**Ekspor Monyet Ekor Panjang Indonesia untuk Uji Lab di China dan AS, Masyarakat Berharap Perlindungan Primata Ditingkatkan** **Pembuka** Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) Indonesia akan diekspor untuk uji laboratorium di China dan Amerika Serikat. Fasilitas pengembangan monyet ekor panjang di Mesuji, Lampung, telah dibangun untuk menampung monyet yang dianggap mengganggu masyarakat. Namun, perlu dipertanyakan apakah keberadaan pusat penangkaran tersebut akan menciptakan permintaan baru terhadap makaka liar dan memperparah praktik perburuan. **Momen Penentu di Menit Akhir** Pada 1 Agustus lalu, Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, meresmikan instalasi pengembangan makaka atau monyet ekor panjang di Mesuji, Lampung. Menurut Karding, terdapat potensi pasar sekitar 20.000 ekor per tahun di China dan di Amerika Serikat 10.000 ekor per tahun. “Organnya ada kemiripan dengan babi dan manusia, jadi bisa dipakai untuk penelitian. Namun untuk pasar Amerika masih kecil yang membutuhkan banyak adalah pasar China, dan sekarang masih proses negosiasi terkait persyaratan yang harus dipenuhi,” papar Karding. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Menurut Femke Den Hass, pendiri Jakarta Animal Aid Network (JAAN), pembangunan fasilitas itu membuat konservasi dan perlindungan satwa Indonesia kembali ke titik nol. “Monyet ekor panjang yang ditangkap dari alam liar ditempatkan dalam fasilitas baru yang mengerikan di Lampung untuk dikembangbiakkan, agar anak mereka dapat dijual ke China sebagai bahan pengujian toksisitas, meski dunia sudah mengakui banyak alternatif lain dalam pengujian itu tanpa mengorbankan satwa,” jelas Femke. Apakah keberadaan pusat penangkaran tersebut justru dapat menciptakan permintaan baru terhadap makaka liar dan memperparah praktik perburuan? **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Fasilitas yang dikelola PT Biomedikal Nusantara, berdiri di atas lahan 4,9 hektare dengan kapasitas hingga 4.000 ekor. Saat ini mereka telah menampung 804 ekor makaka. Menurut Elfianah, Bupati Mesuji, seseorang harus dalam keadaan sehat sebelum masuk ke dalam fasilitas itu. Baru-baru ini, dirinya mengunjungi fasilitas itu. “Kami dicek kesehatan sebelum masuk, sama sekali tidak boleh ada virus atau penyakit tertentu, ketika masuk pun, kami mengenakan alat pelindung diri (APD),” kata Elfianah. **Tiga Fakta Lain yang Menarik** Direktur PT Biomedikal Nusantara, Reki Chandra, mengatakan satu ekor makaka dapat bernilai US$3.000 hingga US$4.000 atau sekitar Rp48 juta hingga Rp64 juta setelah memenuhi standar riset internasional. Amerika Serikat disebut memiliki kebutuhan sekitar 10.000 ekor per tahun, sementara China mencapai 20.000 ekor per tahun. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Pemerintah menyebut fasilitas itu dibangun untuk mengevakuasi monyet yang selama ini berkonflik dengan masyarakat di Mesuji, Tulang Bawang dan Tulang Bawang Barat. “Monyet yang ditempatkan di fasilitas itu, diisolasi dulu di kandang-kandang khusus untuk dikarantina selama tiga bulan. Setelah dinyatakan sehat, baru dimasukkan ke kandang koloni,” jelas Elfianah, berdasarkan paparan pihak Badan Karantina Indonesia. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Pemerintah harus mempertimbangkan dampak keberadaan pusat penangkaran tersebut pada populasi monyet liar di Indonesia. Selain itu, perlu juga dipertanyakan apakah keberadaan pusat penangkaran tersebut akan menciptakan permintaan baru terhadap makaka liar dan memperparah praktik perburuan. Masyarakat berharap perlindungan primata ditingkatkan dan keberadaan pusat penangkaran tersebut menjadi solusi yang efektif untuk mengatasi konflik satwa dengan manusia.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cr597vzgmm0o?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.