Salju abadi di Papua diyakini akan meleleh seluruhnya pada 2027 karena suhu di wilayah Pasifik diprediksi akan segera mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah.
Jejak Penaklukan Salju Terakhir Papua: Kisah Epik Tiga Generasi Amungme dan Moni
Di antara batuan karstik Mimika dan Intan Jaya, komunitas adat Amungme dan Moni menelusuri sejarah panjang mereka yang terkait erat dengan gunung sakral yang kini terancam hilang. BBC News Indonesia berbicara dengan tiga generasi berbeda, menyoroti bagaimana “salju abadi” di Puncak Carstensz menjadi bagian penting dalam spiritualitas mereka, meski hampir tak berkontribusi pada pemanasan global.
Sejak lama, puncak Gunung Carstensz—juga dikenal sebagai Puncak Jaya—menjadi tempat suci bagi masyarakat lokal. Mereka percaya bahwa lapisan es yang menutupi puncak tersebut menyalurkan energi alam yang menjaga keseimbangan kehidupan di dataran rendah. Namun, perubahan iklim yang cepat mengancam keberadaan es tertua di Indonesia ini.
Menurut prediksi terbaru Badan Meteorologi Dunia (WMO) yang diterbitkan pada bulan Juli, luas lapisan es di puncak Carstensz diperkirakan hanya 0,1 kilometer persegi (sekitar 10 hektare) pada Juli 2025. Ini menunjukkan penyusutan setidaknya 34% dibandingkan data yang dihimpun pada Agustus 2024. WMO menegaskan bahwa tren penyusutan ini konsisten dengan rata-rata 0,07 kilometer persegi (tujuh hektare) per tahun pada periode 2016‑2022.
Selain Carstensz, dua titik lain di puncak—Carstensz dan East Northwall Firn—juga mengalami penurunan drastis. Pada tahun 2025, luas lapisan es di kedua titik tersebut diperkirakan hanya 2% dari luas tahun 1988. “Ini adalah tahap akhir keberadaan gletser tropis di Indonesia, bahwa es yang tersisa diyakini akan hilang pada akhir 2026 atau awal 2027,” ujar WMO.
Sejarah dan Makna Spiritual Salju Abadi
Amungme dan Moni menganggap salju abadi sebagai simbol keabadian. Dalam cerita rakyat mereka, es di puncak dianggap sebagai “mata” yang memantau bumi. Ketika es mencair, mereka khawatir akan hilangnya pandangan spiritual yang menuntun mereka dalam kehidupan sehari‑hari, termasuk peraturan adat dan pertemuan komunitas.
Generasi muda, yang masih mengenakan pakaian adat, mendengar kisah nenek mereka tentang bagaimana puncak di masa lalu menjadi tempat berkumpulnya para leluhur. Mereka percaya bahwa salju abadi menjaga keseimbangan energi alam, dan pencairan akan memicu perubahan tak terduga dalam pola cuaca dan kelangsungan hidup mereka.
Dampak Sosial dan Ekonomi pada Komunitas Lokal
Penghancuran salju abadi tidak hanya berdampak pada dimensi spiritual, tetapi juga pada aspek sosial ekonomi. Banyak penduduk setempat yang bergantung pada kegiatan tradisional seperti penebangan kayu dan perburuan di sekitar dataran rendah. Ketika es mencair, pola curah hujan dan aliran sungai dapat berubah, mengakibatkan risiko banjir dan tanah longsor.
Selain itu, turisme ekowisata yang menargetkan keunikan gletser tropis di Papua juga menghadapi risiko. Tanpa salju abadi, destinasi wisata ini menjadi kurang menarik bagi pengunjung yang mencari pengalaman melihat es di daerah tropis, yang dapat mengurangi pendapatan bagi perekonomian lokal.
Upaya dan Tantangan dalam Menyelamatkan Salju Abadi
Komunitas adat telah mengembangkan beberapa strategi adaptasi, seperti mempromosikan kebudayaan mereka melalui pertunjukan adat dan pembuatan produk kerajinan tangan. Namun, upaya ini masih terbatas karena sumber daya finansial dan akses ke teknologi modern yang dapat membantu memantau perubahan iklim.
Di tingkat nasional, kebijakan pengelolaan sumber daya alam belum secara khusus menargetkan pelestarian es di Puncak Carstensz. Pemerintah daerah dan lembaga lingkungan masih perlu meningkatkan kolaborasi dengan komunitas adat untuk merancang program pelestarian yang berkelanjutan.
Kesimpulan: Menyongsong Masa Depan Tanpa Salju Abadi
Salju abadi di Papua menjadi simbol penting bagi identitas budaya dan spiritual masyarakat Amungme dan Moni. Prediksi WMO menunjukkan bahwa es terakhir ini akan mencair pada akhir 2026 atau awal 2027, menandai akhir era gletser tropis di Indonesia. Dampak sosial, ekonomi, dan spiritual yang akan datang menuntut perhatian serius dari semua pihak.
Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang sejarah dan nilai salju abadi, serta upaya kolektif dalam mitigasi perubahan iklim, diharapkan dapat ditemukan solusi yang tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan di Papua.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cn45724vy5xo?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.