Berita Hari Ini – 07 April 2026 | Jakarta, 2 April 2026 – Pemerintah Indonesia bersama Korea Selatan menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerja sama di bidang industri jasa instalasi lepas pantai yang membuka peluang strategis bagi Pertamina dan perusahaan baja asal Korea Selatan, POSCO, untuk mengembangkan teknologi rendah karbon. Kesepakatan yang diratifikasi dalam pertemuan bilateral di Istana Kepresidenan Republik Korea (Blue House) pada 1 April 2026 ini menegaskan komitmen kedua negara dalam memperkuat sinergi sektor migas serta memajukan agenda dekarbonisasi energi.
Ruang Lingkup MoU dan Fokus Teknologi
MoU yang ditandatangani oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Samudra serta Perikanan Republik Korea Hwang Jongwoo mencakup tiga pilar utama: pengembangan teknologi industri jasa instalasi di perairan, pembongkaran (decommissioning) anjungan lepas pantai pasca‑operasional, serta pemanfaatan kembali (reutilization) fasilitas tersebut untuk keperluan energi bersih. Dalam konteks ini, POSCO akan membawa keahlian dalam bidang rekayasa baja dan solusi infrastruktur karbon, sementara Pertamina menyediakan akses ke lapangan migas domestik dan jaringan distribusi energi.
Strategi Decommissioning dan Reutilisasi
Sejumlah anjungan lepas pantai yang telah selesai masa operasinya di perairan Indonesia diproyeksikan akan mengalami proses pembongkaran. Alih-alih menjadi limbah, fasilitas tersebut akan diubah menjadi lokasi penerima LNG (LNG Receiving Terminal) serta instalasi penangkap dan penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS). Posisi strategis Indonesia sebagai negara kepulauan memberikan keunggulan geografis bagi proyek CCS skala besar, dan POSCO berencana menyediakan teknologi penyerapan CO₂ berbasis material baja inovatif yang dapat menurunkan biaya operasional.
Manfaat bagi SDM dan Industri Nasional
MoU menekankan pentingnya transfer pengetahuan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Program pelatihan bersama antara institusi pendidikan Indonesia dan pusat riset POSCO di Korea diharapkan menghasilkan tenaga ahli yang kompeten dalam desain instalasi offshore berkelanjutan, teknik dekomisioning, serta pengelolaan infrastruktur CCS. Selain itu, kerja sama publik‑privat akan membuka peluang bagi perusahaan energi nasional, termasuk Pertamina Group, untuk terlibat dalam proyek‑proyek skala besar, memperluas portofolio bisnis energi bersih, dan meningkatkan daya saing di pasar internasional.
Implikasi Ekonomi dan Lingkungan
Dengan nilai ekonomi potensial mencapai ratusan triliun rupiah selama lima tahun pertama, MoU ini diharapkan dapat menarik investasi asing langsung (FDI) yang signifikan. Selain menciptakan lapangan kerja baru di sektor teknik, logistik, dan layanan lingkungan, proyek decommissioning dan reutilisasi akan mengurangi emisi metana serta CO₂ yang biasanya dilepaskan dari anjungan lepas pantai usang. Integrasi fasilitas LNG dan CCS di satu lokasi juga memungkinkan optimalisasi penggunaan energi dan infrastruktur, sehingga menurunkan jejak karbon nasional.
Langkah Selanjutnya dan Jadwal Implementasi
- Triwulan I 2026: Pembentukan tim kerja gabungan Pertamina‑POSCO dan lembaga riset Indonesia‑Korea.
- Triwulan II 2026: Penyusunan roadmap teknis decommissioning pada tiga anjungan lepas pantai pertama.
- Triwulan III 2026: Peluncuran program pelatihan teknis bagi 200 insinyur dan teknisi muda.
- Triwulan IV 2026: Mulai konstruksi fasilitas pilot LNG Receiving Terminal dan unit CCS di lokasi anjungan yang dibongkar.
- 2027‑2029: Ekspansi skala penuh, evaluasi kinerja lingkungan, serta negosiasi perpanjangan MoU.
Keberhasilan implementasi MoU sangat bergantung pada koordinasi lintas kementerian, dukungan kebijakan fiskal, serta komitmen investasi dari sektor swasta. Pemerintah Indonesia telah menyiapkan insentif pajak dan regulasi yang mempermudah proses perizinan, sementara Korea Selatan menyediakan bantuan teknis melalui lembaga seperti Korea Institute of Energy Technology.
Secara keseluruhan, kerja sama antara Pertamina dan POSCO dalam kerangka MoU dengan Korea Selatan menandai langkah penting bagi Indonesia dalam transisi energi rendah karbon. Dengan memanfaatkan keahlian teknologi Korea Selatan dan jaringan operasional Pertamina, negara ini dapat memperkuat posisinya sebagai pemain strategis di pasar migas sekaligus menyiapkan infrastruktur energi bersih yang mendukung target net‑zero pada dekade mendatang.