Momen Penentu di Menit Akhir
S.Th. mengungkap pengalaman yang disebutnya sebagai “neraka hidup” setelah ditangkap pasukan Israel ketika berusaha menyelamatkan diri dari gempuran perang melalui jalur yang diklaim sebagai koridor aman. Ia bersama ibu dan istrinya meninggalkan rumah mereka di Kota Gaza akibat pemboman yang terus berlangsung.
Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Istri S.Th. mengalami keguguran karena ketakutan yang luar biasa. Mereka memutuskan pergi demi menyelamatkan diri. Namun, saat tiba di pos pemeriksaan Netzarim, perjalanan mereka berubah menjadi mimpi buruk. S.Th. mengaku dipanggil seorang tentara Israel, dipisahkan dari keluarganya, lalu diperintahkan melepas seluruh pakaian sebelum tangan diikat dan dipaksa duduk di atas batu tajam selama tiga hari.
Apa Artinya Ini ke Depan?
S.Th. mengaku dituduh memiliki afiliasi politik tertentu. Ketika membantah tuduhan itu, ia kembali dibawa ke ruang penyiksaan. “Saya dipukul pada bagian tubuh yang paling sensitif. Bahkan saat hampir tertidur karena kelelahan, tentara terus membangunkan saya dengan suara palu yang menghantam lembaran logam,” tuturnya.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
S.Th. kemudian dibawa ke sebuah pusat interogasi yang diyakininya berada di wilayah Zikim. Di lokasi tersebut, menurut pengakuannya, para tahanan dipukuli menggunakan tongkat logam dan tongkat listrik, dipaksa berlutut selama lima hari, serta hanya diberi sepotong kecil roti setiap hari. Selain itu, para tahanan disebut hanya diizinkan menggunakan toilet sekali sehari dan tidak diperbolehkan tidur karena musik dengan suara keras diputar tanpa henti melalui pengeras suara. Kronologi kejadian ini menunjukkan bahwa penyiksaan di penjara Israel bukanlah hal yang baru. S.Th. adalah salah satu korban dari sistem yang telah disebut-sebut sebagai “penyiksaan sistematis” oleh organisasi hak asasi manusia. Mereka yang ditangkap dan dituduh memiliki afiliasi politik tertentu sering kali mengalami penyiksaan fisik dan psikologis. S.Th. mengatakan bahwa ia tidak pernah didakwa atau diadili, dan bahwa ia hanya diperlakukan sebagai “perisai manusia” oleh pasukan Israel. Penyiksaan ini bukan hanya perluasan dari konflik antara Israel dan Palestinians, tetapi juga merupakan contoh dari kejahatan perang yang dilakukan oleh negara-negara lain di seluruh dunia. S.Th. dan korban lainnya telah mengalami trauma yang parah dan membutuhkan perawatan mental yang intensif. Mereka juga membutuhkan keadilan yang sebenarnya, bukan hanya hukuman yang ringan atau pengampunan tanpa penjelasan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://aceh.tribunnews.com/news/1037455/warga-gaza-beberkan-penyiksaan-di-penjara-israel-dipukul-kelaparan-tak-boleh-tidur, without altering the facts of the original article.