Karhutla di Perbukitan Gadingrejo mengancam 12 desa, petugas siaga hingga dini hari, dan angka asap tembus 5.000 meter.
Situasi Awal dan Penanganan Bersama
Dalam kondisi lahan yang kering serta arah angin yang berubah-ubah, pergerakan api menjadi sulit diprediksi. Plt Kasat Pol PP Pringsewu, Catur Agus Dewanto, menegaskan bahwa penanganan dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan Satpol PP, BPBD, TNI/Polri, aparatur pekon, dan masyarakat. Selain memadamkan api, tim berupaya membatasi area terbakar agar kobaran tidak mendekati kawasan yang dihuni warga. “Keselamatan warga menjadi prioritas utama. Di lapangan, petugas menghadapi sejumlah kendala, seperti vegetasi yang kering, angin yang tidak menentu, keterbatasan alat dan sumber air, serta medan perbukitan yang terjal,” ujar Catur pada Senin (14/9/2026).
Deteksi Awal dan Titik Awal Kebakaran
Karhutla terdeteksi sejak Rabu (9/9/2026) di Perbukitan Way Bayas, Dusun 3, Pekon Panjerejo, dan kawasan perbukitan Dusun 4, Pekon Tambahrejo. Titik api juga ditemukan di sejumlah wilayah Tambahrejo Barat serta Pekon Wates Selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Pesawaran. Sebanyak 25 personel Satpol PP Pringsewu dikerahkan pada tahap awal penanganan. Hingga Rabu malam, dua titik api berhasil dilokalisir. Namun, kondisi tersebut belum membuat petugas menghentikan pemantauan karena masih terdapat potensi bara kembali menyala.
Penyebaran di Bukit Tambro dan Bukit Sarno
Pada Kamis (10/9/2026), petugas kembali menemukan bara di Bukit Tamro dan Bukit Sarno, Pekon Tambahrejo Barat. Api kemudian menjalar ke kawasan perbukitan Pekon Wates Selatan sehingga pemantauan diperketat hingga menjelang dini hari. Kondisi tersebut membuat petugas tidak hanya berfokus pada titik yang terlihat terbakar. Mereka terus memantau potensi bara di daerah sekitar, menyesuaikan strategi penanganan seiring dengan perubahan arah angin.
Dampak dan Risiko bagi 12 Desa yang Terancam
Karhutla ini mengancam 12 desa yang tersebar di wilayah perbukitan. Karena lahan kering dan vegetasi padat, bara dapat dengan cepat menyebar ke area yang lebih luas. Angin yang berubah-ubah menambah ketidakpastian, sehingga potensi kerusakan pada rumah, hutan, dan lahan pertanian menjadi tinggi. Selain itu, asap yang menembus ketinggian 5.000 meter dapat memengaruhi kualitas udara di daerah sekitarnya, menimbulkan risiko kesehatan bagi penduduk setempat.
Peran Komunitas dan Aparatur Pekon
Petugas juga melibatkan aparatur pekon dan masyarakat dalam upaya pemadaman. Komunitas lokal membantu menyiapkan sarana pemadam kebakaran, menyalurkan air, serta menjaga jalur evakuasi. Kerja sama ini penting mengingat medan perbukitan yang terjal, di mana akses kendaraan terbatas. Keterlibatan warga juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan kebakaran hutan, seperti pengelolaan sampah dan pembakaran sampah yang terkontrol.
Strategi Penanganan dan Kendala yang Dihadapi
Strategi penanganan diambil secara bertahap: pertama, memadamkan titik api utama; kedua, menutup area terbakar dengan barrier atau semprotan air; ketiga, memantau potensi bara kembali menyala. Kendala utama yang dihadapi meliputi keterbatasan alat pemadam, sumber air yang terbatas, serta kondisi medan perbukitan yang sulit dijangkau. Selain itu, perubahan arah angin yang cepat menambah risiko kebakaran kembali menyala di area yang sudah dipadamkan.
Upaya Pencegahan di Masa Depan
Dalam menanggapi karhutla ini, pihak berwenang menekankan pentingnya pencegahan jangka panjang. Penataan vegetasi, penyediaan jalur evakuasi yang aman, serta peningkatan kapasitas aparat di daerah perbukitan menjadi fokus utama. Masyarakat juga diajak untuk lebih aktif dalam pengawasan kebakaran, melaporkan potensi bara, dan menjaga kebersihan lingkungan.
Kesimpulan
Karhutla di Perbukitan Gadingrejo menunjukkan betapa pentingnya koordinasi antara aparat dan masyarakat dalam menghadapi kebakaran hutan. Dengan kondisi lahan kering dan angin yang tidak menentu, kebakaran dapat dengan cepat menyebar dan menimbulkan risiko bagi 12 desa di sekitarnya. Penanganan yang melibatkan Satpol PP, BPBD, TNI/Polri, aparatur pekon, dan masyarakat berhasil menurunkan tingkat kebakaran, namun tetap menuntut kewaspadaan hingga dini hari. Ke depan, upaya pencegahan dan pengelolaan vegetasi yang lebih baik akan menjadi kunci untuk mengurangi risiko karhutla di masa yang akan datang.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://lampung.tribunnews.com/lampung/1218317/karhutla-di-perbukitan-gadingrejo-mengancam-permukiman-petugas-siaga-hingga-dini-hari, without altering the facts of the original article.