BPOM dan Novo Nordisk mengingatkan bahaya obat obesitas instan, tegaskan risiko kesehatan serius bagi pengguna, menegaskan bahwa obesitas merupakan penyakit kronis yang penanganannya membutuhkan proses.
Kesadaran akan Obesitas sebagai Penyakit Kronis
Obesitas tidak dapat diatasi hanya dengan satu dosis obat atau diet cepat. Seorang Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Brawijaya, dr. Prinindita Artiara Dewi, B.MedSc, SpGK, menegaskan bahwa penurunan berat badan yang sehat memerlukan pendekatan holistik, bukan sekadar mengonsumsi produk obat yang belum teruji keamanannya. Ia menyoroti bahwa tubuh tetap membutuhkan berbagai zat gizi untuk berfungsi normal, sehingga pola makan ekstrem dapat menyebabkan kekurangan nutrisi.
Obat Obesitas Instan: Risiko Kesehatan yang Tidak Terbantahkan
BPOM menegaskan bahwa obat obesitas yang diklaim memberikan hasil instan seringkali mengandung bahan aktif yang belum terdaftar atau tidak teruji secara klinis. Penggunaan obat semacam itu dapat menimbulkan efek samping serius, mulai dari gangguan hati, hipertensi, hingga komplikasi kardiovaskular. Selain itu, beberapa produk yang beredar di pasar gelap berpotensi mengandung bahan kimia berbahaya, seperti steroid anabolik atau bahan pencemar lainnya, yang dapat memicu kerusakan organ dalam jangka panjang.
Di sisi lain, Novo Nordisk, perusahaan farmasi global, menegaskan bahwa terapi pengobatan obesitas harus didasarkan pada bukti klinis yang kuat dan disertai dengan pengawasan medis. Mereka menekankan pentingnya kombinasi pengobatan dengan perubahan gaya hidup, termasuk diet seimbang dan aktivitas fisik teratur. Menurut Novo Nordisk, obat-obatan seperti semaglutide, yang telah terbukti aman dan efektif dalam uji klinis, tetap memerlukan resep dokter dan pemantauan berkala.
Pola Makan Ekstrem: Salah Satu Kesalahan Utama dalam Menurunkan Berat Badan
Dr. Prinindita mengingatkan bahwa salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan adalah memangkas asupan makanan secara ekstrem. Pola tersebut meliputi makan hanya satu kali sehari atau menghilangkan kelompok makanan tertentu seperti karbohidrat. Ia menyatakan, âMisalnya satu kali makan sehari atau memilih-milih makanannya. Jadi tidak mau makan karbohidrat sama sekali, hanya makan protein saja misalnya contohnya seperti itu.â Praktik semacam ini dapat menurunkan metabolisme tubuh, menurunkan energi, serta mengakibatkan penurunan massa otot, bukan lemak.
Selain itu, pola makan ekstrem juga dapat memicu rasa lapar yang berlebihan, sehingga pada akhirnya individu cenderung kembali ke pola makan yang tidak sehat. Kondisi ini dapat memperburuk obesitas, membuat proses penurunan berat badan menjadi lebih sulit dan berisiko tinggi.
Bagaimana Cara Mengelola Obesitas dengan Aman?
Menurut BPOM, langkah pertama adalah konsultasi dengan tenaga medis profesional. Dokter atau ahli gizi dapat menilai kondisi kesehatan secara menyeluruh, termasuk faktor risiko kardiovaskular, diabetes, dan masalah metabolik lainnya. Setelah evaluasi, mereka dapat merancang program penurunan berat badan yang mencakup diet seimbang, program latihan, dan bila perlu, terapi obat yang terdaftar dan terbukti aman.
Dr. Prinindita menekankan pentingnya pola makan yang seimbang, dengan proporsi karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta serat dan vitamin. Ia juga menyoroti bahwa pengurangan kalori harus dilakukan secara bertahap, biasanya tidak lebih dari 500â750 kalori per hari dibandingkan kebutuhan harian. Dengan pendekatan ini, tubuh dapat menyesuaikan proses metabolisme tanpa menimbulkan ketidakseimbangan nutrisi.
Selain diet, aktivitas fisik menjadi kunci utama. Rutinitas olahraga minimal 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75 menit aktivitas intensitas tinggi, disertai latihan kekuatan dua kali seminggu, dapat mempercepat proses pembakaran lemak dan meningkatkan kesehatan jantung. Penting bagi individu obesitas untuk memulai dengan intensitas ringan dan menambah intensitas secara bertahap, sesuai dengan rekomendasi dokter.
Peran Regulator dan Industri Farmasi dalam Menjamin Keamanan Obat Obesitas
BPOM terus melakukan pengawasan ketat terhadap produk obat yang beredar di pasar. Mereka menolak pendaftaran obat-obatan yang tidak memenuhi standar keamanan dan efektivitas. Selain itu, BPOM juga melakukan kampanye edukasi kepada masyarakat tentang bahaya obat obesitas instan dan pentingnya membeli produk hanya dari apotek resmi.
Di sisi industri farmasi, Novo Nordisk berkomitmen untuk menyediakan produk yang aman dan teruji secara klinis. Mereka menekankan bahwa obat obesitas tidak boleh menjadi solusi tunggal tanpa perubahan gaya hidup. Perusahaan ini juga mendukung penelitian lanjutan untuk mengembangkan terapi baru yang lebih efektif dan aman bagi pasien obesitas.
Kesimpulan: Penanganan Obesitas Memerlukan Pendekatan Multidisipliner
BPOM dan Novo Nordisk bersama-sama mengingatkan bahwa obat obesitas instan menimbulkan risiko kesehatan serius. Penanganan obesitas harus melibatkan dokter, ahli gizi, dan pasien dalam kerangka kerja terpadu. Melalui kombinasi diet seimbang, aktivitas fisik teratur, dan terapi obat yang terdaftar, penurunan berat badan dapat dicapai secara aman dan berkelanjutan. Menghindari pola makan ekstrem dan produk obat yang belum teruji akan meminimalisir risiko komplikasi jangka panjang, sekaligus meningkatkan kualitas hidup bagi individu yang berjuang melawan obesitas.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://health.detik.com/diet/d-8624462/kelola-obesitas-tak-bisa-instan-bpom-novo-nordisk-ingatkan-bahaya-obat-abal-abal, without altering the facts of the original article.