Berita Hari Ini – 21 April 2026 | Jakarta, 21 April 2026 – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa harga Pertamax akan disesuaikan bila tren kenaikan harga minyak dunia terus berlanjut. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan internal di kantor Kementerian ESDM pada Senin (20/4), sekaligus menenangkan pasar BBM dengan menjamin stabilnya harga BBM bersubsidi seperti Pertalite hingga akhir tahun.
Latar Belakang Kenaikan Harga Minyak Dunia
Harga minyak mentah internasional saat ini berada di atas US$90 per barel, jauh melampaui patokan Internal Combustion Price (ICP) yang ditetapkan pemerintah pada US$70 per barel dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kenaikan ini memicu penyesuaian harga BBM nonsubsidi, antara lain Pertamax Turbo yang naik dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter, Dexlite dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter, serta Pertamina Dex yang naik dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter.
Posisi Harga Pertamax Saat Ini
Berbeda dengan varian nonsubsidi lainnya, Pertamax masih dipatok pada Rp12.300 per liter. Bahlil menegaskan bahwa harga tersebut bersifat dinamis dan akan mengikuti pergerakan pasar minyak dunia. “Kalau harganya turun, ya tidak naik. Tapi kalau harganya begini terus naik, ya mungkin Pertamax pasti ada penyesuaian,” ujarnya.
Komitmen Stabilitas BBM Subsidi
Meski tekanan pada pasar minyak global semakin berat, pemerintah tetap berkomitmen menjaga harga BBM subsidi agar tidak mengalami kenaikan. Bahlil menegaskan bahwa Pertalite dan Solar akan tetap berada pada harga yang telah ditetapkan hingga akhir tahun 2026, meskipun harga minyak dunia berfluktuasi.
- Pertalite: tetap pada tarif subsidi saat ini.
- Solar: tidak ada rencana penyesuaian harga sebelum akhir tahun.
Regulasi dan Mekanisme Penetapan Harga
Penetapan harga BBM nonsubsidi diserahkan kepada badan usaha milik negara, yaitu Pertamina, yang mengikuti formula yang telah diatur dalam Peraturan Menteri ESDM 2022. Formula tersebut memperhitungkan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta biaya operasional. Dengan demikian, penyesuaian harga Pertamax tidak dapat dilakukan secara sepihak, melainkan harus melalui mekanisme yang transparan dan terukur.
Dampak bagi Konsumen dan Industri
Kenaikan harga Pertamax diperkirakan akan memengaruhi sektor transportasi, terutama bagi armada taksi, ojek online, dan perusahaan logistik yang masih mengandalkan bahan bakar premium. Namun, pemerintah berharap bahwa stabilitas harga Pertalite dapat meredam beban pada konsumen ritel yang masih mengandalkan BBM bersubsidi.
Pengamat energi menilai bahwa langkah Bahlil memberi sinyal jelas kepada pasar bahwa kebijakan harga BBM tetap berorientasi pada keseimbangan antara kebutuhan konsumen dan dinamika pasar global. Selama harga minyak dunia tetap tinggi, penyesuaian harga Pertamax kemungkinan akan menjadi langkah selanjutnya.
Secara keseluruhan, kebijakan ini mencerminkan upaya pemerintah untuk menjaga kestabilan ekonomi energi nasional, sambil tetap responsif terhadap fluktuasi pasar internasional. Konsumen diharapkan dapat mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan kenaikan harga Pertamax, sementara harga Pertalite tetap menjadi penopang utama mobilitas harian hingga akhir tahun.