Berita Hari Ini – 05 April 2026 | Jakarta, 5 April 2026 – Tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang gugur dalam operasi penjaga perdamaian PBB di Lebanon resmi menerima Medali Dag Hammarskjöld, penghargaan anumerta yang diberikan kepada anggota misi perdamaian yang tewas saat bertugas. Upacara penghargaan sekaligus pemulangan jenazah berlangsung di Bandara Soekarno‑Hatta pada Sabtu malam, 4 April 2026, dengan kehadiran Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak.
Identitas Prajurit yang Gugur
- Kapten Infanteri (Inf) Zulmi Aditya Iskandar – mayor anumerta.
- Serka (Sersan Satu) Muhammad Nur Ichwan – serka anumerta.
- Kopda (Prajurit Kepala) Farizal Rhomadhon – kopda anumerta.
Ketiga prajurit tersebut merupakan bagian dari unit pasukan perdamaian UNIFIL (United Nations Interim Force Lebanon) yang dipilih melalui proses seleksi ketat. Selama penugasan, mereka terlibat dalam operasi rutin pemantauan perbatasan serta penanggulangan konflik lokal. Pada 3 April 2026, ketiganya tewas dalam insiden tembakan di zona penyangga, menambah deretan korban jiwa TNI dalam misi luar negeri.
Penghargaan Medali Dag Hammarskjöld
Medali Dag Hammarskjöld, yang pertama kali diperkenalkan pada 22 Juli 1997 oleh Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan, dirancang sebagai bentuk penghargaan anumerta bagi anggota operasi penjaga perdamaian yang gugur dalam melaksanakan tugas di bawah mandat PBB. Medali berupa elipsoid kristal kaca timbal bening berukuran sekitar 2 7/8 × 2 1/4 × 11 1/16 inci, dihiasi nama, tanggal kematian, logo PBB, serta tulisan “The Dag Hammarskjöld Medal – In Service of Peace” dalam bahasa Inggris dan Prancis. Setiap medali ditempatkan di atas alas beludru hitam dengan pita biru khas PBB.
Panglima TNI menegaskan bahwa ketiga prajurit akan menerima medali tersebut sebagai simbol pengabdian mereka kepada perdamaian dunia. “Penghargaan ini tidak hanya menghormati pengorbanan mereka, tetapi juga menegaskan komitmen Indonesia dalam mendukung operasi perdamaian internasional,” ujar Jenderal Agus Subiyanto dalam sambutan singkat.
Hak Anumerta dan Santunan Keluarga
KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak menambahkan bahwa keluarga korban akan memperoleh hak‑hak anumerta secara penuh, meliputi kenaikan pangkat luar biasa, santunan finansial, serta dukungan psikologis. Rincian santunan yang diumumkan antara lain:
| Prajurit | Santunan (Rp) |
|---|---|
| Kapten Zulmi Aditya Iskandar | 1.894.688.236 |
| Serka Muhammad Nur Ichwan | 1.846.309.049 |
| Kopda Farizal Rhomadhon | 1.854.075.205 |
Selain itu, keluarga juga akan menerima tunjangan pensiun, pendidikan bagi anak-anak, serta fasilitas perawatan kesehatan jangka panjang. Presiden Prabowo Subianto, yang turut memimpin upacara penghormatan, menyampaikan rasa duka yang mendalam sekaligus menegaskan komitmen negara untuk terus melindungi hak-hak keluarga prajurit yang gugur.
Reaksi dan Harapan Nasional
Masyarakat dan kalangan veteran menanggapi dengan penghargaan tinggi atas keberanian prajurit yang mengabdi di luar negeri. Sebuah organisasi veteran menilai bahwa medali Dag Hammarskjöld menambah nilai historis dan moral bagi pasukan Indonesia, sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai kontributor penting dalam misi perdamaian global.
Dalam kesempatan yang sama, Jenderal Maruli menegaskan bahwa TNI akan terus memantau kondisi prajurit lain yang masih berada di Lebanon, termasuk delapan anggota yang dilaporkan mengalami luka ringan hingga berat. “Kami berkomitmen memberikan dukungan medis, logistik, dan moral kepada semua prajurit kami di medan operasi,” ujarnya.
Upacara pemakaman seremonial bagi ketiga prajurit dijadwalkan berlangsung pada 6 April 2026 di Taman Makam Pahlawan, dengan prosesi yang melibatkan pasukan militer, perwakilan pemerintah, serta perwakilan keluarga.
Penghargaan Medali Dag Hammarskjöld dan paket hak anumerta ini diharapkan menjadi contoh bagi institusi militer lain dalam menghormati jasa prajurit yang mengorbankan nyawa demi perdamaian internasional. Dengan dukungan penuh dari pemerintah, TNI, dan PBB, keluarga korban dapat melanjutkan hidup dengan rasa bangga atas pengabdian sang putra‑putri bangsa.
Ke depan, Indonesia bertekad untuk terus meningkatkan kualitas personel penanggulangan damai, memperkuat kerja sama dengan PBB, serta memastikan bahwa setiap prajurit yang berbakti di luar negeri mendapatkan penghargaan dan perlindungan yang setimpal.