tekanan berulang terhadap ruang publik.
- 2021: Penahanan Chow, Lee, dan Ho menandai fase baru di mana hukum keamanan nasional mulai diberlakukan secara ketat.
Argumen Pihak Pembela dan Penegak Hukum
Pihak pembela menekankan bahwa peringatan tersebut hanya merupakan bentuk ekspresi kebebasan sipil. Mereka menolak tuduhan bahwa slogan “end one‑party dictatorship” bermaksud merencanakan tindakan ilegal. Sebaliknya, jaksa menafsirkan slogan tersebut sebagai ajakan untuk menurunkan otoritas Partai Komunis China (PKC) melalui cara yang tidak sah.
Reaksi Publik dan Dampak Sosial
Ratusan orang menantikan persidangan, termasuk Kardinal Joseph Zen, yang pernah ditahan di bawah hukum keamanan. Saksi pendukung, seperti Simon Ng, mengungkapkan rasa duka karena hukuman tersebut tidak hanya menargetkan para aktivis, tetapi juga menandai perubahan perilaku bagi seluruh warga Hong Kong yang pernah ikut serta dalam peringatan.
Keputusan ini menandai akhir era kebebasan publik yang dulu menjadi ciri khas Hong Kong. Banyak kelompok masyarakat sipil yang sebelumnya aktif kini terpaksa bubar atau beroperasi secara diam-diam. Penahanan ini menimbulkan ketegangan internasional, mengingat Hong Kong pernah dikenal sebagai pusat kebebasan berbicara di Asia.
Konsekuensi Jangka Panjang
Hukum keamanan nasional, yang diberlakukan oleh Beijing pada 2020, kini menjadi alat utama untuk menahan kritik publik. Penegakan hukum ini menandakan pergeseran signifikan dari sistem hukum Hong Kong yang sebelumnya lebih independen. Keterlibatan internasional, termasuk kritik dari pemerintah luar negeri, belum mengubah arah kebijakan lokal.
Secara keseluruhan, hukuman ini menegaskan bahwa peringatan Tiananmen, yang dulu menjadi simbol perjuangan demokrasi, kini menjadi risiko bagi mereka yang berani mengatakannya. Kota yang dulu dikenal sebagai “kota kebebasan” kini bertransformasi menjadi contoh bagaimana kebebasan berpendapat dapat dikurangi melalui hukum keamanan.