**Jangan Tunggu Api Membesar, Saatnya Kalsel Mengubah Strategi Mitigasi Karhutla** Memasuki akhir Juli 2026, Kalimantan Selatan kembali menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjelang puncak musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sedikitnya 22 titik panas (hotspot) di delapan kabupaten/kota di Kalimantan Selatan. Jumlah tersebut memang belum sebesar beberapa provinsi lain di Pulau Kalimantan maupun Sumatra, tetapi menjadi sinyal awal meningkatnya ancaman karhutla. **Momen Penentu di Menit Akhir** Karhutla bukan sekadar persoalan api. Ia berkaitan dengan tata kelola lahan, pengelolaan air, pemanfaatan teknologi, serta perilaku manusia. Karena itu, strategi penanganannya harus lebih menitikberatkan pada mitigasi daripada sekadar respons darurat. Data SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat hingga awal September 2025 indikasi luas kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan mencapai sekitar 5.517 hektare. Sementara itu, BPBD Kalimantan Selatan mencatat 366 kejadian karhutla dengan 2.395 hotspot pada periode yang sama. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Kerusakan lingkungan akibat karhutla tidak hanya merusak ekosistem hutan, tetapi juga mempengaruhi ketersediaan sumber daya air. Menurunnya kelembapan lahan pada musim kemarau adalah penyebab utama meningkatnya risiko karhutla. Ketika tanah mengering, vegetasi dan bahan organik menjadi sangat mudah terbakar. Karena itu, menjaga ketersediaan air merupakan langkah paling mendasar dalam pencegahan karhutla. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Pengelolaan lahan yang tidak tepat dan kurangnya ketersediaan air dapat menyebabkan karhutla berlanjut ke musim kemarau berikutnya. Hal ini dapat memperburuk kondisi lingkungan dan mempengaruhi ketersediaan sumber daya air. Oleh karena itu, perlu adanya strategi mitigasi yang lebih efektif untuk mengatasi karhutla. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Strategi mitigasi karhutla harus berfokus pada pencegahan dan pengelolaan lahan yang tepat. Pengelolaan kanal dan sekat kanal penting untuk mempertahankan tinggi muka air sehingga gambut tetap lembap. Sementara pada lahan nongambut, pendekatan dapat disesuaikan melalui pembangunan embung, kolam retensi, sumur bor, parit, maupun saluran air sesuai karakteristik wilayah. Dengan demikian, Kalimantan Selatan dapat mengurangi risiko karhutla dan melindungi sumber daya alam.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://banjarmasin.tribunnews.com/kolom/1371787/jangan-tunggu-api-membesarsaatnya-kalsel-mengubah-strategi-mitigasi-karhutla, without altering the facts of the original article.