Indonesia darurat, itulah gambaran situasi yang terjadi saat ini ketika mahasiswa dari berbagai aliansi di daerah menggelar aksi demonstrasi besar-besaran. Gerakan ini dipicu oleh kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi secara nasional yang dinilai tidak berpihak pada rakyat. Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menjadi pemantik gerakan ini pada Jumat (12/6/2026) lalu, yang kemudian diikuti oleh aksi serupa di tingkat daerah.
Aksi Mahasiswa di Berbagai Kota
Aksi penolakan ini telah memadati sejumlah kota besar seperti Surabaya, Salatiga, Yogyakarta, Medan, Manado, hingga Sukabumi. Pergerakan serentak di berbagai titik strategis ini memperlihatkan meluasnya koordinasi gerakan antarkampus di luar ibu kota. Mahasiswa dari berbagai aliansi di daerah terus bergulir dan menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Mereka bergerak secara masif demi menyuarakan aspirasi serta kritik terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Kota Samarinda di Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kota Batam di Kepulauan Riau (Kepri) diprediksi akan dikepung oleh aksi unjuk rasa besar-besaran dari elemen mahasiswa pada Kamis (18/6/2026) ini. Pihak kepolisian setempat pun dilaporkan telah bersiaga penuh mengantisipasi kedatangan para demonstran.
Tuntutan Mahasiswa
Tuntutan mahasiswa pun beragam, namun esensi pergerakan ini tetap bermuara pada satu tujuan, yaitu mengkritisi arah kebijakan publik serta kinerja di bawah masa pemerintahan Prabowo-Gibran. Mereka mengampanyekan tagar perjuangan seperti #ReformasiJilidII, #IndonesiaDarurat, dan #KaltimSekarat. Slogan-slogan ini menjadi simbol utama dari gerakan moral yang mereka usung.
Mengapa Aksi Ini Terjadi?
Gerakan ini terjadi karena kebijakan penyesuaian harga BBM non-subsidi secara nasional dinilai tidak berpihak pada rakyat. Lonjakan harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter serta Pertamax Green 95 (RON 95) yang menyentuh angka Rp17.000 per liter dinilai memicu efek domino bagi pengeluaran riil masyarakat. Mahasiswa menilai bahwa kebijakan ini akan berdampak besar pada kehidupan rakyat kecil.
Dampak Aksi Ini
Aksi ini dapat berdampak besar pada pemerintahan Prabowo-Gibran. Jika aspirasi mahasiswa tidak didengar, maka gerakan ini dapat berkembang menjadi lebih besar dan berpotensi mengganggu stabilitas politik dan ekonomi negara. Oleh karena itu, pemerintah harus segera menanggapi tuntutan mahasiswa dan mencari solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Aksi demonstrasi ini masih akan terus berlanjut hingga pemerintah memenuhi tuntutan mahasiswa. Mahasiswa akan terus menyuarakan aspirasi mereka hingga ada perubahan yang signifikan dalam kebijakan publik. Oleh karena itu, pemerintah harus siap untuk melakukan perubahan dan mencari solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini.