Dermatolog Ungkap Risiko Cuci Muka Pakai Air Es, Dapat Menyumbat Pori‑pori dan Memicu Iritasi Kulit pada Semua Usia
Asal Usul Praktik Cuci Muka dengan Air Dingin dan Panas
Dalam beberapa tahun terakhir, tren mencuci muka dengan kombinasi air dingin dan panas semakin populer. Banyak orang beranggapan bahwa pergantian suhu tersebut dapat membantu menutup pori-pori, mengurangi minyak berlebih, dan memberikan sensasi kesegaran. Praktik ini sering dipromosikan melalui media sosial dan blog kecantikan, di mana tutorial “ice-cold wash” atau “hot‑cold rinse” menjadi viral. Namun, dermatolog Ungkap Risiko Cuci Muka Pakai Air Es, Dapat Menyumbat Pori‑pori dan Memicu Iritasi Kulit pada Semua Usia menegaskan bahwa kepercayaan ini hanyalah mitos yang tidak didukung oleh ilmu dermatologi.
Dr. Stanley Setiawan, SpDVE, FINSDV, FAADV, seorang spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika, menjelaskan bahwa pori‑pori tidak berfungsi seperti pintu yang bisa dibuka atau ditutup hanya karena perubahan suhu. Ia menegaskan bahwa pori‑pori merupakan bagian dari sistem kulit yang lebih kompleks. “Jika kita bicara pores (pori‑pori), kita harus memahami bahwa ini bukan hanya tampil di permukaan saja, tapi satu sistem. Dan tidak dengan mudah pori‑pori itu buka‑tutup kayak pintu gitu ya,” ujar dr. Stanley kepada awak media di Jakarta Selatan, Kamis (17/9/2026).
Proses Biologis di Balik Pembukaan Pori‑Pori
Menurut dr. Stanley, ukuran dan mekanisme terbukanya pori‑pori melibatkan proses biologis yang jauh lebih rumit daripada sekadar paparan suhu air. Pori‑pori terbuka dan menutup sebagai respons terhadap berbagai faktor, termasuk hormon, kelembapan, dan kondisi kulit. Proses ini tidak dapat dipengaruhi secara instan oleh suhu air dingin atau panas. “Misalnya bisa dikondisikan, tapi itu sifatnya sementara nih kita pakai air dingin atau air panas,” lanjutnya, menekankan bahwa efek tersebut bersifat temporer dan tidak permanen.
Dermatolog Ungkap Risiko Cuci Muka Pakai Air Es, Dapat Menyumbat Pori‑pori dan Memicu Iritasi Kulit pada Semua Usia juga menyoroti bahwa kebiasaan mengekspos kulit dengan suhu ekstrem secara berulang dapat memicu masalah baru. “Jadi jangan sampai kita salah nih pemahamannya, bahwa kalau mau tutup pori udah air dingin aja terus gitu, atau mau buka pori air panas aja terus. Hati‑hati. Karena kulit itu bukan sekadar permukaan, tapi ada barrier (pelindung kulit),” tegasnya.
Risiko Penyumbatan Pori‑Pori dan Iritasi Kulit
Penggunaan air es secara berulang dapat menstimulasi produksi minyak berlebih, karena kulit berusaha melindungi diri dengan memproduksi lebih banyak sebum. Produksi sebum yang berlebihan dapat menyumbat pori‑pori, memicu munculnya komedo, jerawat, dan peradangan. Selain itu, paparan suhu dingin yang ekstrem dapat menyebabkan kerusakan pada lapisan lipid kulit, yang berfungsi sebagai pelindung alami. Kerusakan ini dapat mengurangi efektivitas barrier kulit, sehingga lebih mudah terkena iritasi dan infeksi.
Dermatolog Ungkap Risiko Cuci Muka Pakai Air Es, Dapat Menyumbat Pori‑pori dan Memicu Iritasi Kulit pada Semua Usia menekankan bahwa semua usia dapat terpengaruh. Pada anak-anak, kulit lebih tipis dan lebih sensitif, sehingga suhu ekstrem dapat menyebabkan iritasi yang lebih parah. Pada orang dewasa, terutama yang memiliki kulit berminyak atau berjerawat, penggunaan air es dapat memperburuk kondisi kulit dengan menstimulasi produksi minyak dan meningkatkan peradangan. Pada lansia, kulit yang sudah menua dan kurang elastis dapat mengalami kerusakan lebih cepat akibat paparan suhu dingin berulang.
Bagaimana Cara Menjaga Pori‑Pori Tetap Sehat?
Alasan utama di balik Dermatolog Ungkap Risiko Cuci Muka Pakai Air Es, Dapat Menyumbat Pori‑pori dan Memicu Iritasi Kulit pada Semua Usia adalah pentingnya menjaga keseimbangan dan kesehatan kulit. Cara terbaik untuk menjaga pori‑pori tetap sehat adalah dengan menggunakan produk pembersih yang sesuai dengan jenis kulit, menjaga kelembapan kulit, dan melindungi kulit dari paparan suhu ekstrem. Hindari penggunaan air es atau air panas secara berlebihan, dan pilihlah air pada suhu yang nyaman serta tidak terlalu dingin atau panas.
Dr. Stanley menambahkan bahwa perawatan kulit yang konsisten dan lembut, seperti penggunaan toner, serum, dan pelembap, dapat membantu memperkuat barrier kulit. Dengan barrier kulit yang kuat, pori‑pori lebih mampu menahan faktor eksternal dan mengurangi risiko penyumbatan dan iritasi. Selain itu, penggunaan sunscreen setiap hari juga penting untuk melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar UV, yang dapat memperlemah barrier kulit dan memicu peradangan.
Kesimpulan: Hindari Praktik Air Es yang Berlebihan
Dermatolog Ungkap Risiko Cuci Muka Pakai Air Es, Dapat Menyumbat Pori‑pori dan Memicu Iritasi Kulit pada Semua Usia menegaskan bahwa praktik mencuci muka dengan air dingin berulang tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat dan justru dapat menimbulkan masalah kulit. Pori‑pori tidak dapat dibuka atau ditutup secara instan hanya karena suhu air. Sebaliknya, paparan suhu ekstrem secara berulang dapat menstimulasi produksi minyak, menyumbat pori‑pori, dan memicu iritasi kulit pada semua usia.
Oleh karena itu, bagi siapa pun yang ingin menjaga kesehatan kulit, lebih baik menghindari penggunaan air es berlebihan dan fokus pada perawatan kulit yang lembut serta konsisten. Dengan menjaga barrier kulit, pori‑pori akan tetap sehat, dan risiko iritasi serta penyumbatan dapat diminimalkan.
Demikian informasi mengenai Dermatolog Ungkap Risiko Cuci
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8669208/cuci-muka-pakai-air-es-bisa-tutup-pori-pori-dermatolog-bilang-gini, without altering the facts of the original article.