Masruffah, seorang perajin lukah asal Desa Tabalong Mati, Kecamatan Amuntai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), masih tetap produktif membuat perangkap ikan tradisional di usia senja. Lukah yang dibuatnya berbentuk seperti tabung gas panjang atau hampir menyerupai roket dan di dalamnya terdapat âperangkapâ, sehingga ketika ikan sudah masuk tidak bisa keluar lagi. Banyak warga Kalimantan Selatan (Kalsel), termasuk di HSU, yang masih menggunakan alat tradisional ini untuk menangkap ikan air tawar di perairan umum seperti kawasan rawa. Dengan ketekunan dan keterampilan yang dimiliki, Masruffah terus berkarya membuat lukah.
Proses Pembuatan Lukah yang Telaten
Masruffah menggunakan bambu sebagai bahan utama pembuatan lukah. Sebelumnya, bambu dibersihkan dan diraut dengan ukuran yang sama. Kemudian, bilah bambu tersebut disatukan menggunakan tali, ada juga yang menggunakan bambu tipis dan dirangkai semacam simpul. Jika bahan baku sudah tersedia, dalam satu hari Masruffah bisa membuat tiga hingga empat lukah. Ia membuat lukah sebanyak mungkin, lalu menjualnya dengan harga Rp 15 ribu atau Rp 30 ribu, tergantung dari ukurannya.
Momen Penentu di Masa Lalu
Masruffah sudah menjadi pengrajin lukah sejak puluhan tahun, sejak remaja. Dari membuat lukah, dirinya membantu mencukupi kebutuhan keluarga bersama dengan tujuh orang anaknya. Saat ini, anak-anaknya sudah berkeluarga, namun Masruffah tetap setia menjalankan usaha pembuatan lukah. Selain itu, ia juga bekerja sebagai petani. Pada musim kemarau, pagi hari dirinya ke lahan pertanian, dan siang hingga sore membuat lukah. âKarena tanam padi hanya dilakukan pada musim kemarau,â ujarnya.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Keberhasilan Masruffah dalam membuat lukah tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tetapi juga pada masyarakat sekitar. Banyak warga yang masih menggunakan lukah sebagai alat untuk menangkap ikan. Dengan ketekunan dan keterampilan yang dimiliki, Masruffah menjadi contoh bagi masyarakat bahwa usia senja tidak menjadi penghalang untuk terus berkarya. Selain itu, lukah yang dibuatnya juga menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi dan budaya lokal.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Masruffah masih terus membuat lukah dan menjualnya kepada masyarakat. Ia berharap usahanya dapat terus berkembang dan menjadi contoh bagi generasi muda untuk melestarikan tradisi dan budaya lokal. Dengan ketekunan dan keterampilan yang dimiliki, Masruffah yakin bahwa usahanya dapat terus maju dan menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya dan tradisi lokal.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://banjarmasin.tribunnews.com/kalsel/1367694/kisah-perajin-lukah-asal-amuntai-hsumasruffah-tetap-berkarya-di-usia-senja, without altering the facts of the original article.