Tak Mau Tinggalkan Rumahnya, Sutiyem Meninggal Tertimpa Bangunan Rapuh
Penghargaan Tradisi dan Keengganan Pindah
Dalam kehidupan warga Kaliwedi, rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan simbol warisan budaya dan kebersamaan. Sutiyem, seorang lansia yang telah lama menetap di RT 17 Dukuh Dimoro, memegang teguh nilai tersebut. Meskipun keluarga dan tetangga telah berulang kali mengajak ia pindah ke tempat yang lebih aman, ia tetap menolak. Kepala Desa Kaliwedi, Daryono, menegaskan bahwa Sutiyem “kekeh tidak mau dipindah” dan memilih bertahan di rumah lama. Keluarga, meski sebagian berada di luar daerah—beberapa di Jepang, yang lainnya di Jakarta—masih menunjukkan perhatian dan memenuhi kebutuhan sehari-hari korban.
Struktur Bangunan yang Menjadi Pusat Perhatian
Rumah yang dipilih Sutiyem untuk tetap ditempati terletak di RT 17 Dukuh Dimoro. Bangunan tersebut sebagian besar dibangun dengan bahan bambu dan kayu yang berusia cukup lama. Sejumlah bagian konstruksi diduga mengalami pelapukan, sehingga kekuatan struktural terus menurun. Kondisi ini menimbulkan risiko tinggi bagi penghuni, terutama bagi lansia yang rentan. Perawatan rumah selama ini lebih banyak mengandalkan bantuan warga sekitar. Pengurus RT bersama masyarakat setempat beberapa kali membantu melakukan perbaikan secara swadaya karena rumah tersebut tidak mudah mendapatkan intervensi melalui program perbaikan rumah pemukiman.
Keputusan yang Menjadi Titik Balik
Keputusan Sutiyem untuk tetap tinggal di rumah lama menjadi titik balik tragis. Pada Senin (14/9/2026) pagi, bangunan tersebut ambruk dan menimpa tubuhnya, menewaskan korban. Kematian ini menimbulkan duka mendalam bagi keluarga dan warga setempat. Kepala Desa menegaskan bahwa keluarga sebenarnya tidak tinggal diam melihat kondisi tempat tinggal Sutiyem. Anak dan cucunya telah berulang kali mengajaknya untuk tinggal bersama mereka, namun ajakan tersebut selalu ditolak. Meskipun demikian, keluarga tetap memberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan korban.
Dampak Kematian Sutiyem bagi Komunitas
Tragedi ini menimbulkan dampak emosional dan sosial bagi komunitas Kaliwedi. Keluarga Sutiyem kehilangan salah satu anggota penting, sementara warga lain merasakan kekhawatiran tentang keamanan bangunan di lingkungan mereka. Kejadian ini juga memicu perbincangan tentang kelemahan struktur lingkungan, terutama pada rumah-rumah yang dibangun dengan bahan tradisional seperti bambu dan kayu. Masyarakat mulai menilai kembali kondisi bangunan mereka dan mencari solusi untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Upaya Perbaikan dan Peningkatan Kesadaran
Pengurus RT dan warga setempat menyadari pentingnya perbaikan struktural. Beberapa kali telah dilakukan perbaikan swadaya, namun keterbatasan dana dan akses ke program perbaikan resmi menjadi kendala. Akibatnya, rumah Sutiyem tetap dalam kondisi rawan. Setelah tragedi, ada dorongan untuk memperkuat kesadaran tentang pentingnya inspeksi rutin dan perbaikan struktur rumah, terutama bagi lansia yang tinggal di bangunan berusia lama.
Kesimpulan dan Harapan ke Depan
Tragedi kematian Sutiyem menegaskan betapa pentingnya perhatian terhadap kondisi bangunan, terutama bagi lansia. Keluarga dan warga setempat kini lebih sadar akan risiko yang terkait dengan bangunan rapuh. Meskipun perbaikan masih menghadapi tantangan, harapan ada pada peningkatan kesadaran dan upaya bersama untuk memastikan keamanan lingkungan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://lampung.tribunnews.com/news/1218316/tak-mau-tinggalkan-rumahnya-sutiyem-meninggal-tertimpa-bangunan-rapuh, without altering the facts of the original article.