Seorang pemuda di China mengadopsi metode tidak biasa untuk merespons orangtuanya yang sering memercayai mitos dan nasihat kuno. Ia memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau AI untuk menciptakan figur profesor palsu yang dapat memberikan pandangan yang lebih masuk akal. Profesor virtual ini dibuat dengan penampilan pria paruh baya yang memiliki pembawaan berwibawa dan dijadikan figur utama pada akun media sosial bernama Lao Zhao jiang dao li.
Bagaimana Profesor Virtual Ini Dibuat?
Pemuda tersebut menciptakan akun media sosial Lao Zhao jiang dao li, yang berarti Pak Zhao bicara masuk akal. Melalui platform media sosial tersebut, karakter Pak Zhao secara konsisten mengunggah artikel dan video yang membahas edukasi seputar mitos, takhayul, hingga dinamika hubungan antara orangtua dan anak. Tema-tema yang diproduksi sangat erat dengan problematika generasi muda saat ini, seperti tekanan pernikahan dari keluarga hingga penentuan jalur karier yang didikte oleh orangtua.
Profesor virtual ini diklaim sebagai pensiunan profesor dari Chongqing yang sudah meneliti hubungan orangtua dan anak selama lebih dari 30 tahun. Rekayasa latar belakangnya juga mencakup riwayat pendidikan di Singapura dan kepemilikan berbagai publikasi ilmiah. Namun, fakta sebenarnya, seluruh informasi identitas tersebut murni fiktif dan hanya hasil rekaan program komputer.
Mengapa Profesor Virtual Ini Diciptakan?
Pemuda tersebut mengaku sering menerima kiriman artikel berisi pandangan kolot yang sudah tidak relevan dengan kondisi zaman sekarang. Di China, konten penggiringan opini yang menggurui dan tidak realistis seperti itu populer dengan istilah toxic chicken soup. Contoh pandangan lama tersebut adalah tuntutan agar anak cepat menikah atau anggapan bahwa profesi tertentu lebih menjanjikan kesuksesan.
Karena lelah berdebat secara langsung, pemuda ini memilih menyalurkan pesannya lewat figur Pak Zhao yang dinilai lebih persuasif bagi orangtua. Ia berharap bahwa dengan menggunakan profesor virtual ini, orangtua dapat lebih terbuka terhadap pandangan yang lebih masuk akal dan tidak terlalu mempercayai mitos dan nasihat kuno.
Apa Dampaknya?
Profesor virtual ini telah sukses membuat sosok Pak Zhao tampak meyakinkan di mata orangtua maupun pengguna media sosial lainnya. Kredibilitas profesor virtual ini semakin diperkuat oleh aksi kolektif para pengguna internet lainnya yang ikut bersandiwara di kolom komentar. Beberapa warganet berpura-pura mengaku pernah menghadiri seminar Pak Zhao di luar negeri, sementara yang lain memberikan testimoni palsu mengenai hubungan keluarga mereka yang membaik setelah mendengar nasihat sang profesor.
Namun, perlu diingat bahwa penggunaan AI untuk menciptakan profesor virtual ini juga memiliki risiko. Jika tidak diimbangi dengan edukasi yang tepat, maka penggunaan teknologi ini dapat memperparah masalah yang ada. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi yang lebih lanjut mengenai dampak penggunaan teknologi ini dalam masyarakat.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Kasus ini menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya berpikir kritis dan tidak mempercayai mitos dan nasihat kuno. Dengan menggunakan teknologi AI, kita dapat menciptakan solusi yang lebih efektif untuk mengatasi masalah ini. Namun, kita juga harus memastikan bahwa penggunaan teknologi ini tidak memperparah masalah yang ada, melainkan membantu menciptakan masyarakat yang lebih kritis dan terbuka.