Berita Hari Ini – 29 April 2026 | Seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) baru-baru ini mengangkat isu kritis terkait kehadiran investor China dalam program Mahasiswa Berburu Ganda (MBG). Sorotan tersebut menyoroti potensi ancaman bagi peternak lokal yang telah berjuang menjaga kesejahteraan ekonomi di daerah pedesaan.
Tanggapan Anggota DPR PDIP
Anggota DPR yang tidak disebutkan namanya menyatakan keprihatinannya atas dominasi investasi asing, khususnya dari China, yang dinilai dapat menggeser posisi peternak tradisional. Ia menekankan bahwa program MBG seharusnya menjadi sarana peningkatan produksi dalam negeri, bukan menjadi pintu masuk bagi modal asing yang berpotensi menurunkan harga produk ternak.
Menurutnya, kebijakan yang mengutamakan investor China tanpa pengawasan yang ketat dapat menimbulkan ketimpangan dalam distribusi hasil produksi. “Kami khawatir peternak lokal akan terdesak oleh harga jual yang dipengaruhi oleh pemain besar dari luar negeri,” ujarnya dalam rapat komisi pertanian.
Dampak Terhadap Peternak Lokal
Peternak di berbagai provinsi, terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara, melaporkan penurunan pendapatan sejak implementasi program MBG yang melibatkan investor China. Beberapa peternak mengaku harus menurunkan harga jual daging dan susu untuk bersaing, yang pada gilirannya mengurangi margin keuntungan mereka.
Data yang dikumpulkan oleh asosiasi peternak menunjukkan penurunan produksi sekitar 12% dalam enam bulan terakhir. Penurunan ini dipicu oleh persaingan harga, serta ketergantungan pada bahan pakan yang kini sebagian besar dipasok oleh perusahaan asing.
- Penurunan pendapatan rata-rata peternak sebesar 18%.
- Kenaikan biaya pakan hingga 25%.
- Penurunan volume penjualan produk ternak sebesar 10%.
Strategi Pemerintah dan Saran DPR
Dalam menanggapi kekhawatiran tersebut, Kementerian Pertanian menyatakan komitmen untuk meninjau kembali perjanjian kerjasama dengan investor China. Menteri Pertanian menegaskan bahwa program MBG tetap menjadi prioritas nasional, namun harus diimbangi dengan kebijakan perlindungan bagi peternak lokal.
Anggota DPR PDIP mengusulkan beberapa langkah strategis, antara lain:
- Pemberian subsidi pakan khusus bagi peternak kecil.
- Pembentukan mekanisme harga minimum untuk produk ternak.
- Penetapan kuota investasi asing dalam sektor peternakan.
Usulan tersebut diharapkan dapat menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan petani serta peternak. Selain itu, DPR menekankan pentingnya transparansi dalam proses pengadaan lahan dan distribusi bantuan.
Reaksi Investor China
Perwakilan dari konsorsium investor China yang terlibat dalam program MBG menanggapi kritik dengan menegaskan komitmen mereka untuk berkontribusi pada pengembangan industri peternakan Indonesia. Mereka menyatakan bahwa investasi tersebut diarahkan pada transfer teknologi, peningkatan efisiensi, dan penciptaan lapangan kerja.
Namun, mereka juga mengakui perlunya dialog konstruktif dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lokal untuk menghindari dampak negatif yang tidak diinginkan.
Secara keseluruhan, perdebatan mengenai peran investor China dalam program MBG mencerminkan dinamika kompleks antara kebutuhan investasi asing dan perlindungan sektor pertanian dalam negeri. Keseimbangan kebijakan akan menjadi kunci untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan kesejahteraan peternak lokal.
Jika rekomendasi DPR PDIP diimplementasikan secara efektif, diharapkan peternak dapat kembali mengoptimalkan produksi tanpa harus bersaing secara tidak adil dengan pemain asing. Pemerintah diharapkan dapat mengawal program MBG agar tetap selaras dengan tujuan kemandirian pangan nasional.