14 Agustus 2026
featured_image

Tren Media Sosial yang Akan Populer di Tahun 2026

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tren SEO Terbaru Tahun 2026 yang Wajib Diketahui

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Roadmap Belajar Digital Marketing dari Pemula hingga Mahir

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tempat Belajar Digital Marketing Gratis dan Berkualitas

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia
Abdul Hamid, kakek 78 tahun, menjaga tradisi 'Bejiu Safar' Suku Tidung Nunukan dengan tekun. Apa cerita unik di balik ritual tolak bala khas Suku Tidung ini?

Abdul Hamid, seorang kakek 78 tahun, masih telaten mengukir tulisan ayat Al-Qur’an di atas pucuk kelapa muda. Pucuk kelapa khusus ini dinamai Salamun Tujuh, media penting dalam ritual Bejiu Safar atau Mandi Safar tradisi tolak bala khas Suku Tidung.

Momen Penentu di Menit Akhir

Abdul Hamid adalah salah satu tokoh sesepuh yang setia menjaga tradisi leluhur ini di Desa Binusan, Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan. Ceritanya bersama tradisi ini bermula puluhan tahun silam. Ia mengenang, ia pertama kali pindah dari Sembakung ke Binusan pada tahun 1954. Sejak saat itulah ia mulai melihat para tetua kampung rutin menggelar ritual penolak bala setiap bulan Safar. “Saya pindah ke sini tahun 1954. Sejak saat itu ritual bulan Safar ini sudah ada, dijalankan oleh orang-orang tua dulu,” ujar Abdul Hamid, Rabu (12/8/2026).

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Salah satu bagian ritual yang paling krusial dan masih dipertahankan Hamid adalah pembuatan Salamun Tujuh. Tulisan ayat suci di pucuk kelapa ini dibuat langsung oleh tangannya sendiri jelang prosesi dimulai. “Nama medianya Salamun Tujuh. Maknanya untuk membersihkan dan menjauhkan bala-bala yang diturunkan dari langit ke bumi, supaya jauh dari kita,” jelasnya.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Prosesinya pun penuh makna. Sebelum air disiramkan ke tubuh peserta, doa niat Mandi Safar dan salawat dirapalkan terlebih dahulu. Setelah itu, air disiramkan sebanyak tiga kali. Menurut Hamid, seluruh rangkaian ini wajib dibalut dengan salawat dan doa. “Ritual ini adalah ruang untuk memanjatkan doa dan harapan agar kampung halaman kita terhindar dari marabahaya,” katanya.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Bagi Hamid dan warga Suku Tidung, Bejiu Safar bukan sekadar acara mandi bersama di sungai atau pantai. Ritual ini adalah bagian penting dari kehidupan mereka yang harus dipertahankan dan dilestarikan. “Kita harus terus menjaga dan melestarikan tradisi kita ini, agar generasi mendatang tetap memiliki warisan budaya yang kuat,” kata Hamid. Dengan demikian, Abdul Hamid dan warga Suku Tidung Nunukan terus menjaga dan melestarikan tradisi Bejiu Safar, sebagai simbol kehidupan mereka yang kaya akan makna dan nilai.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://kaltim.tribunnews.com/kalimantan-utara/1161118/kisah-abdul-hamid-kakek-78-tahun-penjaga-tradisi-bejiu-safar-suku-tidung-di-nunukan, without altering the facts of the original article.

Tren Media Sosial yang Akan Populer di Tahun 2026

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tren SEO Terbaru Tahun 2026 yang Wajib Diketahui

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Roadmap Belajar Digital Marketing dari Pemula hingga Mahir

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tempat Belajar Digital Marketing Gratis dan Berkualitas

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *