Pakar Militer China Ungkap Titik Lemah AS yang Terungkap di Perang Iran, Stok Amunisi Terkuras Parah
Berita Hari Ini – 01 Mei 2026 | Konflik udara antara Amerika Serikat dan Iran yang dimulai pada akhir Februari 2026 telah membuka babak baru dalam analisis kemampuan militer global. Di tengah serangan besar-besaran yang menargetkan instalasi strategis Iran, para pengamat militer China menemukan celah kritis dalam sistem pertahanan AS yang kini memaksa Washington menghadapi kekurangan persediaan amunisi penting.
Latar Belakang Konflik
Operasi “Epic Fury” yang diluncurkan oleh koalisi AS‑Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dan merusak jaringan pertahanan udara serta fasilitas produksi rudal di negara itu. Meskipun demikian, Iran berhasil melancarkan serangan balasan menggunakan drone buatan dalam negeri, terutama varian Shahed yang diproduksi dengan biaya sekitar US$20.000 per unit. Setiap drone tersebut berhasil dijatuhkan oleh sistem pertahanan udara Patriot PAC‑3 milik AS yang harganya mencapai US$4 juta per buah.
Temuan Pakar Militer China
Tim riset militer Beijing, dipimpin oleh Letnan Jenderal Zhang Wei, mempelajari video rekaman pertempuran dan data balistik yang bocor melalui jaringan intelijen sinyal. Analisis mereka menunjukkan bahwa penggunaan rudal berbiaya tinggi untuk menangkis ancaman murah menimbulkan beban logistik yang tidak berkelanjutan bagi Amerika. “Kami melihat pola pengeluaran amunisi yang menurun drastis dalam tiga minggu terakhir, terutama pada rudal pencegat seperti THAAD dan SM‑3,” kata Zhang dalam sebuah konferensi pers pada 12 April 2026.
Selain mengidentifikasi kelemahan pada tingkat persediaan, para ahli China menyoroti ketergantungan AS pada sistem pertahanan berlapis yang rentan terhadap serangan elektronik. Iran, dengan bantuan teknologi sinyal yang disediakan oleh Rusia, berhasil mengganggu jaringan komunikasi rudal Patriot, memperlambat respons pertahanan, dan memaksa penggunaan lebih banyak unit yang pada akhirnya menguras stok.
Dampak pada Stok Amunisi AS
Menurut data internal militer yang bocor ke media, persediaan rudal Patriot PAC‑3 di teater Timur Tengah telah menurun hingga 40 persen sejak awal konflik. Stok THAAD dan SM‑3, yang biasanya ditempatkan di wilayah Indo‑Pasifik untuk menahan ancaman balistik, kini dipindahkan ke Timur Tengah untuk mengisi kekosongan. Perpindahan ini menimbulkan kerentanan baru di kawasan Asia‑Pasifik, khususnya di selat Taiwan, yang menjadi fokus utama Beijing.
Penggunaan massal rudal berbiaya tinggi juga mengurangi kemampuan AS untuk menanggapi konflik lain secara simultan. Sejumlah analis militer Amerika menilai bahwa jika konflik serupa terjadi di wilayah lain, persediaan amunisi dapat habis dalam hitungan hari, memaksa Washington mengandalkan aliansi dan persediaan cadangan yang belum siap.
Implikasi Geopolitik
Kelemahan yang terungkap ini segera dimanfaatkan oleh Moskow dan Beijing. Rusia dilaporkan menyediakan data intelijen penargetan, termasuk lokasi kapal perang dan pangkalan udara AS, kepada Iran. Sementara itu, China memperkuat kerja sama militer dengan Tehran, mentransfer teknologi pertahanan udara berbasis satelit BeiDou‑3 untuk menetralkan kemampuan siluman dan jamming Barat.
Keuntungan strategis bagi China tidak hanya terletak pada pemahaman taktik melumpuhkan Angkatan Laut AS, melainkan juga pada kemampuan mengadaptasi sistem pertahanan pantai, ranjau laut, dan drone untuk skenario potensial di Selat Taiwan. Pengetahuan ini, dikombinasikan dengan pengamatan langsung dari konflik Iran‑AS, memberi Beijing kepercayaan bahwa mereka dapat menahan intervensi Amerika di kawasan Asia‑Pasifik.
Di pasar energi global, perang tersebut menyebabkan fluktuasi harga minyak yang signifikan. Amerika Serikat terpaksa melonggarkan sanksi terhadap Rusia untuk memastikan pasokan energi, sementara Rusia mencatat pendapatan tambahan sekitar US$150 juta per hari pada Maret 2026.
Secara keseluruhan, temuan pakar militer China menegaskan bahwa ketergantungan AS pada persenjataan mahal dan sistem pertahanan berlapis dapat menjadi titik lemah yang dimanfaatkan lawan dalam konflik asimetris. Ketersediaan amunisi yang menipis tidak hanya mengancam operasi militer di Timur Tengah, tetapi juga menimbulkan risiko strategis yang lebih luas bagi peran Amerika di panggung dunia.
Dengan persediaan amunisi yang terkuras, Washington diperkirakan akan mempercepat upaya modernisasi logistik dan diversifikasi aliansi, sementara China dan Rusia berpotensi memperkuat posisi mereka melalui kolaborasi militer dan intelijen yang lebih intensif.