21 Oktober 2026
Simak analisis mendalam kekalahan 0-3 Liverpool dari Man City akibat celah pada sistem tekanan tinggi Andoni Iraola saat menghadapi situasi kartu merah.

Kekalahan telak 0-3 yang dialami Liverpool saat menjamu Manchester City di Stadion Anfield menjadi bahan evaluasi besar bagi Andoni Iraola. Meskipun perekrutan Iraola awalnya diharapkan membawa kembali semangat gegenpressing ala era Juergen Klopp, pertandingan pada Minggu (11/10/2026) tersebut mengungkap adanya celah krusial dalam strategi yang ia terapkan.

Perbedaan Taktik: Klopp vs Iraola

Banyak penggemar melihat kemiripan antara gaya bermain Liverpool saat ini dengan era Klopp, terutama dalam hal upaya merebut bola secepat mungkin. Namun, terdapat perbedaan fundamental dalam eksekusinya. Jika Klopp lebih mengedepankan kepadatan kolektif di sekitar area bola, sistem tekanan tinggi Iraola lebih mengandalkan penjagaan ketat pada pergerakan pemain lawan guna memutus jalur operan.

Kedua metode ini menuntut disiplin tinggi. Namun, ketergantungan pada koordinasi antar pemain membuat sistem Iraola sangat rentan jika salah satu elemen dalam struktur tersebut hilang dari lapangan.

Titik Lemah Saat Kehilangan Pemain

Bencana dimulai pada menit ke-62 ketika Ryan Gravenberch menerima kartu merah setelah melanggar Elliot Anderson. Insiden ini seketika merusak keseimbangan taktik Liverpool. Tanpa Gravenberch, sistem tekanan tinggi Iraola kehilangan tumpuan di lini tengah.

  • Beban Kerja Pemain: Alexis Mac Allister terpaksa menutup area yang jauh lebih luas untuk menghalau distribusi bola City.
  • Penurunan Intensitas: Para pemain depan terpaksa turun lebih dalam untuk membantu pertahanan, yang mengakibatkan jarak antar lini menjadi renggang.
  • Ruang Terbuka: Manchester City dengan mudah memanfaatkan celah tersebut untuk menguasai permainan.

Kelemahan ini terbukti fatal. Hanya berselang 2 menit 37 detik setelah kartu merah, Erling Haaland mencetak gol pembuka bagi City pada menit ke-65. Meskipun Iraola mencoba melakukan penyesuaian dengan memasukkan Trey Nyoni menggantikan Florian Wirtz, dampak negatifnya sudah terlalu dalam.

Kegagalan Adaptasi dan Dampak Klasemen

Manchester City menunjukkan kelasnya dengan menghukum Liverpool melalui gol dari Jeremy Doku (menit ke-68) dan disempurnakan oleh Rayan Cherki. Kapten Liverpool, Virgil Van Dijk, mengakui bahwa kartu merah tersebut mengubah drastis jalannya pertandingan melalui wawancara dengan Sky Sports.

“Kartu merah jelas mengubah sebagian besar jalannya pertandingan, terutama ketika kami kebobolan begitu cepat setelahnya.”

Kekalahan ini memberikan pelajaran berharga bagi Iraola mengenai pentingnya kecepatan adaptasi. Membangun sistem yang agresif memang menarik, namun kesiapan untuk beralih ke mode bertahan saat menghadapi situasi sulit adalah kunci di kompetisi sekelas Liga Inggris.

Secara klasemen, hasil ini sangat kontras bagi kedua tim. Manchester City melanjutkan tren positif mereka dengan enam kemenangan beruntun, mengoleksi 18 poin dan memimpin klasemen. Sementara itu, Liverpool harus merosot ke posisi sembilan dengan raihan sembilan poin setelah mencicipi kekalahan pertama mereka musim ini.

Sumber referensi: www.kompas.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *