Art de Vivre vs Lagom: Rahasia Kebahagiaan ala Prancis dan Swedia
Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, semakin banyak orang mencari cara untuk menjalani hidup yang lebih bermakna, seimbang, dan bahagia. Berbagai filosofi hidup dari berbagai negara pun mulai menarik perhatian, termasuk Art de Vivre dari Prancis dan Lagom dari Swedia. Keduanya menawarkan pandangan unik tentang bagaimana menikmati kehidupan tanpa harus terjebak dalam tekanan material maupun kesibukan yang berlebihan.
Meski berasal dari budaya yang berbeda, Art de Vivre dan Lagom sama-sama mengajarkan pentingnya menghargai setiap momen, menjaga keseimbangan, serta menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana. Artikel ini akan membahas perbedaan, persamaan, hingga cara menerapkan kedua filosofi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Apa Itu Art de Vivre?
Secara harfiah, Art de Vivre berarti “seni menjalani hidup.” Filosofi ini telah menjadi bagian dari budaya Prancis selama berabad-abad dan mencerminkan cara masyarakat menikmati kehidupan dengan penuh kesadaran.
Art de Vivre bukan tentang hidup mewah atau menghabiskan banyak uang. Sebaliknya, filosofi ini mengajarkan bahwa kebahagiaan dapat ditemukan melalui pengalaman sehari-hari, seperti menikmati secangkir kopi di pagi hari, makan bersama keluarga, membaca buku di taman, atau mengobrol santai dengan teman.
Dalam budaya Prancis, kualitas hidup lebih penting daripada sekadar produktivitas. Mereka percaya bahwa hidup seharusnya dinikmati, bukan hanya dijalani.
Apa Itu Lagom?
Sementara itu, Lagom merupakan filosofi hidup khas Swedia yang berarti “secukupnya” atau “tidak berlebihan.”
Lagom mengajarkan keseimbangan dalam segala aspek kehidupan, mulai dari pekerjaan, konsumsi, hubungan sosial, hingga penggunaan sumber daya.
Bagi masyarakat Swedia, kebahagiaan bukan berasal dari memiliki sesuatu yang paling banyak, melainkan memiliki apa yang benar-benar dibutuhkan.
Prinsip ini membuat Lagom identik dengan gaya hidup sederhana, ramah lingkungan, hemat, serta penuh kesadaran dalam mengambil keputusan.
Perbedaan Art de Vivre dan Lagom
Walaupun sama-sama bertujuan meningkatkan kualitas hidup, kedua filosofi ini memiliki pendekatan yang berbeda.
Art de Vivre Menekankan Kenikmatan Hidup
Prinsip utama Art de Vivre adalah menikmati setiap pengalaman.
Mulai dari menikmati makanan berkualitas, menghargai seni, hingga meluangkan waktu untuk beristirahat, semuanya dianggap sebagai bagian penting dari kehidupan.
Masyarakat Prancis percaya bahwa hidup yang baik adalah hidup yang penuh pengalaman bermakna.
Lagom Berfokus pada Keseimbangan
Lagom lebih menekankan pentingnya hidup dalam batas yang wajar.
Tidak bekerja terlalu keras.
Tidak membeli barang secara berlebihan.
Tidak makan secara berlebihan.
Tidak menghabiskan energi untuk hal-hal yang tidak perlu.
Dengan menjaga keseimbangan, seseorang dipercaya akan memiliki hidup yang lebih tenang dan sehat.
Persamaan Kedua Filosofi
Meski berbeda pendekatan, Art de Vivre dan Lagom memiliki sejumlah nilai yang sama.
Mengutamakan Kualitas
Baik masyarakat Prancis maupun Swedia lebih memilih kualitas dibanding kuantitas.
Mereka tidak harus memiliki banyak barang, tetapi lebih menghargai barang yang awet, nyaman, dan benar-benar digunakan.
Menikmati Momen
Kedua filosofi sama-sama mengajarkan pentingnya hidup pada saat ini.
Tidak terlalu memikirkan masa lalu maupun terlalu cemas terhadap masa depan.
Hubungan Sosial yang Sehat
Kebersamaan dengan keluarga maupun sahabat dianggap sebagai salah satu sumber kebahagiaan terbesar.
Karena itu, waktu untuk berkumpul selalu menjadi prioritas.
Mengapa Filosofi Ini Semakin Populer?
Di era digital, banyak orang mengalami stres akibat tekanan pekerjaan, media sosial, hingga gaya hidup konsumtif.
Art de Vivre maupun Lagom menawarkan solusi sederhana melalui perubahan cara pandang terhadap kehidupan.
Alih-alih mengejar kesempurnaan, kedua filosofi mengajak kita menikmati proses kehidupan dengan lebih santai.
Inilah alasan mengapa konsep tersebut semakin banyak diterapkan di berbagai negara.
Cara Menerapkan Art de Vivre
Berikut beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan.
