Transformasi Karier Lulusan SMK: Dari Ruang Kelas Menuju Dunia Industri Berpenghasilan Tinggi di Era Digital
KompetitifMembangun Portofolio Sejak SMK: Strategi Efektif Menarik Perhatian Perusahaan Besar dan Meningkatkan Peluang Karier Profesional
KompetitifSawah rongsok, inovasi pertanian yang diciptakan oleh Suhantara, kakek berusia 82 tahun asal Gunungkidul, Yogyakarta, menjadi perhatian banyak pihak. Metode ini memanfaatkan galon bekas sebagai media tanam padi, menawarkan solusi bercocok tanam di wilayah minim lahan dan air. Sawah rongsok telah menjadi contoh bagi masyarakat luas bahwa pertanian dapat dilakukan dengan cara yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Inovasi ini juga mendapat sambutan positif dari Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul.
Momen Penentu di Menit Akhir
Berawal dari gabah kering yang tercecer di tanah pekarangan rumah, Suhantara kemudian menanamnya di beberapa kaleng bekas. Setelah melihat hasilnya, ia penasaran dan ingin mencoba dengan skala yang lebih besar. Ia membeli sekitar 100 galon bekas air mineral dan mengisinya dengan tanah serta pupuk kandang. Bagian atas galon dipotong hingga menyerupai pot, dan perawatannya pun disamakan seperti menanam padi di sawah sungguhan.
Dari situ, Suhantara mulai menanam bibit padi varietas Inpari-24 di galon-galon bekas tersebut. Ia menyiramnya dengan rutin dan ternyata bisa tumbuh dengan baik. Hasilnya, Suhantara mendapatkan sekitar 30-40 kilogram gabah kering giling dari 100 galon bekas air mineral. Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul kemudian melakukan pengubinan dan mendapatkan hasil bahwa setiap pot galon mampu menghasilkan sekitar 400 gram gabah kering giling.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Metode sawah rongsok ini berpotensi menjadi solusi bagi daerah yang memiliki keterbatasan lahan sawah dan sumber air. Gunungkidul merupakan wilayah yang didominasi bentang alam karst berbatu kapur, sehingga dikenal memiliki kondisi lahan yang cenderung kering. Dengan menggunakan galon bekas sebagai media tanam, masyarakat dapat melakukan pertanian dengan lebih efisien dan ramah lingkungan.
Selain itu, metode ini juga dapat membantu meningkatkan ketahanan pangan dalam keluarga. Dengan memanfaatkan lahan di sekitar rumah, masyarakat dapat melakukan pertanian dengan lebih praktis dan efektif. Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul juga menilai bahwa metode sawah rongsok ini dapat menjadi contoh bagi masyarakat luas bahwa pertanian dapat dilakukan dengan cara yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Meski telah mendapatkan sambutan positif, Suhantara masih harus terus berinovasi dan meningkatkan hasil panennya. Ia juga harus memastikan bahwa metode sawah rongsok ini dapat diadopsi oleh masyarakat luas dan menjadi solusi yang efektif bagi daerah-daerah yang memiliki keterbatasan lahan sawah dan sumber air. Dengan terus berinovasi dan meningkatkan hasil panennya, Suhantara berharap dapat membantu meningkatkan ketahanan pangan dalam keluarga dan menjadi contoh bagi masyarakat luas.
Sawah rongsok telah menjadi contoh bahwa pertanian dapat dilakukan dengan cara yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Dengan terus berinovasi dan meningkatkan hasil panennya, Suhantara berharap dapat membantu meningkatkan ketahanan pangan dalam keluarga dan menjadi contoh bagi masyarakat luas.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2026/07/12/bermula-dari-gabah-yang-tercecer-kakek-82-tahun-di-gunungkidul-ciptakan-sawah-rongsok-dari-galon-bekas, without altering the facts of the original article.