Cara Memulai Bisnis Digital dengan Modal Kecil Sebagai Reseller Digital
KompetitifSawah rongsok, inovasi pertanian yang memanfaatkan galon bekas sebagai media tanam padi, mulai menjadi perhatian di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kakek Suhantara, 82 tahun, warga Susukan II, Genjahan, Ponjong, Gunungkidul, menjadi pelopor gerakan ini. Ia menemukan bahwa gabah kering yang tercecer di tanah pekarangan rumahnya dapat tumbuh menjadi bibit padi.
Momen Penentu di Menit Akhir
Kejadian itu terjadi ketika segenggam gabah kering jatuh dan tercecer di tanah pekarangan rumah. Beberapa hari kemudian, Suhantara mendapati gabah-gabah itu tumbuh jadi bibit padi. “⦠gabah kering saya bawa ke rumah dan ternyata ada yang tercecer di tanah. Yang gabah tercecer itu tumbuh jadi benih (padi),” kata Suhantara.
Suhantara kemudian melakukan percobaan dengan menanam bibit padi varietas Inpari-24 di beberapa kaleng bekas yang ada di rumahnya. Setelah melihat hasilnya, ia beralih ke galon bekas air mineral karena wadahnya bisa menampung tanah jauh lebih banyak dibanding kaleng. “Saya beli sekitar 100 galon ada sepertinya, harganya Rp2 ribu per galon. Lalu galon-galon itu saya isi tanah, tanahnya sembarang saja dan diberi pupuk kandang sama sedikit pupuk kimia lalu diberi benih padi,” ucapnya.
Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Berikut adalah tiga fakta yang membuat kejadian ini berbeda:
Pertama, metode sawah rongsok ini dapat menjadi solusi bagi daerah yang memiliki keterbatasan lahan sawah dan sumber air. Gunungkidul merupakan wilayah yang didominasi bentang alam karst berbatu kapur, sehingga dikenal memiliki kondisi lahan yang cenderung kering.
<pKedua, perawatan sawah rongsok relatif mudah dan tidak memerlukan banyak air. Suhantara hanya perlu menyiram galon-galoknya secara rutin untuk menjaga kelembaban tanah.
Ketiga, hasil panen sawah rongsok juga cukup menjanjikan. Berdasarkan pengubinan yang dilakukan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul saat panen perdana, setiap pot galon mampu menghasilkan sekitar 400 gram gabah kering giling.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Metode sawah rongsok ini berpotensi menjadi solusi bagi daerah yang memiliki keterbatasan lahan sawah dan sumber air. Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengatakan bahwa metode ini dapat menjadi alternatif bagi petani yang memiliki lahan terbatas. “Ini bisa menjadi solusi keterbatasan lahan. Sebab, dengan 100 galon bekas air mineral sudah bisa menghasilkan 30-40 kilogram gabah kering giling. Pemeliharaannya juga mudah dan lebih irit air,” katanya.
Selain itu, metode sawah rongsok ini juga dapat membantu meningkatkan ketahanan pangan di Gunungkidul. Dengan memanfaatkan lahan yang ada, petani dapat meningkatkan produksi padi dan membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Meski telah menunjukkan hasil yang menjanjikan, namun masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam pengembangan sawah rongsok ini. Salah satunya adalah bagaimana meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya memanfaatkan lahan yang ada untuk meningkatkan ketahanan pangan.
Selain itu, juga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk meningkatkan hasil panen sawah rongsok dan membuatnya lebih efisien. Dengan demikian, sawah rongsok dapat menjadi salah satu alternatif yang dapat membantu meningkatkan ketahanan pangan di Gunungkidul dan daerah lainnya.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2026/07/12/bermula-dari-gabah-yang-tercecer-kakek-82-tahun-di-gunungkidul-ciptakan-sawah-rongsok-dari-galon-bekas, without altering the facts of the original article.