Berita Hari Ini – 05 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah kembali menorehkan catatan terlemah pada penutupan perdagangan awal pekan ini, mencatat penurunan 57 poin menjadi Rp17.394 per dolar Amerika Serikat. Lonjakan ini menandai langkah terakhir sebelum rupiah berpotensi tembus batas psikologis Rp17.500, level yang belum pernah tercapai dalam sejarah modern Indonesia.
Penurunan tajam tersebut dipicu oleh data Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor manufaktur yang berada di bawah ambang 50, mengindikasikan kontraksi aktivitas produksi. Bagi para pelaku pasar, angka PMI menjadi sinyal utama karena menyoroti beban biaya impor yang meningkat akibat kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini menekan profitabilitas perusahaan manufaktur dan menurunkan ekspektasi pertumbuhan ekonomi domestik.
Faktor-faktor yang Memicu Pelemahan
- Kontraksi PMI Manufaktur: Angka di bawah 50 mencerminkan penurunan permintaan internal dan tekanan biaya impor.
- Geopolitik Ukraina‑Rusia: Serangan drone yang menargetkan kilang minyak Rusia memicu lonjakan harga minyak mentah.
- Ketegangan Timur Tengah: Ketidakpastian di Selat Hormuz menambah tekanan pada pasokan minyak global.
- Kebijakan Federal Reserve (The Fed): Kemungkinan kenaikan suku bunga AS pada pertemuan Mei meningkatkan nilai dolar terhadap rupiah.
- Inflasi Global: Harga komoditas yang lebih tinggi menambah beban inflasi di Indonesia.
Ketegangan geopolitik menjadi pendorong utama dalam dinamika nilai tukar. Konflik antara Ukraina dan Rusia menyebabkan kebakaran di beberapa kilang minyak Rusia, yang selanjutnya mengangkat harga minyak mentah ke atas $100 per barel. Di samping itu, ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah, khususnya potensi konflik di Selat Hormuz, menambah kecemasan pasar global akan pasokan energi.
Dengan harga minyak yang tetap tinggi, Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan kebijakan pengetatan moneter, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan Mei. Penguatan dolar AS sebagai hasilnya memberi tekanan tambahan pada mata uang rupiah, yang secara historis bergerak berlawanan dengan nilai dolar.
Di sisi domestik, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus selama 19 bulan berturut‑turut, menunjukkan aliran devisa yang positif. Namun, catatan positif ini tidak cukup menenangkan pasar karena data PMI yang lemah menandakan risiko inflasi impor dan perlambatan produksi. Investor lebih menitikberatkan pada sinyal jangka pendek daripada tren jangka panjang neraca perdagangan.
Analisis para pakar pasar uang memperkirakan bahwa rupiah akan berfluktuasi dalam kisaran Rp17.390–Rp17.440 per dolar pada perdagangan Selasa. Namun, dengan tekanan eksternal yang terus intensif, skenario terburuk dapat mendorong nilai tukar menembus batas psikologis Rp17.500, menciptakan rekor terlemah baru dalam sejarah moneter Indonesia.
Bank Indonesia diperkirakan akan menyiapkan langkah-langkah intervensi, termasuk penjualan devisa dan kemungkinan penyesuaian suku bunga acuan, untuk menstabilkan pasar. Kebijakan ini akan berupaya menahan aliran modal keluar dan menurunkan volatilitas yang dihadapi oleh pelaku bisnis dan konsumen.
Secara keseluruhan, kombinasi antara kontraksi PMI, gejolak geopolitik, harga minyak yang tinggi, serta kebijakan moneter AS yang ketat menimbulkan tekanan signifikan pada rupiah. Jika faktor‑faktor tersebut tidak segera mereda, peluang besar bagi rupiah untuk menembus level Rp17.500 per dolar AS menjadi semakin nyata, menandai tantangan baru bagi stabilitas ekonomi Indonesia.