Wacana pengembangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sentuhan teknologi Artificial Intelligence (AI) mulai mengemuka. Pemerintah berencana untuk memanfaatkan AI dalam program MBG, salah satunya untuk meningkatkan kualitas gizi makanan yang disajikan. AI juga diharapkan dapat membantu dalam memantau kebersihan dapur, memperkirakan kebutuhan makanan, serta mendeteksi penyimpangan dalam program ini.
Apa yang Terjadi?
Pemerintah Indonesia berencana untuk mengimplementasikan teknologi AI dalam program MBG sebagai bagian dari strategi mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan memanfaatkan AI, pemerintah yakin dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hingga 12% atau sekitar USD 366 miliar pada 2030. Draf regulasi pemanfaatan AI tersebut kini masih menunggu persetujuan Presiden Prabowo Subianto. Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga menargetkan peningkatan daya saing Indonesia dalam pemanfaatan AI di tingkat regional maupun global.
Untuk mengimplementasikan teknologi AI ke berbagai program strategis nasional, termasuk MBG, dibutuhkan anggaran sebesar USD 15 miliar atau Rp 269,3 triliun. Adopsi AI tersebut akan dimanfaatkan untuk menyusun menu sesuai karakteristik daerah, memantau kebersihan dapur, memperkirakan kebutuhan makanan, mendeteksi penyimpangan, hingga mengintegrasikan data kesehatan guna memberikan peringatan dini jika terjadi kondisi darurat.
Mengapa dan Dampak
Pemerintah menggandeng sejumlah perusahaan teknologi global seperti Meta, IBM, dan Microsoft untuk menyusun regulasi AI nasional. Sebelumnya, Microsoft telah mengumumkan investasi sebesar USD 1,7 miliar untuk pengembangan layanan cloud dan AI di Indonesia. Namun, sejumlah kalangan menilai Indonesia masih menghadapi tantangan besar untuk menjadi pemain utama pengembangan AI. Keterbatasan infrastruktur, termasuk ketersediaan chip dan pusat komputasi, serta minimnya talenta AI menjadi hambatan yang harus segera diatasi.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin melontarkan usulan baru terkait sasaran program MBG. Menkes ingin agar para pasien Tuberkulosis (TBC) di Indonesia ikut dimasukkan ke dalam daftar kelompok prioritas yang mendapat jatah makanan bernutrisi ini. Usulan ini didasari oleh fakta bahwa Indonesia masih mencatat sekitar satu juta kasus TBC tiap tahunnya, dengan angka kematian yang mencapai 160 ribu jiwa per tahun.
Namun, usulan Menkes tersebut dipertanyakan oleh Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi. “Saya memahami bahwa pasien TBC membutuhkan dukungan gizi yang baik agar pengobatannya berhasil. Tetapi pertanyaannya, apakah Kementerian Kesehatan sudah memiliki kajian yang komprehensif terkait kebutuhan anggarannya?”
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Wacana pengembangan program MBG dengan sentuhan AI masih memiliki banyak tantangan yang harus diatasi. Pemerintah harus memastikan bahwa infrastruktur dan talenta AI yang dibutuhkan tersedia dan memadai. Selain itu, kajian yang komprehensif terkait kebutuhan anggaran juga harus dilakukan untuk memastikan bahwa program ini dapat berjalan efektif dan efisien.
Dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia diharapkan dapat menjadi pemain utama dalam pengembangan AI dan memanfaatkan teknologi ini untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Program MBG dengan sentuhan AI dapat menjadi salah satu contoh keberhasilan pemerintah dalam memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://news.detik.com/berita/d-8545983/wacana-program-mbg-adopsi-ai-hingga-disalurkan-untuk-penderita-tbc, without altering the facts of the original article.