Mindfulness menjadi topik hangat di tengah krisis emosional, namun seringkali disalahpahami menjadi sekadar “acceptance” atau menerima segala hal tanpa pertanyaan. Psikolog Klinik Maharani Octy Ningsih menjelaskan bahwa konsep ini jauh lebih kompleks dan dapat menjadi sumber ketidaknyamanan jika tidak dipahami dengan benar.
Definisi Mindfulness Menurut Psikolog Klinik
Menurut Maharani, mindfulness bukan sekadar menerima keadaan seperti “saya pasrah” atau “saya menerima semua situasi.” Ia menekankan bahwa mindfulness berarti “mengakui bahwa saat ini, inilah yang sedang terjadi, sehingga kita bisa melihat situasinya dengan lebih jernih, kemudian kita bisa menentukan apa yang perlu dilakukan.” Dalam video 20detik pada Selasa (15/9/2026), ia menegaskan bahwa mindfulness membantu seseorang memahami realitas saat ini sebelum mengambil keputusan.
Mindfulness dalam Konflik Rumah Tangga
Ketika seseorang menghadapi konflik di rumah tangga, sering kali orang di sekitarnya menyarankan agar ia “mencoba menerima pasangan.” Saran ini bisa terdengar seperti ajakan untuk menundukkan diri tanpa memperjuangkan hak atau kebutuhan pribadi. Maharani menyoroti bahwa kalimat tersebut dapat menjadi tone deaf jika diberikan terlalu cepat, tanpa terlebih dahulu memahami apa yang dirasakan oleh orang yang mengalami konflik. Mindfulness di sini harus menjadi alat untuk hadir, bukan alat untuk menolak perasaan atau menyesuaikan diri tanpa pertimbangan.
Mindfulness dalam Proses Berduka
Dalam situasi berduka, seringkali orang disarankan untuk “membuat diri mindful” dan menerima keadaan, serta mengucapkan bahwa sudah waktunya. Maharani mengatakan bahwa kalimat ini belum tentu salah, namun dapat menjadi tone deaf jika tidak disertai pemahaman mendalam tentang proses emosional yang sedang dialami. Mindfulness di sini harus membantu orang mengakui rasa kehilangan, bukan mengabaikannya dengan cepat.
Konsep Acceptance dan Perbedaannya dengan Mindfulness
Acceptance sering diartikan sebagai “menerima tanpa pertanyaan.” Namun, Maharani menegaskan bahwa acceptance tidak semudah itu. Acceptance dalam konteks mindfulness melibatkan pengakuan penuh terhadap pengalaman saat ini, tanpa penilaian. Ini berbeda dengan sekadar “menerima” yang bisa berarti menyerah atau tidak aktif. Mindfulness membantu individu mengidentifikasi apa yang perlu dilakukan setelah menyadari situasi, bukan hanya menerima pasif.
Mindfulness Sebagai Alat Refleksi Kesadaran
Mindfulness tidak dimaksudkan untuk membuat seseorang lebih tahan terhadap situasi tidak sehat. Sebaliknya, ia dapat menjadi sarana untuk merefleksikan kesadaran diri. Maharani mengatakan bahwa dengan memahami perasaan yang muncul, seseorang dapat menentukan respons yang lebih tepat. Ini memungkinkan individu memilih tindakan yang lebih sadar daripada sekadar merespons secara otomatis.
Dampak Negatif Jika Mindfulness Salah Pahami
Jika mindfulness disalahartikan menjadi sekadar “menerima semua,” maka orang dapat terjebak dalam pola pasrah yang tidak produktif. Hal ini dapat memperburuk krisis emosional karena individu tidak memproses perasaan mereka secara aktif. Maharani menekankan bahwa ketika mindfulness digunakan secara tepat, ia dapat memperkuat ketahanan emosional dan membantu individu membuat keputusan yang lebih sehat.
Peran Mindfulness dalam Kesehatan Mental
Mindfulness dapat memperkuat hubungan antara pikiran dan tubuh, membantu mengurangi stres, dan meningkatkan kualitas hidup. Namun, penting untuk menyesuaikan praktik mindfulness dengan konteks emosional masing-masing individu. Maharani menyarankan agar praktik mindfulness tidak menjadi alat untuk menahan perasaan, melainkan cara untuk mengakui dan mengelola perasaan tersebut.
Praktik Mindfulness yang Efektif
Berikut beberapa langkah praktis yang dapat membantu seseorang menerapkan mindfulness secara benar:
1. Fokus pada napas dan sensasi tubuh saat bernafas.
2. Amati pikiran dan emosi tanpa menilai.
3. Identifikasi apa yang perlu dilakukan setelah menyadari situasi.
4. Gunakan refleksi untuk memilih respons yang lebih sadar.
Kesimpulan: Mindfulness sebagai Kunci Mengelola Krisis Emosional
Mindfulness tidak sekadar “menerima” segala hal, melainkan proses pengakuan, refleksi, dan tindakan. Ketika dipahami dengan benar, mindfulness dapat menjadi alat yang kuat dalam menghadapi konflik rumah tangga, proses berduka, dan krisis emosional lainnya. Namun, jika diartikan secara keliru, ia dapat menjadi tone deaf dan menambah beban emosional. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk memahami esensi mindfulness dan menerapkannya secara sadar dalam kehidupan sehari‑hari.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8664749/kok-bisa-nasihat-mindfulness-justru-jadi-tone-deaf-ini-kata-psikolog, without altering the facts of the original article.