Ribuan Taruna Akmil ‘Disiplinkan’ Siswa Sekolah Rakyat dengan Cara Kontroversial
Pemerintah berencana melibatkan ribuan taruna dari Akademi Militer (Akmil) dalam program bimbingan keasramaan di Sekolah Rakyat mulai tahun ajaran 2026/2027. Program ini menuai kontroversi karena pengamat pendidikan khawatir pendekatan militer dapat mematikan nalar kritis siswa. Sebanyak 1.000 taruna Akmil tingkat I dan II akan diturunkan di 178 titik Sekolah Rakyat untuk memberikan pelatihan terkait kedisiplinan.
Apa yang Terjadi?
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, menyatakan para taruna Akmil akan memberikan contoh hidup disiplin seperti tentara dengan materi seputar kedisiplinan sampai baris-berbaris. Mereka akan mendampingi siswa Sekolah Rakyat dalam kegiatan sehari-hari, seperti menyetrika seragam, merapikan seprei dan lemari pakaian, menyemir sepatu, dan kegiatan lain yang membangun kebiasaan hidup mandiri di asrama. Program ini akan berlangsung selama lima hari, dari 3 hingga 8 Agustus 2026.
Mengapa dan Dampak
Pengamat pendidikan, Abdullah Ubaid Matraji, menilai program pendisiplinan ala militer ini seolah menunjukkan bahwa pemerintah tidak lagi memberi kepercayaan pada guru. “Ini bahaya sekali dalam konteks pendidikan. Dari institusi negara sudah tidak lagi percaya kepada guru, terutama guru pengasuh atau wali asuh yang juga mendampingi anak sehari-hari di asrama.” Kehadiran militer dikhawatirkan dapat mengganggu nalar kritis anak, padahal dalam dunia pendidikan, pendekatan pembelajaran bertujuan untuk mengasah pemikiran kritis.
Reaksi Siswa dan Orang Tua
Siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar, Ramadhan, mengaku dirinya dan teman-temannya kerap diajar oleh tentara selama satu tahun menempuh pendidikan di sana. “Dia [tentara] biasa mengajar pelatihan baris berbaris [PBB]. Tidak mengajar menulis,” kata Ramadhan. Orang tua Ramadhan, Surigandi, membenarkan ada keterlibatan tentara dalam proses belajar mengajar di sekolah anaknya. Namun, dia tidak tahu tentang metode pembelajarannya.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Ke depan, masih banyak pertanyaan tentang efektivitas program ini dan dampaknya pada pendidikan di Indonesia. Apakah pendekatan militer dapat membentuk siswa yang lebih disiplin dan mandiri, atau justru mematikan nalar kritis mereka? Bagaimana pemerintah akan memastikan bahwa program ini tidak mengganggu proses pembelajaran dan pengembangan siswa? Hanya waktu yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cm2jx78834eo?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.