Mengapa Dua Tanker Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz Sementara Malaysia Lewat Tanpa Tarif?
Berita Hari Ini – 01 April 2026 | PT Pertamina (Persero) masih menghadapi kendala serius dalam menyalurkan dua kapal tanker miliknya melalui Selat Hormuz, meski negara tetangga seperti Malaysia sudah dapat melintasinya tanpa dikenakan tarif khusus. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai faktor politik, keamanan, serta prosedur teknis yang memengaruhi pergerakan armada Indonesia di wilayah strategis tersebut.
Sejak meletusnya konflik antara Israel‑Amerika Serikat dan Iran pada akhir Februari 2026, empat kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) tertahan di perairan Teluk Persia. Pada pertengahan Maret, dua di antaranya, PIS Rinjani dan PIS Paragon, berhasil keluar dari zona konflik, namun tidak untuk tujuan pasokan minyak domestik. Kedua kapal tersebut melayani pihak ketiga dan tidak langsung menyokong ketahanan energi Indonesia. Dua kapal lainnya masih berada di area yang sama, menunggu izin resmi untuk melintasi Selat Hormuz.
Negosiasi Diplomatik dengan Iran
Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Yvonne Mewengkang, menyatakan bahwa koordinasi intensif antara Kementerian Luar Negeri, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tehran, dan otoritas Iran telah menghasilkan “sinyal positif”. Iran secara tertulis menyatakan kesediaannya mengizinkan kapal Pertamina melintasi Selat Hormuz dengan aman. Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Vahd Nabyl Mulachela, yang menegaskan bahwa pemerintah Iran menanggapi positif permohonan Indonesia.
Meski demikian, persetujuan diplomatik belum otomatis mengatasi seluruh hambatan. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Kementerian Luar Negeri, masih harus menyelesaikan sejumlah persiapan teknis yang meliputi perlindungan asuransi, verifikasi keselamatan, dan kesiapan kru kapal. Juru bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menegaskan bahwa langkah‑langkah tersebut harus selesai sebelum kapal dapat menembus Selat Hormuz secara resmi.
Perbedaan dengan Malaysia
Malaysia, sebagai negara tetangga, telah berhasil melewati Selat Hormuz tanpa dikenakan tarif khusus atau pembatasan signifikan. Keberhasilan ini sebagian besar disebabkan oleh hubungan bilateral yang lebih lama dengan Iran serta perjanjian perdagangan maritim yang telah disepakati sebelumnya. Malaysia juga memiliki armada yang secara rutin beroperasi di perairan Teluk Persia, sehingga prosedur perizinan dan asuransi sudah terstandardisasi.
Berbeda dengan itu, Indonesia baru saja meningkatkan intensitas diplomasi setelah kejadian konflik. Karena belum ada kesepakatan tarif khusus antara Indonesia dan Iran, setiap kapal yang ingin melintasi Selat Hormuz harus menunggu persetujuan individual, yang secara otomatis menambah kompleksitas dan waktu tunggu.
Aspek Keamanan dan Asuransi
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penyeluran minyak paling strategis di dunia, namun juga dikenal rawan terhadap ketegangan militer. Karena itu, perusahaan pelayaran dan pemerintah harus memastikan perlindungan asuransi yang memadai. Pertamina melaporkan bahwa proses evaluasi risiko masih berlangsung, termasuk penilaian potensi serangan, kecelakaan, serta kebijakan asuransi internasional yang berlaku.
Kesiapan kru juga menjadi faktor kritis. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa kondisi awak kapal terus dipantau secara intensif. Seluruh anggota kru berada dalam keadaan aman, meski mereka harus menunggu keputusan akhir untuk melanjutkan perjalanan.
Langkah-Langkah Selanjutnya
- Penegasan kembali dukungan diplomatik melalui Kementerian Luar Negeri dan KBRI di Tehran.
- Finalisasi paket asuransi yang mencakup risiko militer dan maritim di wilayah Selat Hormuz.
- Persiapan teknis kapal, termasuk inspeksi keselamatan dan kesiapan navigasi.
- Koordinasi dengan otoritas pelayaran internasional untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi maritim.
- Pengumuman resmi kepada publik setelah semua persyaratan terpenuhi.
Selama proses ini, Pertamina berkomitmen untuk memberikan pembaruan secara berkala kepada publik dan memastikan bahwa setiap langkah diambil dengan memperhatikan kepentingan nasional, keamanan kru, serta stabilitas pasar energi Indonesia.
Kesimpulannya, perbedaan utama antara kemampuan Malaysia dan Indonesia dalam melintasi Selat Hormuz terletak pada kedalaman hubungan diplomatik, kesepakatan tarif, serta kesiapan teknis dan asuransi. Hingga semua prasyarat tersebut terpenuhi, dua tanker Pertamina akan tetap menunggu izin resmi untuk melintasi Selat Hormuz, meski sinyal positif dari Iran sudah muncul.