Berita Hari Ini – 03 Mei 2026 | Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menyoroti kesenjangan visi pembangunan nasional pada sambutan resmi dalam acara Pengukuhan Gelar Profesor Emeritus di Universitas Borobudur, Jakarta, 2 Mei 2026. Ia menegaskan bahwa China telah menyusun rencana pembangunan 200 tahun China yang terperinci, sementara Indonesia belum memiliki dokumen strategis jangka panjang yang serupa.
China dan Rencana Jangka Panjang
Menurut Megawati, pemerintah China sejak era reformasi telah menyiapkan skema pembangunan hingga dua abad ke depan, mencakup aspek ekonomi, teknologi, infrastruktur, serta ketahanan pangan dan energi. Rencana tersebut menjadi landasan kebijakan lima tahunan (Five‑Year Plans) yang terintegrasi dengan visi 2050 dan 2100, menjamin kontinuitas program meski terjadi pergantian kepemimpinan.
Megawati menambahkan bahwa dalam korespondensi pribadi dengan Presiden Xi Jinping, beliau menerima catatan bahwa setiap Kongres Partai Komunis China selalu mengacu pada proyeksi 100 tahun ke depan, dan kini fokusnya meluas menjadi 200 tahun.
Indonesia Masih Poco‑Poco
Berbeda dengan China, Megawati menilai Indonesia masih berada dalam fase “poco‑poco”. Ia mengkritik lambatnya proses legislasi, terutama revisi Undang‑Undang Pemilu yang telah terhenti di DPR dan dipertimbangkan untuk diambil alih oleh pemerintah. “Jika pembahasan RUU Pemilu diserahkan kepada pemerintah, itu menandakan negara kita masih bergerak seperti tarian poco‑poco—tidak maju, hanya berputar‑putar,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya agenda ketahanan pangan, energi, dan karakter bangsa yang belum mendapat perhatian serius dalam perencanaan jangka panjang. “Kita harus menyiapkan skenario 50, 100, bahkan 200 tahun ke depan, bukan hanya memikirkan hari ini,” kata Megawati.
Implikasi Politik dan Ekonomi
- Kepercayaan Investor: Tanpa rencana jangka panjang yang jelas, iklim investasi dapat menjadi tidak pasti, mengingat investor menilai stabilitas kebijakan.
- Persaingan Regional: Negara‑negara Asia yang telah mengadopsi visi jangka panjang, seperti Jepang dan Korea Selatan, kini berada pada posisi lebih kompetitif dibandingkan Indonesia.
- Ketahanan Nasional: Rencana jangka panjang membantu negara mengantisipasi perubahan iklim, krisis energi, dan dinamika demografis.
Megawati mengingatkan bahwa keberhasilan China dalam mengubah “tirai bambu” menjadi kekuatan ekonomi global bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari konsistensi dalam membangun karakter bangsa dan institusi yang kuat.
Langkah Konkret yang Diharapkan
Dalam pidatonya, Megawati mengusulkan tiga langkah utama bagi Indonesia:
- Menyusun dokumen strategi nasional jangka panjang (misalnya “Visi 2100 Indonesia”) yang melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk akademisi, dunia usaha, dan organisasi masyarakat sipil.
- Mengintegrasikan rencana jangka panjang dengan kebijakan tahunan, sehingga setiap program pembangunan memiliki tolok ukur yang selaras dengan tujuan besar.
- Mempercepat penyelesaian revisi undang‑undang penting, terutama UU Pemilu, untuk memastikan proses demokrasi berjalan lancar dan tidak menghambat agenda pembangunan.
Megawati menutup pidatonya dengan harapan agar Indonesia dapat belajar dari pengalaman China, namun tetap menyesuaikan dengan karakteristik dan nilai-nilai kebangsaan Indonesia.
Jika negara dapat mengadopsi pendekatan yang lebih visioner, Indonesia berpotensi meningkatkan daya saing, memperkuat ketahanan, dan mewujudkan kesejahteraan bagi generasi mendatang.