Budaya pamali di Ciamis telah menjadi benteng tak terlihat, menolak penebangan liar sekaligus menjaga keseimbangan alam. Fenomena ini menimbulkan minat riset yang melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Ciamis. Penelitian ini bertujuan memahami keterkaitan kearifan lokal dengan kelestarian lingkungan, khususnya melalui situs budaya dan keramat yang berfungsi sebagai penyangga permukiman, penjaga sumber air, dan benteng alami pencegah erosi.
Riset Kolaboratif: Menelusuri Tanda-tanda Tradisi yang Menjaga Alam
Sejak Minggu hingga Senin (24/8/2026), tim peneliti BRIN melakukan survei di sejumlah situs budaya dan tempat keramat di Ciamis. Mereka menelusuri jalur dari cagar budaya yang sudah mapan hingga situs yang masih dalam tahap pengusulan. Setiap lokasi diuji untuk mengidentifikasi peran kearifan lokal dalam melindungi lingkungan. Kepala Disbudpora Ciamis, Dian Budiyana, menegaskan bahwa riset ini tidak sekadar mengamati peninggalan masa lalu, melainkan menilai kontribusi situs tersebut bagi ekosistem yang melindungi masyarakat saat ini.
Di Kampung Adat Kuta, salah satu contoh nyata, hutan larangan berdiri kokoh di bawah area permukiman. Pohon-pohon raksasa di sana tetap tegak karena tabu untuk ditebang, sehingga menjadi benteng alami yang menahan erosi dan menjaga kualitas air. Peneliti mencatat bahwa tradisi pamali ini tidak hanya melindungi hutan, tetapi juga menciptakan ruang hidup yang seimbang bagi penduduk setempat.
Konsep Ekosistem Keramat: Hubungan Antara Kearifan Lokal dan Mitigasi Bencana
Dalam perjalanan riset, tim BRIN menemukan bahwa banyak situs keramat berperan penting dalam mitigasi bencana. Misalnya, situs di wilayah yang rawan longsor seringkali dipilih sebagai tempat beribadah karena kepercayaan bahwa tempat tersebut memiliki kekuatan alam yang menstabilkan tanah. Dengan menjaga kebersihan dan tidak menebang pohon di sekitar situs, masyarakat secara tidak langsung mencegah risiko longsor.
Konsep kosmologi ekosistem situs keramat menekankan bahwa alam dan budaya saling terkait. Setiap pohon, batu, atau struktur tradisional dianggap sebagai bagian integral dari sistem ekologi. Ketika satu elemen terganggu, dampaknya dapat merambat ke seluruh jaringan kehidupan. Oleh karena itu, pelestarian situs-situs ini menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan lingkungan di Ciamis.
Pengaruh Tradisi Pamali terhadap Pembangunan Berkelanjutan
Budaya pamali memunculkan konflik antara tradisi dan pembangunan. Di satu sisi, pemerintah dan sektor swasta ingin mengembangkan lahan untuk pertanian, perumahan, atau infrastruktur. Di sisi lain, masyarakat setempat menegaskan hak atas hutan larangan dan menolak penebangan liar. Riset menunjukkan bahwa ketika tradisi pamali dihormati, proyek pembangunan dapat direncanakan dengan lebih sensitif terhadap lingkungan.
Penggunaan pendekatan berbasis budaya juga dapat memperkuat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam. Ketika warga merasa bahwa nilai budaya mereka diakui, mereka lebih cenderung menjaga kebersihan dan menghindari tindakan yang merusak. Hal ini menciptakan siklus positif antara pelestarian budaya dan pelestarian alam.
Peran Pemerintah dan Lembaga Riset dalam Menjaga Budaya Pamali
Kolaborasi antara BRIN dan Disbudpora Ciamis menandai langkah penting dalam melestarikan budaya pamali. Pemerintah daerah bertugas mengkoordinasikan upaya konservasi, sementara lembaga riset menyediakan data ilmiah yang mendukung kebijakan. Selain itu, penyuluhan kepada masyarakat mengenai manfaat ekologis dari hutan larangan menjadi bagian integral dari strategi pelestarian.
Inisiatif ini juga membuka peluang bagi pengembangan ekonomi berkelanjutan. Misalnya, ekowisata berbasis budaya dapat menarik pengunjung yang menghargai keindahan alam dan warisan tradisi. Pendapatan dari kegiatan ini dapat digunakan untuk memperbaiki infrastruktur lokal tanpa mengorbankan nilai budaya.
Kesimpulan: Budaya Pamali sebagai Pilar Kelestarian Lingkungan
Budaya pamali di Ciamis bukan sekadar tradisi lama, melainkan benteng tak terlihat yang menolak penebangan liar dan menjaga keseimbangan ekosistem. Riset kolaboratif BRIN dan Disbudpora menunjukkan bahwa situs budaya dan keramat berperan penting dalam mitigasi bencana dan pelestarian sumber daya alam. Dengan menghormati dan melestarikan tradisi pamali, masyarakat dapat menciptakan sinergi antara pembangunan dan pelestarian lingkungan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://travel.detik.com/travel-news/d-8635701/budaya-pamali-jadi-benteng-penyelamat-alam-ciamis, without altering the facts of the original article.