Nikmati Waktu Makan
Hindari makan sambil bekerja atau bermain ponsel.
Luangkan waktu menikmati setiap hidangan dengan tenang.
Berikan Waktu untuk Diri Sendiri
Sisihkan waktu membaca buku, berjalan santai, atau menikmati secangkir teh tanpa gangguan.
Apresiasi Hal-Hal Kecil
Matahari pagi, udara segar, bunga yang bermekaran, atau musik favorit bisa menjadi sumber kebahagiaan sederhana.
Kurangi Terburu-Buru
Tidak semua aktivitas harus dilakukan dengan cepat.
Belajarlah menikmati proses.
Cara Menerapkan Lagom
Lagom juga dapat diterapkan melalui kebiasaan sederhana.
Belanja Sesuai Kebutuhan
Sebelum membeli sesuatu, tanyakan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan.
Seimbangkan Waktu Kerja
Bekerja keras memang penting, tetapi waktu istirahat juga memiliki nilai yang sama.
Hemat Energi
Gunakan listrik dan air secara bijak sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Hidup Lebih Minimalis
Kurangi barang yang tidak digunakan agar rumah menjadi lebih rapi dan pikiran lebih tenang.
Dampak Positif terhadap Kesehatan Mental
Banyak penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup yang lebih seimbang dapat membantu menurunkan tingkat stres.
Art de Vivre mengurangi tekanan dengan mengajarkan seseorang menikmati hidup.
Lagom membantu menghindari kelelahan akibat gaya hidup yang berlebihan.
Keduanya sama-sama berkontribusi terhadap kesehatan mental yang lebih baik.
Pengaruh terhadap Kehidupan Modern
Banyak perusahaan mulai mengadopsi prinsip-prinsip yang sejalan dengan kedua filosofi tersebut.
Beberapa di antaranya menerapkan:
- Jam kerja yang lebih fleksibel.
- Work-life balance.
- Ruang kerja yang nyaman.
- Program kesehatan mental.
- Budaya kerja yang lebih manusiawi.
Di sisi lain, masyarakat juga mulai beralih ke gaya hidup minimalis, mengurangi konsumsi berlebihan, serta lebih menghargai waktu bersama keluarga.
Mana yang Lebih Cocok?
Tidak ada jawaban yang mutlak.
Jika Anda menyukai seni, kuliner, budaya, dan menikmati setiap pengalaman hidup, maka Art de Vivre mungkin lebih sesuai.
Namun apabila Anda lebih menyukai hidup sederhana, teratur, dan efisien, maka Lagom bisa menjadi pilihan.
Bahkan, keduanya dapat dikombinasikan.
Anda bisa menikmati hidup seperti masyarakat Prancis sekaligus menjaga keseimbangan ala masyarakat Swedia.
Tips Menggabungkan Art de Vivre dan Lagom
Agar mendapatkan manfaat maksimal, berikut beberapa langkah praktis:
- Nikmati makanan berkualitas tanpa berlebihan.
- Luangkan waktu untuk keluarga setiap hari.
- Kurangi penggunaan media sosial.
- Fokus pada pengalaman dibanding kepemilikan barang.
- Pilih barang yang berkualitas dan tahan lama.
- Atur waktu kerja serta waktu istirahat secara seimbang.
- Sisihkan waktu untuk hobi yang disukai.
- Syukuri hal-hal kecil yang terjadi setiap hari.
Mengapa Filosofi Ini Relevan di Indonesia?
Masyarakat Indonesia juga memiliki nilai-nilai yang selaras dengan Art de Vivre dan Lagom, seperti gotong royong, kebersamaan keluarga, serta budaya menikmati waktu bersama saat makan atau berkumpul.
Di tengah meningkatnya tekanan hidup di perkotaan, kedua filosofi ini dapat menjadi inspirasi untuk menjalani hidup yang lebih sederhana namun tetap berkualitas. Dengan mengurangi kebiasaan konsumtif, mengelola waktu secara bijak, dan menghargai setiap momen, siapa pun dapat merasakan kehidupan yang lebih tenang dan bermakna.
Kesimpulan
Art de Vivre dari Prancis dan Lagom dari Swedia menawarkan dua pendekatan berbeda menuju kebahagiaan. Art de Vivre mengajarkan seni menikmati hidup melalui pengalaman yang bermakna, sedangkan Lagom menekankan pentingnya keseimbangan dan kesederhanaan dalam setiap aspek kehidupan.
Di era modern yang penuh tekanan, kedua filosofi tersebut menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari kekayaan atau kesibukan. Sebaliknya, kebahagiaan dapat ditemukan melalui keseimbangan, rasa syukur, hubungan yang hangat, serta kemampuan menikmati setiap momen dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menerapkan nilai-nilai Art de Vivre dan Lagom, kita dapat membangun gaya hidup yang lebih sehat, tenang, dan berkelanjutan untuk jangka panjang.
penulis lintang