Piala Dunia 2026: Argentina Tewas di Tangan Spanyol, Apa yang Salah?
Argentina tewas di tangan Spanyol dalam pertandingan final Piala Dunia 2026. Pemain Spanyol, Ferran Torres, mencetak gol penentu di babak perpanjangan waktu, sedangkan Rodri mengangkat trofi setinggi-tingginya di Metlife Stadium, Amerika Serikat, Senin (20/07) dini hari.
Momen Penentu di Menit Akhir
Pertandingan final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol berlangsung dengan intensitas tinggi. Spanyol yang menguasai bola sebesar 65% memiliki ekspektasi gol sebesar 1,94 dan melepaskan 20 tembakan ke gawang Argentina, 11 di antaranya tepat sasaran. Kiper Spanyol, Unai Simon, mencatatkan nirbobol ketujuh dalam delapan pertandingan Piala Dunia 2026 dan meraih penghargaan Sarung Tangan Emas sebagai kiper terbaik turnamen.
Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Dalam pertandingan final Piala Dunia 2026, Spanyol hanya kebobolan satu gol di Piala Dunia 2026. Ini jumlah kebobolan paling sedikit di antara semua tim yang pernah meraih juara Piala Dunia. Selain itu, Spanyol memiliki rekor tak terkalahkan dalam 38 pertandingan terakhir mereka di semua kompetisi, yang merupakan rekor terpanjang yang pernah dicatat oleh tim Eropa mana pun dalam sejarah.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Kemenangan Spanyol dalam Piala Dunia 2026 memiliki dampak besar bagi sepak bola internasional. Mereka telah membuktikan bahwa mereka adalah tim paling unggul di dunia, dengan gelar Piala Dunia, juara Olimpiade, dan Piala Eropa. Rekor tak terkalahkan mereka dalam 38 pertandingan terakhir juga menunjukkan bahwa mereka memiliki kekuatan yang kuat dan stabil.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Meskipun Argentina tewas di tangan Spanyol, mereka masih memiliki jalan panjang yang harus ditempuh untuk mencapai kesuksesan. Mereka harus belajar dari kesalahan mereka dan meningkatkan kemampuan mereka untuk menghadapi tim-tim kuat seperti Spanyol. Argentina juga harus mempersiapkan diri untuk pertandingan-pertandingan mendatang, termasuk Piala Dunia 2030, untuk memiliki kesempatan untuk merebut gelar juara dunia. Spanyol mengalami awal yang kurang mulus di Piala Dunia 2026 dengan hasil imbang 0-0 melawan Cape Verde. Ketika Spanyol meraih gelar juara dunia pada 2010, mereka juga gagal memenangkan pertandingan pembuka, karena kekalahan 1-0 dari Swiss pada 2010. Merujuk data lainnya, hanya ada tiga catatan sejarah di mana seorang pemain berhasil melakukan 100 umpan atau lebih dalam final Piala Dunia. Dua di antaranya adalah pemain Spanyol yang melakukannya pada laga final ini, yaitu Rodri dengan 101 umpan dan Pau Cubarsi dengan 121 umpan. Pada usia 19 tahun dan enam hari, Lamine Yamal menjadi pemain termuda ketiga yang tampil di final Piala Dunia, setelah Pele pada 1958 dan Giuseppe Bergomi pada 1982. Kini, ia menjadi pemenang termuda ketiga. Argentina sering kali digambarkan sebagai tokoh antagonis dalam dunia sepak bola internasional, terutama oleh para penggemar Inggris. Seperti yang mereka lakukan di semifinal melawan Three Lions pada Piala Dunia 2026, pada babak pertama laga final Argentina tampak lebih tertarik untuk menghalangi jalannya pertandingan daripada bermain sepak bola itu sendiri. Leandro Paredes menjadi pengacau utama, dengan Enzo Fernandez sebagai wakilnya. Meskipun empat pemain Argentina mendapat kartu kuning, banyak yang merasa hal itu semakin memperkuat anggapan bahwa mereka mendapat perlakuan yang lebih lunak dari wasit di turnamen ini. Argentina melakukan total 464 operan, dibandingkan dengan 852 operan milik Spanyol. Namun, tidak seperti Inggris, Spanyol tidak melemah di babak kedua. Seandainya mereka memenangkan pertandingan ini jauh sebelum gol Torres pada menit ke-106, mereka mungkin telah memenangkan Piala Dunia ini dengan lebih mudah.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cjrv4g7l25xo?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.