Perjalanan perkeretaapian di Sumatera Utara memasuki babak penting. Pada 2026, jalur MedanâLabuhan yang menjadi tonggak awal perkeretaapian modern di wilayah tersebut genap berusia 140 tahun. Momentum ini menjadi pengingat bahwa kereta api telah memainkan peran strategis dalam mendukung mobilitas masyarakat, distribusi logistik, hingga pertumbuhan ekonomi daerah sejak era kolonial hingga saat ini. Sejarah jalur Medan-Labuhan menjadi bagian penting dalam memahami perkembangan transportasi di Sumatera.
Jejak Rel yang Menghubungkan Sumatera
Sejarah perkeretaapian Sumatera Utara bermula pada akhir abad ke-19 ketika Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), perusahaan kereta api swasta Belanda, membangun jaringan rel untuk menghubungkan kawasan perkebunan dengan pusat perdagangan dan pelabuhan. Tonggak sejarah itu tercatat pada 25 Juli 1886 ketika jalur MedanâLabuhan sepanjang 16,743 kilometer resmi beroperasi. Jalur tersebut menjadi urat nadi distribusi hasil perkebunan yang saat itu menjadi penggerak utama ekonomi Sumatera Timur.
Seiring berjalannya waktu, jaringan rel berkembang dan menghubungkan berbagai wilayah penting seperti Medan, Binjai, Tebing Tinggi, Pematangsiantar, Tanjungbalai, hingga Rantau Prapat. Tidak hanya mendukung pengangkutan komoditas seperti tembakau Deli, karet, dan kelapa sawit, kereta api juga berperan dalam mendorong pertumbuhan kota-kota yang dilaluinya.
Menguatkan Konektivitas Trans Sumatera
Saat ini, PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus memperkuat layanan di Sumatera Utara sebagai bagian dari agenda besar konektivitas Trans Sumatera. Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menegaskan bahwa sejarah panjang tersebut menunjukkan peran penting kereta api sebagai penghubung berbagai aktivitas masyarakat dan ekonomi. âRel Sumatera Utara lahir dari kebutuhan akses. Dulu menghubungkan perkebunan dan pelabuhan, hari ini melayani perjalanan masyarakat, rantai pasok, kawasan industri, bandara, dan pusat-pusat ekonomi,â ujar Anne.
Posisi Sumatera Utara sangat penting dalam pengembangan jaringan transportasi nasional. âBerangkat dari arahan Presiden, KAI melihat Sumatera Utara sebagai simpul penting Trans Sumatera. Penguatan layanan kereta api di wilayah ini harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan memperkuat efisiensi logistik daerah,â kata Anne.
Dampak dan Potensi Masa Depan
KAI Group saat ini melayani masyarakat melalui berbagai perjalanan kereta api seperti KA Putri Deli, KA Sribilah Utama, KA Siantar Ekspres, KA Datuk Belambangan, dan KA Sri Lelawangsa. Kehadiran layanan tersebut membantu masyarakat menjangkau pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga transportasi udara secara lebih mudah dan terjadwal. Sepanjang 2025, jumlah pelanggan KAI Divre I Sumatera Utara mencapai 2.638.592 pelanggan. Sementara pada Mei 2026 saja, layanan kereta api di wilayah ini telah melayani 235.824 pelanggan.
Kedepannya, jalur Medan-Labuhan yang berusia 140 tahun ini diharapkan dapat terus meningkatkan layanan dan menjadi tulang punggung transportasi di Sumatera Utara. Dengan memperkuat konektivitas dan meningkatkan efisiensi logistik, Sumatera Utara dapat semakin berkembang dan meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Selain melayani penumpang, kereta api juga menjadi tulang punggung distribusi logistik di Sumatera Utara. Selama Januari hingga Mei 2026, volume angkutan barang mencapai 318.481,832 ton atau meningkat 2,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan capaian ini, KAI optimis dapat terus meningkatkan layanan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat dan ekonomi Sumatera Utara.