AI telah menjadi bagian penting dalam kehidupan kerja di Indonesia, dengan data terbaru menunjukkan bahwa 69 persen pekerja telah memanfaatkannya dalam setahun terakhir.
Perkembangan Penggunaan AI di Tempat Kerja Indonesia
Menurut hasil PwC Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025, yang diambil oleh VIVA pada 29 September 2026, 69 persen responden pekerja Indonesia telah menggunakan AI untuk pekerjaan mereka dalam 12 bulan terakhir. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tingkat adopsi AI secara global, menandakan bahwa digitalisasi di Indonesia bergerak cepat. Sebelumnya, AI sering dianggap hanya sebagai alat bantu pencarian informasi atau pembuatan teks. Namun sekarang, teknologi tersebut mulai dipakai untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sebelumnya memerlukan waktu lebih lama.
Penggunaan AI di berbagai sektor mulai terlihat jelas. Di bidang layanan pelanggan, chatbot berbasis AI dapat mengolah permintaan pelanggan secara real‑time, mengurangi waktu tunggu. Di industri manufaktur, sistem AI memantau mesin dan memprediksi kegagalan sebelum terjadi, sehingga mengurangi downtime. Bahkan di bidang kreatif, AI membantu desain grafis dan penulisan konten, mempercepat proses produksi.
Faktor yang Mendorong Adopsi AI di Kalangan Pekerja
Adopsi AI di kalangan pekerja dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, ketersediaan platform AI yang lebih mudah diakses, seperti aplikasi berbasis cloud, memungkinkan pekerja tanpa latar belakang teknis untuk menggunakannya. Kedua, kebutuhan akan efisiensi kerja semakin tinggi, terutama di tengah persaingan global. Pekerja merasa bahwa AI dapat membantu mereka menyelesaikan tugas lebih cepat dan akurat. Ketiga, dukungan kebijakan pemerintah dan perusahaan dalam pelatihan digital turut mempercepat adopsi.
Selain itu, pandemi COVID‑19 mempercepat transformasi digital. Banyak perusahaan yang beralih ke kerja jarak jauh, sehingga alat kolaborasi berbasis AI menjadi solusi penting. Pekerja yang sebelumnya tidak terbiasa dengan teknologi baru kini belajar menggunakan AI sebagai bagian dari rutinitas harian mereka.
Dampak Penggunaan AI pada Produktivitas Pekerja
Penggunaan AI secara signifikan meningkatkan produktivitas. Dengan otomatisasi tugas rutin, pekerja dapat fokus pada pekerjaan strategis yang memerlukan kreativitas dan pengambilan keputusan. Misalnya, sistem AI dapat menganalisis data penjualan dan memberikan rekomendasi strategi pemasaran, sehingga tim pemasaran dapat membuat keputusan lebih cepat.
Selain itu, AI membantu mengurangi kesalahan manusia. Dalam proses produksi, sistem AI dapat memantau kualitas produk secara real‑time dan memberi peringatan jika ada penyimpangan. Hal ini mengurangi jumlah barang cacat dan meningkatkan kepuasan pelanggan.
Namun, peningkatan produktivitas juga membawa tantangan. Pekerja harus terus mengembangkan keterampilan digital agar tidak tertinggal. Perusahaan perlu menyediakan pelatihan berkelanjutan agar karyawan dapat memanfaatkan AI secara optimal. Tanpa dukungan tersebut, risiko pengangguran di kalangan pekerja yang tidak menguasai teknologi baru akan meningkat.
Perubahan Budaya Kerja dan Mindset Digital
Adopsi AI tidak hanya mengubah cara kerja, tetapi juga budaya kerja. Pekerja kini lebih terbuka terhadap kolaborasi dengan sistem AI, menganggapnya sebagai rekan kerja yang dapat diandalkan. Hal ini memicu perubahan mindset, di mana inovasi dan adaptasi menjadi nilai inti dalam organisasi.
Perusahaan yang mengintegrasikan AI juga cenderung lebih fleksibel. Dengan data yang dihasilkan AI, manajemen dapat membuat keputusan lebih cepat dan akurat, meminimalkan risiko bisnis. Budaya berbasis data menjadi lebih kuat, mengarah pada keputusan yang lebih terukur dan berorientasi pada hasil.
Kesempatan dan Tantangan di Masa Depan
Di masa depan, peluang bagi pekerja yang dapat menguasai AI akan terus bertambah. Bidang seperti analisis data, cybersecurity, dan pengembangan AI sendiri menuntut tenaga kerja yang terampil. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam hal keamanan data dan etika penggunaan AI. Perusahaan harus memastikan bahwa sistem AI yang dipakai tidak menimbulkan bias atau diskriminasi.
Selain itu, peran regulator menjadi penting untuk menetapkan standar penggunaan AI. Kebijakan yang jelas akan membantu melindungi hak pekerja dan memastikan penggunaan AI yang adil dan transparan. Dengan regulasi yang tepat, adopsi AI dapat berlanjut tanpa menimbulkan risiko sosial ekonomi.
Kesimpulan
Data menunjukkan bahwa 69 persen pekerja Indonesia sudah memakai AI dalam pekerjaan mereka, menandai revolusi digital di tempat kerja. Penggunaan AI meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kualitas kerja, sekaligus memicu perubahan budaya dan mindset digital. Meskipun menawarkan banyak peluang, adopsi AI juga menuntut peningkatan keterampilan, regulasi yang jelas, dan perhatian terhadap etika. Dengan dukungan pelatihan dan kebijakan yang tepat, penggunaan AI di Indonesia dapat terus berkembang, membawa manfaat bagi pekerja, perusahaan, dan perekonomian secara keseluruhan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.viva.co.id/gaya-hidup/digilife/1931957-ai-bukan-lagi-sekadar-tren-69-persen-pekerja-indonesia-sudah-memakainya, without altering the facts of the original article.