Berita Hari Ini – 01 Mei 2026 | Washington – Hubungan antara Amerika Serikat dan Jerman kembali diuji setelah Presiden Donald Trump mengumumkan kemungkinan penarikan pasukan AS dari tanah Jerman. Pernyataan tersebut muncul sebagai respons terhadap kritik keras Kanselir Jerman Friedrich Merz yang menilai kebijakan Washington di Iran sebagai kelemahan strategis.
Latar Belakang Konflik Iran
Pada akhir Februari 2026, serangan udara bersama antara Amerika Serikat dan Israel menargetkan instalasi militer Iran, memicu eskalasi yang masih berlangsung hingga akhir April. Merz, yang baru menjabat sebagai kanselir, menilai bahwa Amerika Serikat “dipermalukan” oleh Iran dalam dinamika perang tersebut. Ia menegaskan bahwa Barat terlalu meremehkan kemampuan negosiasi Tehran dan memperingatkan risiko konfrontasi berkepanjangan yang dapat mengguncang ekonomi global.
Serangan Balik Trump
Menanggapi kritik Merz, Trump menggunakan platform Truth Social pada 28 April untuk melontarkan serangan pribadi. Ia menuduh kanselir Jerman tidak memahami bahaya potensial jika Iran memperoleh senjata nuklir, serta menyindir kondisi ekonomi Jerman yang dianggapnya “menurun”. Dalam unggahan yang viral, Trump menulis, “Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menganggap tidak masalah jika Iran memiliki senjata nuklir. Dia tidak tahu apa yang dia bicarakan!”
Ancaman Penarikan Pasukan
Setelah perseteruan verbal tersebut, pada 30 April Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat sedang meninjau kemungkinan mengurangi keberadaan pasukan di Jerman. Menurut laporan AP, keputusan tersebut akan diambil dalam waktu dekat. Saat ini, sekitar 34.500 tentara AS ditempatkan di Jerman, termasuk markas Komando Eropa AS, Komando Afrika AS, serta pangkalan penting seperti Ramstein Air Base dan Pusat Medis Regional Landstuhl.
Reaksi Merz
Merz menanggapi pernyataan Trump dengan menegaskan bahwa hubungan pribadi antara keduanya tetap baik, meskipun terdapat perbedaan pandangan strategis. Dalam sebuah wawancara pada 27 April, Merz memperingatkan bahwa Amerika Serikat berisiko “terjebak dalam konfrontasi berkepanjangan” jika tidak segera mencari solusi diplomatik di Selat Hormuz, jalur air yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Ia juga menambahkan bahwa Jerman tidak berniat terlibat dalam konflik militer antara AS dan Iran, namun tetap siap bekerja sama dalam upaya menurunkan ketegangan regional. Merz menekankan bahwa kebijakan Washington yang “tidak selaras” dengan perspektif Eropa dapat memperburuk situasi.
Sejarah Penarikan Pasukan AS
Pernyataan Trump ini mengingatkan kembali pada upaya sebelumnya pada Juni 2020, ketika ia mengumumkan rencana penarikan sekitar 9.500 tentara AS dari Jerman. Rencana tersebut tidak pernah terlaksana karena perubahan kebijakan di pemerintahan berikutnya, yaitu pemerintahan Presiden Joe Biden yang menghentikan proses penarikan.
Dampak Potensial
Jika keputusan pengurangan pasukan menjadi kenyataan, dampaknya tidak hanya bersifat militer tetapi juga ekonomi. Pangkalan Ramstein, misalnya, berperan sebagai hub logistik penting bagi operasi NATO di Eropa. Penarikan pasukan dapat memicu perdebatan di parlemen Jerman mengenai kontribusi pertahanan nasional, yang selama ini dianggap kurang oleh Washington.
Selain itu, situasi di Timur Tengah tetap tidak menentu. Iran terus menutup Selat Hormuz, menambah tekanan pada pasar energi global. Keberlanjutan konflik dapat memperparah inflasi energi di Eropa, termasuk Jerman, yang sangat bergantung pada impor minyak dan gas.
Prospek Kedepan
Para analis internasional memperkirakan bahwa dialog antara Trump dan Merz akan terus berlanjut, baik di jalur diplomatik maupun melalui media sosial. Kedua pemimpin tampaknya berada pada posisi yang saling menantang: Trump mengedepankan tekanan militer sebagai alat diplomasi, sementara Merz menekankan pentingnya strategi multilateral dan kerjasama Eropa.
Apapun keputusan yang diambil, dinamika ini menegaskan bahwa hubungan transatlantik kini berada pada titik kritis, menuntut kompromi dan kebijakan yang lebih terkoordinasi untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.