Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.400 per Dolar AS, Dipengaruhi Geopolitik dan Data Ekonomi Domestik
Berita Hari Ini – 05 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tekanan pada sesi perdagangan Senin (4/5/2026) dan Selasa (5/5/2026). Pada penutupan Senin, rupiah tercatat melemah 0,33 persen ke level Rp17.386 per dolar AS, sementara pada pembukaan Selasa mata uang Garuda melanjutkan tren penurunan hingga Rp17.405 per dolar AS. Kondisi ini menandai level terlemah dalam sejarah pasar spot, meskipun terdapat perbedaan kecil pada kurs Jisdor yang sempat menguat tipis.
Kondisi Nilai Tukar Hari Ini
Data RTI Infokom pukul 15.10 WIB menunjukkan rupiah berada di kisaran Rp17.303–Rp17.387 sepanjang hari Senin, sebelum mengakhiri sesi pada Rp17.386. Pada Selasa pagi, Bloomberg melaporkan rupiah berada di Rp17.405 pada pukul 09.05 WIB, naik 11 poin dari penutupan sebelumnya. Sementara itu, mata uang Asia lainnya mengalami pergerakan beragam: dolar Singapura melemah 0,17 persen, baht Thailand turun 0,43 persen, won Korea menguat 0,23 persen, dan yen Jepang naik 0,08 persen.
Faktor Penggerak Utama
Berbagai faktor eksternal dan internal berkontribusi pada pelemahan rupiah. Di tingkat internasional, konflik yang berkecamuk di Iran dan penutupan Selat Hormuz meningkatkan ekspektasi kenaikan harga minyak mentah. Ketegangan antara Ukraina dan Rusia juga menambah ketidakpastian pasokan energi, khususnya di wilayah Eropa Timur. Kedua isu geopolitik ini menekan pasar valuta asing, termasuk rupiah.
Di dalam negeri, data Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor manufaktur mencatat kontraksi di bawah level 50, menandakan penurunan aktivitas produksi. Kontraksi ini dipicu oleh kenaikan biaya energi serta impor barang-barang yang lebih mahal, yang pada gilirannya memperlemah daya beli konsumen. Meskipun neraca perdagangan masih mencatat surplus selama 19 bulan berturut‑turut, ekspor pada Maret 2026 turun 3,1 persen sementara impor naik 1,51 persen, menambah tekanan pada nilai tukar.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menegaskan bahwa “kenaikan harga minyak meningkatkan biaya impor, sehingga berdampak pada produksi manufaktur dan pada akhirnya melemahkan rupiah.” Sementara itu, Lukman Leong memprediksi pergerakan rupiah akan tetap berada dalam kisaran Rp17.350–Rp17.450 pada perdagangan hari ini, dengan potensi pelemahan terbatas menjelang rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I 2026.
Prediksi dan Outlook
Melihat data historis dan ekspektasi pasar, para analis memperkirakan rupiah akan berfluktuasi antara Rp17.390 hingga Rp17.440 per dolar AS pada perdagangan Selasa. Jika data PDB kuartal I menunjukkan pertumbuhan lebih kuat dari perkiraan, rupiah berpotensi menguat kembali. Sebaliknya, jika inflasi tetap tinggi dan harga minyak dunia terus naik, tekanan penurunan dapat berlanjut.
- Level penutupan Senin: Rp17.386 per dolar AS
- Level pembukaan Selasa: Rp17.405 per dolar AS
- Prediksi rentang hari Selasa: Rp17.390–Rp17.440 per dolar AS
- Indeks dolar AS (DXY) menguat 0,09% ke 98,25
Investor domestik dan asing kini menunggu data inflasi April 2026 yang diperkirakan melandai setelah periode Lebaran, serta angka PDB kuartal I yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) siang ini. Kedua indikator tersebut akan menjadi acuan utama dalam menilai kelangsungan pelemahan atau potensi pemulihan rupiah.
Secara keseluruhan, rupiah hari ini berada di bawah tekanan yang dipicu oleh kombinasi faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik dan internal seperti kontraksi PMI serta dinamika neraca perdagangan. Pergerakan nilai tukar ke depan sangat bergantung pada perkembangan harga minyak, data ekonomi makro, serta sentimen pasar global.