**Arifin Pantau Pertumbuhan Melon Lewat Gawai, Inovasi Pertanian Modern Anak Petani** **Momen Penentu di Menit Akhir** Arifin, seorang laki-laki berusia 25 tahun asal Desa Bandungrejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, telah menciptakan teknologi pertanian modern yang memungkinkan pertumbuhan tanaman melon dapat dipantau melalui aplikasi gawai. Arifin, yang merupakan sarjana teknik elektro, mengikuti jejak ayahnya menjadi petani dengan menerapkan pengetahuan yang dimiliki. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Arifin menciptakan aplikasi yang diberi nama Ar Farm, yang dapat memantau kebutuhan nutrisi tanaman, kelembapan media tanam, dan suhu udara yang dibutuhkan tanaman. Aplikasi tersebut dapat dipantau selama 24 jam melalui layar gawai yang didukung internet. “Fungsinya untuk mempermudah kita merawat saja, jadi kita bisa memonitoring melalui handphone, terus kadar kelembaban pada polybag juga bisa monitoring, terus kadar nutrisi,” kata Arifin di greenhouse miliknya. “Ini grafiknya ada, kelembapan tanah, suhu ada semua, jadi kita tidak usah khawatir tanaman kurang apa, kurang apa,” sambung dia, sembari menunjukkan fitur aplikasi di gawai. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Pemanfaatan teknologi tersebut kini telah diujicoba pada tanaman melon dengan sistem tanam polybag dan hidroponik dengan media air. Arifin menjelaskan bahwa pada tanaman melon, polybag menggunakan media kokofit atau limbah kulit kelapa dilengkapi sistem drip tetes, sedangkan hidroponik menggunakan media air. Sistem tersebut mengalirkan air atau nutrisi ke polybag secara otomatis melalui mesin kontrol. “Dari kedua sistem ini dia tidak memakai tanah sebagai menanamnya, yang drip tetes kita menggunakan kokofit yang hidroponik kita full media air,” jelasnya. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Teknologi pertanian modern tersebut telah diujicoba pada bangunan greenhouse sepanjang 21 meter dan lebar 7,5 meter yang berisi 150 tanaman melon dengan sistem polybag dan hidroponik dengan kapasitas 400 pohon. Arifin mengucap syukur karena hasil jerih payahnya membuahkan hasil dan kini tinggal menunggu hari untuk panen. “Uji coba ini 80 persen berhasil, hasilnya cukup memuaskan, cuma ada beberapa tanaman aja yang terkena penyakit. Alhamdulillah berbuah mungkin 2 Minggu lagi bisa panen untuk sistem drip tetes,” katanya. Arifin mengungkapkan bahwa pembuatan teknologi pertanian modern tersebut telah ia rintis dalam setahun terakhir dan baru memulai uji coba tanaman melon dalam 3 bulan. “Kalau pembuatannya sudah satu tahun kalau menanamnya baru satu musim ini saja, karena pembuatannya cukup menghabiskan uang yang banyak kalau di ranah kantong pribadi atau mahasiswa,” ungkapnya. Dari awal riset hingga pembuatan aplikasi dan pembibitan melon Arifin telah menghabiskan kurang lebih Rp 80 juta. Bagi dia, anggaran yang telah dikeluarkan tersebut sepadan dengan pengetahuan dan terobosan baru di bidang pertanian. Namun ia tak menampik terdapat tanaman yang juga terserang penyakit selama uji coba dari pembibitan hingga melon siap panen. Arifin yang kini konsen di bidang pertanian berencana menerapkan teknologi yang sedang dalam tahap uji coba tersebut untuk menanam melon yang lebih banyak lagi di lahan ayahnya. Meskipun belum dianggap berhasil 100 persen, saat ini apa yang tengah dirintis Arifin dijadikan objek penelitian tugas akhir mahasiswa. Dengan demikian, Arifin berharap dapat meningkatkan hasil panen dan mengembangkan teknologi pertanian modern yang lebih baik dalam waktu dekat.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://banjarmasin.tribunnews.com/news/1370052/inovasi-pertanian-modern-anak-petaniarifin-pantau-pertumbuhan-melon-lewat-gawai, without altering the facts of the original article.