Eyal Zamir: Sang Penjaga Batin IDF yang Memperingatkan Keruntuhan Militer Israel
Berita Hari Ini – 06 April 2026 | Eyal Zamir, Letnan Jenderal yang menjabat sebagai Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), kembali menjadi sorotan publik setelah mengeluarkan peringatan tegas mengenai potensi keruntuhan internal militer Israel. Dalam serangkaian pertemuan internal dengan kabinet keamanan pada awal April 2026, Zamir menyoroti serangkaian masalah struktural yang mengancam kemampuan operasional IDF, terutama di tengah tekanan konflik multi‑front yang melibatkan Gaza, Lebanon Selatan, Tepi Barat, serta ancaman terbuka dari Iran.
Berbekal latar belakang kuat di korps lapis baja serta pengalaman sebagai Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan dan Wakil Kepala Staf IDF, Zamir dikenal sebagai figur militer yang pragmatis dan teknokratis. Sikapnya yang biasanya tenang berubah menjadi lebih vokal ketika ia mengangkat “bendera merah” terkait kesiapan tempur pasukan. Ia menegaskan bahwa ancaman terbesar bukanlah serangan eksternal melainkan krisis sistemik yang menggerogoti fondasi pertahanan dari dalam.
Masalah Ketenagakerjaan dan Kewajiban Militer
Menurut Zamir, ketergantungan pada sistem wajib militer nasional – yang selama ini menjadi ciri khas tentara rakyat Israel – kini mulai menunjukkan kelemahan. Walaupun hampir seluruh warga negara diwajibkan menjalani dinas militer, pengecualian historis bagi komunitas Yahudi ultra‑Ortodoks (Haredi) menciptakan ketidakseimbangan beban. Diperkirakan puluhan ribu pria Haredi berusia produktif memenuhi syarat tempur namun belum terdaftar dalam sistem militer, sementara IDF mengalami kekurangan belasan ribu personel tempur untuk mempertahankan stabilitas di berbagai front.
- Kurangnya partisipasi Haredi menimbulkan tekanan sosial dan mengancam kohesi dalam masyarakat.
- Kekurangan personel diperkirakan menambah beban pada sistem reservis yang sudah tertekan.
Zamir menekankan perlunya reformasi undang‑undang wajib militer yang memperluas partisipasi, agar struktur pertahanan tidak semakin rapuh.
Kelelahan Reservis dan Dampak Ekonomi
Sistem cadangan (reservist) IDF telah dipanggil berulang kali sejak konflik besar pada Oktober 2023 hingga 2026. Banyak reservis menghadapi kelelahan fisik, gangguan ekonomi pribadi, serta tekanan psikologis pada keluarga. Zamir memperingatkan bahwa rotasi pasukan yang terus dipaksakan tanpa penambahan personel baru tidak berkelanjutan. “Jika kami terus mengandalkan cadangan tanpa memperkuat basis personel baru, sistem pertahanan kami akan terancam,” ujarnya dalam salah satu pertemuan.
Tekanan Multi‑Front dan Kapasitas Militer
Israel kini menghadapi setidaknya lima front sekaligus: Gaza, Lebanon Selatan, Tepi Barat, perbatasan Suriah, serta ancaman potensial dari Iran. IDF dilaporkan kekurangan ribuan tentara tempur hanya untuk menjaga posisi rutin harian. Pengurangan masa dinas wajib militer pada masa lalu turut menciptakan kekosongan dalam rotasi pasukan, menambah beban pada unit‑unit yang masih aktif.
Dalam konteks geopolitik yang semakin kompleks, Zamir menyoroti ketidakseimbangan antara ambisi politik dan kapasitas militer riil. Ia menegaskan bahwa tanpa penyesuaian kebijakan dan penambahan sumber daya manusia, Israel berisiko kehilangan keunggulan operasionalnya.
Secara keseluruhan, peringatan Zamir mencerminkan keprihatinan mendalam terhadap keberlanjutan sistem pertahanan Israel. Ia menyerukan dialog lintas sektoral antara militer, pemerintah, dan masyarakat untuk menemukan solusi yang dapat menyeimbangkan beban wajib militer, memperkuat cadangan, serta mengatasi ketegangan internal yang dapat memicu keruntuhan struktural.
Dengan latar belakang teknis dan pengalaman komando yang luas, Eyal Zamir tetap menjadi suara penting dalam debat keamanan nasional Israel. Peringatannya menjadi sinyal bagi pembuat kebijakan bahwa reformasi struktural tidak dapat ditunda lagi jika Israel ingin menjaga kemampuan pertahanannya di tengah ancaman regional yang terus berkembang.