7 Juli 2026
featured_image

Tokopedia PHK Karyawan: Kronologi, Alasan, dan Dampaknya bagi Industri E-Commerce Indonesia

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Info Lowongan Kerja Waiter

Kompetitif
Full Time Entry
Langit Rasa ✅ 📍 Tangerang, Banten

Info Lowongan Kerja SALES EXECUTIVE

Kompetitif
Full Time Entry
PT KARYA BINTANG GEMILANG ✅ 📍 Bogor, Jawa Barat

Info Lowongan Kerja Customer service Morning Shift (WFH)

Kompetitif
Full Time Entry
PT Rental Teknologi Indonesia ✅ 📍 Jakarta Raya
Warisan budaya Pulau Obi terus dijaga melalui upaya melestarikan peninggalan leluhur. Simak bagaimana masyarakat setempat merawat tradisi dan budaya unik di pulau tersebut.

Merawat Warisan Budaya Pulau Obi, Upaya Melestarikan Peninggalan Leluhur

Pagelaran Kesenian Ngibi di Desa Soligi, Pulau Obi, Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, menjadi bukti nyata upaya melestarikan warisan budaya leluhur. Pulau Obi, yang kaya akan sejarah dan budaya, terus berjuang untuk mempertahankan tradisi dan nilai-nilai yang telah diwariskan oleh leluhurnya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui pagelaran kesenian yang menampilkan Tari Ngibi, tarian tradisional berpasangan dari tanah Buton, Sulawesi Tenggara.

Momen Penentu di Pagelaran Kesenian Ngibi

Pagelaran Kesenian Ngibi diadakan di Desa Soligi, Kecamatan Obi Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Acara ini menampilkan Tari Ngibi, tarian tradisional berpasangan dari tanah Buton, Sulawesi Tenggara, yang dibawa oleh leluhur melintasi lautan hingga berakar kuat di Pulau Obi. Tari Ngibi sarat nilai filosofis, dimana setiap gerakannya menyiratkan rasa syukur atas ditiupkannya roh ke dalam raga. Dalam gerak gemulai Ngibi, penari laki-laki pantang menyentuh penari perempuan, sebuah simbol penghormatan tertinggi bagi perempuan sebagai perawat kehidupan.

Tokoh adat Desa Soligi, Imam La Puasa, mengatakan bahwa setiap gerak dan tahapan dalam kesenian Ngibi mengandung pesan moral, nilai hayat, serta jejak sejarah perjalanan masyarakat Buton yang diwariskan dari generasi ke generasi. “Ngibi bukan sekadar hiburan. Di dalamnya ada nasihat, sejarah, dan identitas yang diwariskan leluhur kami. Karena itu, tradisi ini harus dijaga agar anak cucu tidak melupakan asal-usulnya,” kata dia.

Tiga Fakta yang Bikin Laga Ini Berbeda

Dulu, Tari Ngibi menjadi wujud syukur pascapanen raya. Kini, kesenian tersebut bertransformasi mewarnai berbagai perhelatan sosial. Pertunjukan Tari Ngibi rutin digelar setelah Hari Raya Idul Adha. Sebelum memulai tarian, imam desa merapal doa sebagai penanda Tari Ngibi berkelindan erat dengan spiritualitas Islam yang dianut masyarakat setempat. Setelah itu, tokoh adat membuka gelanggang lewat entakkan pencak silat, seolah meretas jalan bagi penerusnya.

Sejalan dengan alur kehidupan, sebelum Tari Ngibi dipentaskan, ada Tari Cungka yang dibawakan oleh penari perempuan. Tari Cungka mencerminkan siklus awal denyut manusia di dalam kandungan. Seusai perenungan filosofis lewat tarian, gelanggang kembali bergemuruh. Kali ini giliran anak-anak sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) beradu pencak silat. Diiringi sorak-sorai ratusan penonton, adu ketangkasan ini bukan sebagai ajang untuk saling melukai, melainkan simbol sportivitas dan semangat kesatria generasi muda Soligi.

Apa Artinya Ini bagi Masyarakat Soligi?

Demi memastikan tradisi tetap melenggang, anak-anak tidak hanya menjadi penonton, namun juga pelaku yang terlibat langsung dalam menjaga warisan budaya tetap eksis. Itu sebabnya, selama beberapa tahun terakhir, masyarakat Desa Soligi melibatkan pelajar dalam Pargelaran Kesenian Ngibi. ” Alhamdulillah setelah ada pagelaran, minat anak-anak semakin berkembang. Dulu mereka hanya berlatih tetapi tidak ditampilkan,” kata Guru Tari, Musniati Mahulette.

“Acara Pagelaran Kesenian Ngibi dari Harita ini menjadi wadah untuk menampilkan apa yang mereka latih di sanggar.”

Seorang anak Desa Soligi, Desmita Musli, 16 tahun, mengaku sangat suka berlatih tari Cungka di sanggar. Dia jadi lebih percaya diri untuk menampilkan tarian daerahnya. “Awalnya deg-degan , tapi lama-lama tidak. Setelah acara ini saya akan terus berlatih menari,” ujarnya.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kesadaran akan pentingnya regenerasi membuat Ngibi memiliki makna lebih dari sebuah festival budaya. Sebab, sebuah tradisi tidak hilang ketika orang berhenti membicarakannya, melainkan tradisi perlahan memudar ketika tidak lagi dipraktikkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam menjaga dan melestarikan budaya leluhur masyarakat Soligi, Harita Nickel sebagai perusahaan teknologi pemrosesan nikel terintegrasi dan berkelanjutan yang beroperasi di Pulau Obi, turut mendukung dalam merawat warisan budaya tersebut. Melalui program tanggung jawab sosialnya, Harita Nickel membantu menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk melestarikan budaya dan tradisi leluhur.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://nasional.tempo.co/read/2110902/merawat-budaya-dan-peninggalan-leluhur-pulau-obi, without altering the facts of the original article.

Tokopedia PHK Karyawan: Kronologi, Alasan, dan Dampaknya bagi Industri E-Commerce Indonesia

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Info Lowongan Kerja Waiter

Kompetitif
Full Time Entry
Langit Rasa ✅ 📍 Tangerang, Banten

Info Lowongan Kerja SALES EXECUTIVE

Kompetitif
Full Time Entry
PT KARYA BINTANG GEMILANG ✅ 📍 Bogor, Jawa Barat

Info Lowongan Kerja Customer service Morning Shift (WFH)

Kompetitif
Full Time Entry
PT Rental Teknologi Indonesia ✅ 📍 Jakarta Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *