Kebakaran Hebat di SPBE Cimuning, 17 Luka, 19 Rumah Hangus, DPRD Desak Pendataan dan Evaluasi Lokasi
Berita Hari Ini โ 03 April 2026 | Kebakaran dahsyat melanda Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) Cimuning, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, pada malam Rabu 1 April 2026 sekitar pukul 21.30 WIB. Ledakan beruntun mengakibatkan api meluas hingga area permukiman sekitar, menewaskan tidak ada korban jiwa namun melukai 17 orang, termasuk seorang balita, serta merusak lebih dari 19 rumah dan sejumlah fasilitas umum.
Kronologi Kebakaran
Api pertama terlihat muncul dari tabung utama SPBE, diduga karena kebocoran gas atau arus pendek listrik. Kebakaran tak dapat dipadamkan secara total hingga pukul 03.45 WIB keesokan harinya, memakan waktu lebih dari enam jam. Selama proses pemadaman, sembilan unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Bekasi, ditambah tiga unit rescue serta bantuan tambahan tiga unit dari Kabupaten Bekasi.
Kerusakan dan Korban
Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi, kerusakan meliputi 15 rumah di RT 02 RW 003, empat rumah di RT 01 RW 003, dua kios, satu mushala, serta sejumlah kendaraan roda dua dan truk SPBE. Sebanyak enam unit truk SPBE dan tujuh sepeda motor turut rusak berat. Area terbakar diperkirakan seluas sekitar 2.000 meter persegi.
Korban luka berjumlah 17 jiwa: 14 laki-laki, 2 perempuan, dan 1 anak. Tingkat luka bakar beragam, mulai dari 18 persen hingga lebih dari 50 persen. Lima korban dirawat di RS Citra Arafiq, dua di RSUD Kabupaten Bekasi, tiga di RS Satria Medika, satu di RS Unimedika, dua di RSUD Kota Bekasi, dan dua di RS Kartika Husada. Salah satu balita selamat tanpa luka bakar, namun berada di lokasi bersama ibunya.
Respons Aparatur
Kapolres Metro Bekasi, Kombes Kusumo Wahyu Bintoro, menegaskan bahwa prioritas utama adalah penanganan medis korban dan pemulihan keamanan warga. Tim Laboratorium Forensik (Labfor) polisi telah turun ke lokasi untuk menyelidiki penyebab kebakaran secara ilmiah. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Bekasi, Heryanto, menyebut dugaan awal kebocoran gas, namun menunggu hasil penyelidikan resmi.
Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Barat melalui Area Manager Communication Relations & CSR, Susanto August Satria, menyampaikan permohonan maaf resmi dan menegaskan bahwa perusahaan akan menanggung seluruh biaya pengobatan serta membuka mekanisme ganti rugi bagi warga yang rumahnya rusak.
Tuntutan DPRD dan Langkah Selanjutnya
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bekasi, khususnya Komisi II yang diwakili oleh Anton, menuntut pendataan cepat korban demi percepatan bantuan. Anton menambahkan rencana evaluasi kelayakan operasional semua SPBE di kota tersebut, serta rekomendasi penghentian operasi jika ditemukan pelanggaran.
Anggota Komisi I, Sarwin Edi Saputra, menyoroti letak SPBE yang berada di tengah permukiman padat, meningkatkan risiko kebakaran dan dampaknya. Ia menekankan pentingnya kompensasi yang memadai bagi warga dan menuntut agar tidak ada lagi fasilitas berbahaya yang berdekatan dengan pemukiman.
Penyelidikan dan Dugaan Penyebab
Berbagai pihak mengemukakan dugaan penyebab. DetikNews menyebut kebocoran gas dari tabung utama sebagai kemungkinan utama, sementara Kompas melaporkan dugaan awal berasal dari gudang LPG milik PT Indogas Andalan Kita. Sementara DPRD mengutip kemungkinan arus pendek listrik sebagai faktor pemicu. Semua hipotesis tersebut kini berada dalam proses verifikasi oleh tim Labfor dan penyidik kepolisian.
Hasil akhir penyelidikan diharapkan dapat memberikan rekomendasi kebijakan bagi otoritas daerah, termasuk penataan ulang zona aman bagi fasilitas pengisian LPG, serta standar keselamatan yang lebih ketat.
Dengan dampak yang signifikan bagi ribuan warga di sekitarnya, kebakaran SPBE Cimuning menjadi peringatan penting mengenai perlunya regulasi yang lebih kuat, pengawasan ketat, serta koordinasi cepat antara aparat keamanan, layanan darurat, dan pemangku kepentingan industri energi.