4 Juli 2026
featured_image

Tokopedia PHK Karyawan: Kronologi, Alasan, dan Dampaknya bagi Industri E-Commerce Indonesia

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Info Lowongan Kerja Waiter

Kompetitif
Full Time Entry
Langit Rasa ✅ 📍 Tangerang, Banten

Info Lowongan Kerja SALES EXECUTIVE

Kompetitif
Full Time Entry
PT KARYA BINTANG GEMILANG ✅ 📍 Bogor, Jawa Barat

Info Lowongan Kerja Customer service Morning Shift (WFH)

Kompetitif
Full Time Entry
PT Rental Teknologi Indonesia ✅ 📍 Jakarta Raya
LSD, zat yang kini dilarang WHO, memiliki sejarah panjang. Bagaimana Albert Hofmann menemukan efeknya yang kontroversial dan mengubah perjalanan ilmu pengetahuan?

LSD, zat yang awalnya dianggap sebagai obat potensial, kini menjadi salah satu zat yang dilarang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). LSD, atau d-lysergic acid diethylamide, pertama kali ditemukan pada April 1943 oleh seorang biokimiawan Swiss bernama Albert Hofmann. Hofmann tidak sengaja membuka salah satu babak paling kontroversial dalam sejarah ilmu pengetahuan ketika ia melarutkan beberapa mikrogram zat hasil sintesisnya sendiri ke dalam segelas air dan meminumnya.

Momen Penentu di Menit Akhir

Hofmann mencatat pusing yang memburuk, gangguan visual, dan dorongan kuat untuk tertawa setelah mengonsumsi LSD. Ia meminta asistennya memanggil dokter dan pulang ke rumah dengan mengayuh sepeda. Dalam benaknya, jalanan biasa berubah menjadi kanvas Salvador Dali yang bergerak. Dokter yang memeriksanya menemukan kondisi fisik Hofmann baik-baik saja, tetapi kondisi mentalnya kacau. Hofmann sempat khawatir ia telah merusak pikirannya secara permanen.

Setelah mempublikasikan pengalamannya, Sandoz Pharmaceutical Company mendistribusikan LSD kepada para peneliti ilmiah di seluruh dunia. Salah satu aspek paling mengejutkan dari zat ini adalah efektivitasnya pada dosis yang sangat kecil, dengan hanya 25-50 mikrogram sudah cukup untuk memicu halusinasi. LSD memasuki dunia ilmu pengetahuan di tengah gelombang optimisme psikofarmakologi. Pada 1950-an, terapi berbasis zat kimia diyakini mampu merevolusi psikiatri.

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Thomas Ban, salah satu psikofarmakolog awal Amerika Utara, menyebut riset obat-obatan untuk gangguan mental di era itu bertanggung jawab membawa psikiatri ke dunia modern. Publikasi ilmiah tentang LSD tumbuh eksponensial. Lebih dari 100 artikel pada 1951 serta melampaui 1.000 pada 1961 terbit dalam lebih dari selusin bahasa dari Jepang hingga Bulgaria. Salah satu figur sentral dalam penelitian awal LSD adalah Humphry Osmond, psikiater berlatarbelakang Inggris yang pindah ke Weyburn, Saskatchewan, Kanada, pada 1951.

Osmond dan timnya menyimpulkan bahwa LSD menciptakan kondisi psikosis sementara dengan mengganggu transmisi adrenergik, sebuah “model psikosis” yang secara teoritis membuka jalan untuk membalikkan skizofrenia secara kimiawi. Mendengar eksperimen Osmond, penulis Aldous Huxley menawarkan diri sebagai subjek uji meskalin. Osmond mengaku gugup, dan ia tidak ingin tercatat sebagai orang yang membuat Huxley gila. Eksperimen itu berjalan, dan hasilnya lahirlah The Doors of Perception (1954), sebuah esai yang memaparkan pengalaman Huxley dengan referensi filosofi, puisi, dan agama.

Mengapa LSD Dilarang?

Pada 1956, Osmond dan Huxley terlibat persaingan untuk menciptakan istilah yang menggambarkan “pengalaman” LSD. Huxley mengirimkan usulannya dalam sebait sajak, Osmond membalasnya. Dari pertukaran tersebut lahirlah satu kata, psychedelic. Kata ini berasal dari bahasa Yunani kuno psyche (ψυχή) yang berarti pikiran dan delos (δήλος) yang berarti termanifestasi. Tim Saskatchewan kemudian mengalihkan fokus ke potensi terapeutik LSD, khususnya untuk alkoholisme.

Bekerja sama dengan Alcoholics Anonymous, mereka mengobati pasien dengan satu sesi dosis besar antara 200 hingga 1.500 mikrogram dalam lingkungan klinis terkontrol, dan mengklaim tingkat pemulihan secara rutin di atas 50 persen. Terapi ini membawa logika pasien alkohol sering menolak intervensi hingga mengalami delirium tremens yang kerap fatal. Delirium tremens merupakan gejala paling berat yang kerap terjadi saat seseorang lepas dari alkohol. Jika LSD bisa mensimulasikan pengalaman psikologis tahap itu sebelum kerusakan fisiknya terjadi, lebih banyak pasien bisa diselamatkan.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Psikolog Duncan Blewett berargumen bahwa LSD mampu “membantu manusia melihat dirinya sendiri, nilai-nilainya, dan perilakunya dalam perspektif baru.” Namun skeptisisme kolega-kolega mereka tetap kuat dengan menyebut klaim pemulihan itu sulit direplikasi dalam uji coba terkontrol. LSD akhirnya jatuh sebagai obat yang berpotensi, namun risikonya yang tinggi dan potensi penyalahgunaannya membuat WHO melarangnya.

Kini, LSD menjadi salah satu zat yang dilarang oleh WHO, namun penelitian tentang potensi terapeutiknya masih terus berlanjut. Jalan panjang yang masih harus ditempuh untuk memahami potensi LSD sebagai obat masih terbuka lebar.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260625200743-199-1373360/sejarah-panjang-lsd-bermula-dari-ketidaksengajaan-di-lab, without altering the facts of the original article.

Tokopedia PHK Karyawan: Kronologi, Alasan, dan Dampaknya bagi Industri E-Commerce Indonesia

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Info Lowongan Kerja Waiter

Kompetitif
Full Time Entry
Langit Rasa ✅ 📍 Tangerang, Banten

Info Lowongan Kerja SALES EXECUTIVE

Kompetitif
Full Time Entry
PT KARYA BINTANG GEMILANG ✅ 📍 Bogor, Jawa Barat

Info Lowongan Kerja Customer service Morning Shift (WFH)

Kompetitif
Full Time Entry
PT Rental Teknologi Indonesia ✅ 📍 Jakarta Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *