Pertumbuhan Ekonomi Nasional Dihadapkan pada Tantangan Global dan Perubahan Arus Modal
Jakarta — Meskipun diterpa berbagai tekanan, perekonomian Indonesia masih menunjukkan tanda-tanda ketahanan. Pemerintah melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2026 berada pada kisaran 5,4%–5,5%. Proyeksi ini didukung oleh permintaan domestik yang masih kuat, investasi yang tumbuh melalui proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur, serta kinerja ekspor yang terjaga. Beberapa indikator dini menunjukkan hal positif, seperti penjualan mobil yang tumbuh 28,1% dan sepeda motor 15,4% pada September 2026, serta Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang naik dari 52 menjadi 54 pada Oktober 2026.
Namun, tantangan global tidak bisa dianggap remeh. Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga energi global, yang berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan dan membebani APBN melalui subsidi energi. Selain itu, kebijakan moneter yang ketat di negara-negara maju, terutama Amerika Serikat, telah menyebabkan terjadinya flight to safety di mana investor global memindahkan dana mereka dari pasar berkembang ke aset yang lebih aman seperti obligasi pemerintah AS. Hal ini tercermin dari kuatnya indeks dolar AS dan terbatasnya aliran modal masuk ke negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia.
Perubahan arus modal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah. Ketika modal asing keluar dari pasar saham dan obligasi domestik, tekanan terhadap rupiah dan yield SBN meningkat. Untuk mengompensasi hal ini, pemerintah terpaksa menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi kepada investor, yang pada akhirnya meningkatkan biaya pembiayaan utang. Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai bahwa pemerintah perlu memperkuat pasokan devisa dari sumber-sumber domestik, seperti peningkatan ekspor, devisa dari sektor pariwisata, dan repatriasi penerimaan ekspor sumber daya alam, untuk mengurangi ketergantungan pada arus modal portofolio yang sangat volatil.
Dari sisi fiskal, realisasi APBN hingga kuartal III-2026 menunjukkan kinerja yang cukup baik dengan pendapatan negara tumbuh 25,5% secara tahunan. Namun, belanja negara juga tumbuh tinggi, mencapai 19%, terutama untuk program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis, infrastruktur, dan bantuan sosial. Pemerintah berkomitmen untuk menjaga defisit APBN di bawah 3% dari PDB, meskipun ruang fiskal semakin sempit akibat meningkatnya beban bunga utang dan kebutuhan subsidi.
Ke depan, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan memulihkan kepercayaan investor. Reformasi struktural yang mendorong peningkatan daya saing, perbaikan iklim investasi, dan pengembangan sektor hilirisasi yang bernilai tambah tinggi menjadi kunci untuk menarik kembali arus modal asing. Selain itu, diversifikasi pasar ekspor ke negara-negara non-tradisional juga perlu dilakukan untuk mengurangi dampak dari perlambatan ekonomi global.
Bank Indonesia diperkirakan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi dan kebijakan suku bunga yang pro-stability, sementara pemerintah akan mengoptimalkan belanja negara untuk menopang daya beli masyarakat. Dengan sinergi kebijakan yang kuat antara otoritas fiskal, moneter, dan sektor keuangan, Indonesia memiliki peluang untuk tetap tumbuh di atas 5% meskipun menghadapi tantangan global yang tidak ringan. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat ketidakpastian global yang masih tinggi dan potensi gejolak pasar keuangan yang dapat terjadi kapan saja.
Penulis : FEBRY SETIYA ANGGARA

